Takdir: antara Ikhtiar, Doa, dan Tawakal

“Kalau semuanya sudah ditentukan, untuk apa kita masih harus berusaha?”

 “Kalau rezeki sudah ditetapkan, mengapa aku masih harus bekerja?”

 “Kalau jodoh sudah ditentukan, mengapa aku masih harus mencari?”

“Kalau berhasil atau gagalnya seseorang sudah ditakdirkan, untuk apa aku belajar, berdoa, dan berusaha?”

Coba kita jujur sebentar. Pernah tidak pertanyaan seperti ini muncul di pikiran kita?

Barangkali di situlah kesalahpahaman kita tentang takdir bermula. Kita sering membayangkan takdir seperti sebuah naskah yang sudah selesai ditulis, sementara manusia hanya menjalankan adegan di dalamnya tanpa memiliki pilihan apa pun. Kalau memang seperti itu, usaha terasa tidak berarti. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan takdir?

  1. Takdir dan batas pengetahuan manusia

Dalam Syarḥ al-‘Aqīdah al-Ṭaḥāwiyyah, Ibn Abi al-‘Izz menjelaskan bahwa qadar berkaitan dengan pengetahuan Allah terhadap segala sesuatu sebelum terjadi, sekaligus penetapan kadar dan keadaan makhluk-Nya. Tidak ada sesuatu apapun dalam kehidupan yang luput dari pengetahuan Allah. Namun, ada satu hal yang perlu kita pahami; pengetahuan Allah tidak sama dengan pengetahuan manusia.

Untuk mempermudah membayangkannya, kita bisa menggunakan analogi tentang “dimensi pengetahuan”. Allah mengetahui keseluruhan perjalanan kehidupan—masa lalu, masa kini, dan masa depan—sementara kita hanya mengetahui bagian yang sedang terbuka di hadapan kita dan apa yang telah kita alami. Tentu, ini bukan berarti Allah berada dalam “dimensi fisik” tertentu sementara manusia berada di dimensi lain. Ini hanya cara sederhana untuk menggambarkan betapa jauh perbedaan antara pengetahuan Allah yang sempurna dan pengetahuan kita yang terbatas.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Kita tidak tahu apakah usaha hari ini akan membuahkan keberhasilan atau justru membawa kita ke jalan yang berbeda. Bahkan terkadang, kita sendiri tidak memahami mengapa suatu kejadian harus terjadi dalam hidup kita, tetapi Allah mengetahuinya. Lalu akan muncul pertanyaan yang lebih sulit:

“Kalau Allah sudah tahu apa yang akan aku pilih, apakah aku sebenarnya masih punya pilihan?”

Pengetahuan Allah tentang pilihan kita, tidak berarti Allah memaksa kita untuk memilihnya. Kita tetap berniat, mengambil keputusan, dan bertindak dengan kemampuan yang Allah berikan. Karena itu, kita juga bertanggung jawab atas pilihan kita. Mungkin inilah cara sederhana untuk memahami posisi kita terhadap takdir; bahwa takdir adalah sesuatu

yang kita imani sebelum terjadi, tetapi baru kita pahami sebagai kenyataan setelah terjadi. Kita tidak diberi akses untuk membaca seluruh halaman kehidupan sebelum menjalaninya. Dan justru karena kita tidak mengetahuinya, kita harus menjalani hidup dengan ikhtiar.

  • Takdir tidak menghapus sebab dan akibat

Sekarang coba bayangkan seseorang sedang lapar. Apakah ia cukup dengan berkata, “Kalau Allah sudah menentukan aku kenyang, nanti aku juga akan kenyang”, lalu tidak makan? Tentu tidak.

Kalau lapar, kita makan. Kalau haus, kita minum. Kalau ingin mendapatkan ilmu, kita belajar. Kalau sakit, kita berobat dan mencari pertolongan. Sederhana, bukan? Karena kita hidup dengan mengambil sebab-sebab yang tersedia. Dan itu sama sekali tidak bertentangan dengan tawakal.

Imam al-Ghazali, dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn; menjelaskan bahwa orang yang bertawakal tetap dapat mengambil sebab, tetapi hatinya tidak menggantungkan hasil kepada sebab tersebut. Sebab hanyalah jalan, dan Allah-lah yang menjadikan sebab-sebab itu bekerja. Jadi, masalahnya bukan pada usaha, melainkan ketika kita menganggap usaha itu berdiri sendiri dan melupakan Allah.

Sebaliknya, ada pula kesalahan lain; menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan usaha.

“Aku memang ditakdirkan gagal.”

“Kalau rezeki aku ada, nanti juga datang.”

 “Kalau memang jodoh, pasti ketemu sendiri.”

Kalimat-kalimat tersebut terdengar seperti tawakal, padahal bisa jadi hanya cara halus untuk menyerah sebelum mencoba.

Kita memang tidak mengetahui hasil yang Allah tetapkan. Tetapi kita bisa mengetahui sebagian sebab yang berada dalam jangkauan kita. Kita tidak bisa memastikan akan diterima di suatu tempat, tetapi kita bisa mempersiapkan diri. Kita tidak bisa memastikan siapa yang akan menjadi pasangan kita, tetapi kita bisa memperbaiki diri, mencari dan mengusahakan dengan cara yang baik. Kita tidak bisa memastikan berapa banyak rezeki yang akan kita terima, tetapi kita bisa bekerja, belajar, mengambil kesempatan, dan berdoa. Tidak mengetahui hasil bukan alasan untuk meninggalkan sebab. Justru karena kita tidak mengetahui hasil, harusnya kita mengambil sebab terbaik yang mampu kita tempuh.

  • Antara ikhtiar, doa, dan tawakal

Menariknya, Nabi Muhammad ﷺ tidak mengajarkan sikap pasif ketika berbicara tentang takdir.

Dalam hadis riwayat Muslim, beliau mengajarkan agar seorang mukmin bersungguh-sungguh mengejar apa yang bermanfaat baginya, meminta pertolongan kepada Allah, dan tidak menjadi lemah. Setelah sesuatu terjadi, ia menerima bahwa Allah telah menetapkannya dan tidak larut dalam penyesalan “seandainya”. (Sahih Muslim 2664)

Kalau kita perhatikan, urutannya jelas:

Berusaha sekuat tenaga > Meminta pertolongan Allah > Tidak menyerah > Kemudian menerima hasil yang terjadi.

Karena tawakal bukan lawan dari ikhtiar. Justru tawakal mengarah kepada ikhtiar, agar hati kita tidak menggantungkan diri kepada usaha kita sendiri. Kita berusaha sebaik mungkin, tetapi tidak boleh menjadikan hasil sebagai sesuatu yang harus tunduk kepada keinginan kita. Sebab hasil tidak sepenuhnya berada di tangan kita, dan di situlah doa menjadi penting.

Berdoa bukan sekadar meminta agar Allah memberikan apa yang kita inginkan. Doa juga merupakan pengakuan bahwa kemampuan kita terbatas. Kita berusaha dengan tangan kita, tetapi tetap membutuhkan pertolongan Allah. Kalau ada sesuatu yang kita inginkan, mintalah pada-Nya. Kalau ada jalan yang ingin kita tempuh, mohonlah agar Allah membukanya. Kalau ada sesuatu yang kita perjuangkan, rayulah Allah dengan doa yang sungguh-sungguh. Namun, bersamaan dengan itu, berikan ruang bagi hati untuk menerima jika hasil akhirnya tidak seperti yang kita bayangkan. Sebab kita hanya melihat satu bagian kecil dari kehidupan, sedangkan Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

  • Keyakinan kepada Allah seharusnya melahirkan amal

Ada satu gambaran yang sangat kuat dari kehidupan Nabi Muhammad ﷺ.

Dalam hadis riwayat al-Bukhari, diceritakan bahwa beliau melakukan salat malam hingga kedua kakinya membengkak. Ketika ditanya mengapa beliau masih melakukannya, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosanya, beliau menjawab dengan makna: “Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” (Sahih al-Bukhari 1130)

Mari kita renungkan.

Keyakinan beliau kepada Allah tidak membuat beliau berhenti beramal, justru keyakinan itulah yang melahirkan amal.

Maka ketika seseorang berkata, “Kalau semuanya sudah ditakdirkan, untuk apa aku berusaha?”, mungkin pertanyaannya perlu kita balik: “Kalau Allah memang telah menetapkan segala sesuatu, apakah berarti manusia diperintahkan untuk diam?”

Tentu tidak.

Ilmu diperoleh melalui belajar. Rezeki ditempuh melalui usaha. Kesembuhan dicari melalui pengobatan. Dan doa sendiri merupakan bagian dari ikhtiar seorang hamba. Kita memang tidak mengetahui bagaimana akhir sebuah perjalanan. Tetapi kita tetap diminta berjalan.

Mungkin kegelisahan kita terhadap takdir muncul karena kita ingin mengetahui akhir sebelum memulai.

“Kalau aku belajar keras, apakah aku pasti berhasil?”

“Kalau aku berusaha, apakah aku pasti mendapatkan apa yang aku inginkan?”

“Kalau aku terus berdoa, apakah Allah pasti memberikan persis seperti yang aku minta?” Jawabannya tidak selalu bisa kita ketahui, dan mungkin memang bukan itu yang harus kita ketahui. Tugas kita adalah memilih, berusaha, berdoa, memperbaiki kesalahan, dan mengambil sebab-sebab yang baik. Lalu setelahnya, ada wilayah yang harus kita serahkan kepada Allah.

Kita boleh memiliki target dan berharap setinggi mungkin. Kita boleh bekerja keras dan meminta kepada Allah dengan penuh keyakinan. Tetapi jangan sampai keinginan terhadap hasil membuat kita lupa bahwa kita hanyalah manusia yang tidak mengetahui seluruh perjalanan. Bisa jadi sesuatu yang kita anggap sebagai kegagalan justru menjadi sebab bagi sesuatu yang belum kita pahami. Bisa jadi jalan yang kita kira tertutup ternyata mengarahkan kita ke jalan lain. Dan bisa jadi sesuatu yang sangat kita inginkan memang tidak diberikan kepada kita.

Bukan berarti usaha kita sia-sia. Kita hanya tidak pernah memiliki kendali penuh atas hasilnya.

Pada akhirnya, kita kembali kepada pertanyaan di awal.“Kalau semuanya sudah ditentukan, untuk apa kita masih berusaha?” Karena kita tidak pernah mengetahui apa yang telah ditentukan untuk kita.

Kita tidak tahu apakah usaha hari ini akan membawa kita kepada keberhasilan atau kegagalan. Kita tidak tahu siapa yang akan kita temui, kesempatan apa yang akan datang, atau jalan mana yang akhirnya terbuka. Yang kita tahu hanyalah apa yang berada di hadapan kita sekarang.

  Maka kerjakan bagian kita. Belajar ketika harus belajar. Bekerja ketika harus bekerja. Mencari ketika harus mencari. Berdoa ketika kita tidak tahu lagi harus bagaimana. Perbaiki diri ketika menyadari kesalahan. Dan ketika semua yang mampu kita lakukan telah dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah.

Bukan karena kita tahu, bahwa hasilnya pasti sesuai dengan keinginan kita. Tetapi karena kita percaya, bahwa Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk ingin mengetahui bagaimana cerita kita akan berakhir, sampai lupa menjalani halaman yang sedang terbuka di hadapan kita. Padahal kita tidak pernah diminta membaca seluruh cerita sebelum menjalaninya. Kita hanya diminta menjalani halaman yang sedang kita baca dengan sebaik-baiknya.

Tugas kita bukan mengetahui takdir, melainkan menjalani ikhtiar. Maka berjalanlah. Ambil sebabnya. Berdoalah. Rayu Allah. Lalu percayakan kepada-Nya apa yang berada di luar kuasa kita.

Sebab mungkin kita memang tidak pernah diberi tahu bagaimana cerita ini akan berakhir. Tetapi ingatlah, bahwa kita selalu diberi kesempatan untuk memilih bagaimana seharusnya kita menjalani halaman yang sedang kita baca.

Referensi:

Al-Bukhārī, Muḥammad ibn Ismā‘īl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dār Ṭawq al-Najāh, 1422 H. Al-Ghazālī, Abū Ḥāmid Muḥammad ibn Muḥammad. Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn. Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.

Ibn Abī al-‘Izz, ‘Alī ibn ‘Alī ibn Muḥammad al-Dimashqī. Syarḥ al-‘Aqīdah al-Ṭaḥāwiyyah. Beirut: Mu’assasah al-Risālah, 1997.

Muslim ibn al-Ḥajjāj al-Naysābūrī. Ṣaḥīḥ Muslim. Taḥqīq Muḥammad Fu’ād ‘Abd al-Bāqī. Kairo: ‘Īsā al-Bābī al-Ḥalabī wa Syurakāh, 1955.

Ikuti kegiatan kami lewat instagram, @ppimaroko

Simak artikel terbaru kami,

Tag Post :
Minggu-an Menulis

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *