“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu beberapa derajat.
Barang siapa yang melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu,
Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.
Jangan malu dan takut dengan tubuh fisikmu yang mungkin mungil,
Belajarlah! Ilmu akan membuatmu besar dengan caranya”

Tidak usah diragukan, sebagaimana biasanya kita meragukan perasaan orang lain terhadap diri kita. Atau sebagaimana ragunya dedaunan yang gugur tertiup angin, kemanakah dia akan hinggap. Layaknya keraguan bumi pada langit, akankah ia dapat membentang kokoh selamanya di atas sana tanpa tiang penopang. Ilmu tidak demikian.
Allah, sang maha kuasa atas segalanya. Menjanjikan kemulian dunia dan akhirat pada mereka yang menuntutnya. Rasulullah, yang meski sangat dibenci oleh para musuh Allah, kalamnya masih sangat mereka percayai. Beliau mengatakan :
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
yang kurang lebih terjemahnya demikian. “Jika engkau menginginkan dunia, maka raihlah dengan ilmu, jika engkau ingin akhirat raihlah dengan ilmu, jika engkau menginginkan keduanya raihlah keduanya dengan ilmu”
Kemulian yang hanya bisa dicapai melalui gelar nasab, warisan harta, keelokan paras dan lain sebagainya, itu bisa dicapai dengan ilmu. Sebuah Riwayat mengatakan ulama adalah pewaris para nabi.
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحظٍّ وَافِرٍ
Artinya:
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Apakah itu berarti para ulama memiliki ikatan darah dengan para anbiya?
Bisa saja. Tapi, tentu tidak semuanya.
Guru-guru yang mengajar kita di kelas, yang parasnya sangat Indonesia, kalamnya sangat mencerminkan daerah mana mereka berasal, tawanya seolah memancarkan sinar kebahagian yang tanpa habis itu, apakah dia juga ‘pasti’ keturunan anbiya?. Tentu tidak.
Namun mereka bisa menjadi pewaris nabi melalui jalur apa?. Maka jawabannya adalah jalur ilmu. Mereka mendobrak batasan ‘nasab’ biologis yang telah manusia tetapkan dengan ilmu dan janji dari Sang Khalik melalui bimbingan spiritual Sang Khatamul Anbiya wal Mursalin yang disebarkan secara mutawatir oleh para generasi pewaris awal hingga akhir, seperti halnya sampai pada saya, padamu yang membaca tulisan ini, dan juga pada setiap ruh yang bernafas berkat Rahmat dan Rahim dari sang Pemurah.
Rasanya sudah cukup bukti termaktub dalam tulisan rapuh nan penuh kekeliruan ini yang membahas akan mulianya ilmu serta bagaimana ilmu akan membuat seseorang menjadi ‘seseorang’ yang lebih dan lebih.
Namun, pada renungan penulis muda yang jarak pandang hidupnya masih kecil ini memikirkan demikian.
“Apakah tujuan ilmu hanya sekedar mengangkat derajat manusiawi?” Tentu tidak!
Janji Tuhan dan rasul-Nya tidak akan sekecil dunia saja, janji Tuhan pasti bukan hanya sekedar singgasana duniawi yang dapat hancur dimakan waktu, terbakar dimakan api, hilang dimakan hati yang hasad dan pergi termakan hukum duniawi. Tidak mungkin janji sang manusia paling Istimewa hanya sekedar janji duniawi yang nikmatnya bisa terhentikan waktu dan ajal.
Rasanya hati ini gundah gulana, apakah tujuan ilmu hanya sekedar menyandarkan pundak pada sandaran duniawi yang tidak kekal?, hingga terlewat kalam sang penyair dan penyebar ajaran islam dari tanah Sumatera bernama Abdul Somad. Beliau mengatakan :
“Banyaknya ilmu itu bukan hanya orang yang mengatakan aku meriwayatkan ini dari si ini dan si itu, aku meriwayatkan anu dari si fulan dan si fulan. Tapi orang yang betul-betul tertanam ilmu masuk kedalam akar hatinya, akan datang ketakutan pada Rabbnya”.
“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama”
Yang tuhan maksud dengan kata ‘ulama’ apakah hanya para penceramah dan dai yang selalu kita saksikan kehebatan kalamnya di mimbar? Tentu tidak. Karena yang dimaksud ‘ulama’ disini adalah orang-orang yang berilmu, dan dengan ilmu itu membawa hatinya untuk mendekat pada Rabb-nya dan menundukkan ego pada Sang Penguasa mutlak alam semesta.
Pencari ilmu yang semestinya untuk mencari ridho Allah, tapi justru digunakan untuk mendebat ulama, menyalahkan orang lain, membodohi orang lain, maka kelak dia tidak akan mampu mencium bau surga, padahal harumnya sudah tercium dari jarak 500 ribu tahun cahaya.
Maka patutlah dalam permulaan majlis ilmu, kita diajarkan dan dibimbing terlebih dahulu untuk meluruskan niat. Karena memang penentu kita akan menjadi betul-betul berilmu atau seakan-akan berilmu, ada pada niat.
Saat mendengar kalam ustadz abdul somad tadi, hati yang bergemuruh mendadak redup dari kebisingan. Oh, inilah yang hati ini cari, inilah yang ingin telinga ini dengar, inilah yang mata ingin saksikan dan mungkin ini adalah bagian dari skenario indah tuhan agar hambanya yang kecil ini tidak berputus asa dari mendapatkan kemulian yang Allah telah hamparkan di muka bumi ini.
Maha suci engkau ya Rabb, maha sempurna rencanamu, maha baik skenariomu, maha pemurah engkau kepada hamba-hambamu yang masih selalu luput dari mengingatmu.
والله أعلم
Ikuti kegiatan kami lewat instagram, @ppimaroko
Simak artikel terbaru kami,