Berjalan diatas Kepahitan

“Kita sudah merencanakan masa depan dengan begitu indah, merajut harap hingga larut dalam doa, namun semesta membalikkan keadaan dalam satu kedipan mata: gagal.”

Setiap orang pasti pernah merasakan pahitnya kegagalan dalam mengimpikan sesuatu. Kita sudah menyusun rencana dengan begitu rapi, begadang berhari-hari, berdoa dengan linangan air mata, namun pada akhirnya Allah berkata lain. Rencana itu runtuh, harapan itu pupus, dan kita hanya bisa terdiam menatap kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan. Rasanya sesak, perih, dan sulit untuk diterima.

Akan tetapi, jangan khawatir akan hal itu. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Dalam Islam, kita diajarkan bahwa Allah menetapkan takdir bukan hanya satu macam saja. Agar hati kita tidak mudah berputus asa, kita perlu memahami dua jenis takdir yang menjadi pondasi keimanan kita: takdir mubram dan takdir mu’allaq.

Memahami Makna Takdir di Balik Segala Ketentuan

Perlu diketahui sebelumnya bahwasanya takdir adalah penetapan dan ketentuan dari Allah Swt. yang selalu ditentukan pada diri setiap hamba-Nya sejak zaman azali. Apa yang kita jalani hari ini, esok, dan seterusnya, semuanya telah berada dalam ilmu Allah dan sesuai dengan ketetapan-Nya. Tidak ada satu daun pun yang jatuh tanpa sepengetahuan Nya. Dan setiap takdir yang diberikan kepada kita, baik yang manis maupun yang pahit, adalah yang terbaik bagi setiap individu masing-masing, meskipun akal kita belum mampu menjangkaunya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 216]

Ayat inilah yang seharusnya menjadi pelukan pertama ketika kita gagal. Terkadang, kita tidak bisa menerima takdir yang ada, padahal Allah-lah yang lebih tahu tentang diri kita, tentang masa depan kita, dan tentang apa yang benar-benar kita butuhkan, bukan hanya apa yang kita inginkan. Tidak ada yang lebih tahu dari segala sesuatu tentang diri kita yang terjadi di dunia kecuali Allah.

Ketika Pikiran Terjebak: Mengenal Fenomena Fiksasi

Fenomena sulitnya menerima kenyataan ini dalam psikologi dan filsafat dinamakan dengan fiksasi. Fiksasi adalah sebuah pikiran atau gagasan yang menguasai benak seseorang sedemikian rupa sehingga ia menjadi obsesif dan tidak bisa bergerak maju. Ia terpaku pada satu titik kegagalan, satu orang yang hilang, satu kesempatan yang terlewat, sehingga ia lupa bahwa dunia masih luas dan terbentang.

Orang yang mengalami fiksasi akan terus berkata, “Seandainya dulu aku begini, pasti tidak akan begitu.” Ia hidup di masa lalu yang tidak bisa diubah. Padahal, banyak sekali hal yang lebih indah untuk dinikmati daripada hanya meratapi satu hal yang terus menyakiti diri kita. Ia lupa mensyukuri napas yang masih ada, keluarga yang masih mendukung, dan kesempatan kedua yang Allah masih berikan setiap pagi.

Lapang Dada, Bukan Berarti Berpasrah Tanpa Evaluasi

Sebagai manusia, kita terlalu fana, terlalu kecil, dan terlalu lemah untuk memikirkan hal-hal di luar kehendak mutlak-Nya. Tugas kita bukanlah untuk mengatur hasil akhir, melainkan untuk mengatur proses. Di dunia ini, kita diajarkan untuk belajar menerima segala hal yang terjadi terhadap diri kita, baik maupun buruk, sebagai bagian dari tarbiyah atau pendidikan dari Allah untuk mendewasakan jiwa kita.

Dengan begitu, kita bisa menghadapi suatu kejadian yang terjadi kepada diri kita dengan lebih lapang dada dan menerima. Lapang dada bukan berarti tidak sedih. Rasulullah pun bersedih ketika kehilangan putranya Ibrahim. Menangis dan kecewa itu manusiawi. Namun setelah itu, hati harus kembali berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un sesungguhnya kita milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Namun, penting untuk digarisbawahi; bukan berarti kita menjadikan segala hal buruk yang terjadi pada diri kita sebagai tameng untuk berlindung di balik kalimat “sudah kehendak Allah” tanpa mau mengevaluasi diri. Ini adalah kesalahan fatal yang sering dilakukan. Malas belajar lalu gagal ujian, kemudian berkata “ini takdir Allah”. Tidak mau berusaha mencari pekerjaan lalu miskin, kemudian menyalahkan takdir. Itu bukan tawakal, itu adalah kemalasan yang dibungkus dalih agama.

Dua Wajah Takdir: Mu’allaq dan Mubram

Islam adalah agama yang sangat seimbang antara takdir dan ikhtiar. Karena itu, kita harus memahami pembagian takdir dengan benar:

1. Takdir Mu’allaq (Takdir yang Digantungkan)

Takdir mu’allaq adalah takdir yang sifatnya “digantungkan” atau dapat diubah melalui ikhtiar, usaha, dan doa manusia. Allah menggantungkan hasilnya pada seberapa besar usaha kita. Ini adalah ruang harapan bagi kita.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [QS. Ar-Ra’d: 11]

Mau pintar? Harus belajar. Mau sembuh dari sakit? Harus berobat dan berdoa. Mau masuk universitas impian? Harus berjuang dengan belajar siang malam. Doa adalah senjatanya, usaha adalah kendaraannya.

2. Takdir Mubram (Takdir yang Mutlak)

Sedangkan takdir mubram adalah takdir yang sudah ditetapkan sejak zaman azali, sejak awal mula segala sesuatu diciptakan dan Lauhul Mahfuzh ditulis, dan tidak dapat diubah oleh usaha manusia sekuat apa pun. Inilah keputusan pahit yang mutlak milik Allah.

Contoh takdir mubram adalah kematian, kelahiran, siapa orang tua kita, jenis kelamin kita, kapan datangnya hari kiamat, dan jodoh dalam artian ketetapan akhirnya. Kita tidak bisa memilih untuk lahir dari rahim siapa, kita tidak bisa menolak kematian ketika ajalnya telah tiba.

Ketika kita berhadapan dengan takdir mubram, satu-satunya sikap terbaik adalah ridha dan sabar. Namun ketika kita berhadapan dengan takdir mu’allaq, sikap terbaik adalah bergerak, berikhtiar, dan berdoa tanpa henti.

Menjemput Peluang dalam Genggaman Ikhtiar

Sebagai manusia, kita selalu mempunyai kekuatan untuk berusaha melakukan apa pun yang kita inginkan, tentu dengan tetap berlandaskan akal dan pikiran yang sehat serta tidak melanggar syariat. Manusia selalu menginginkan yang terbaik dalam hidupnya, terus mencoba, dan berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Di sinilah takdir mu’allaq bekerja secara nyata. Sebagian besar hal yang kita lalui setiap hari berkaitan dengan takdir mu’allaq. Seberapa besar usaha kita akan menentukan seberapa besar peluang atau hasil yang kita dapatkan. Apa pun yang kita lakukan di dunia ini sangat bergantung pada ikhtiar kita. Seorang petani yang rajin mencangkul, memberi pupuk, dan menyiram setiap hari, peluang panennya jauh lebih besar daripada petani yang hanya duduk menanti hujan.

Memang ada beberapa hal mutlak yang berada di luar kuasa manusia, seperti siapa orang tua kita, rezeki pokok yang telah dijamin, atau garis besar jodoh kita. Akan tetapi, hal-hal seperti prestasi, juara lomba, hafalan Al-Qur’an, pencapaian karier, kesuksesan bisnis, atau diterimanya kita di sebuah instansi adalah ranah yang 100% bisa diusahakan untuk mengubah nasib kita.

Titik Balik: Bangkit atau Menerima dengan Ikhlas

Maka, ketika kamu gagal hari ini, tanyakan pada dirimu: Apakah ini takdir mubram atau mu’allaq? Jika kegagalanmu karena kamu kurang berusaha, maka itu adalah mu’allaq. Bangkitlah, perbaiki strateginya, dan coba lagi dengan lebih keras. Allah melihat tetesan keringatmu.

Namun, jika kamu sudah berusaha sekuat tenaga, sudah berdoa sampai habis air mata, sudah melakukan semua yang kamu bisa, tapi hasilnya tetap pahit, maka terimalah bahwa di titik itu Allah sedang mengubah takdir mu’allaq-mu menjadi hikmah yang setara dengan takdir mubram. Artinya, Allah sedang menyelamatkanmu dari sesuatu yang tidak kamu ketahui keburukannya.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Teruslah berusaha sampai segala kebaikan di depan sana menantimu. Jangan pernah berhenti di satu kegagalan. Teruslah berdoa, barangkali doa yang engkau panjatkan kemarin belum terkabul bukan karena ditolak, melainkan karena Allah sedang mengumpulkan doa-doa itu untuk mengabulkannya dalam bentuk yang jauh lebih indah dan lebih tepat waktunya. Karena sesungguhnya, keputusan yang pahit hari ini, bisa jadi adalah jalan menuju keputusan termanis dalam hidupmu di masa depan.

Ikuti kegiatan kami lewat instagram, @ppimaroko

Simak artikel terbaru kami,

Tag Post :
Minggu-an Menulis

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *