Sepanjang peradaban manusia, ada satu hal yang tak bisa dipungkiri dari hidup manusia, yaitu penderitaan. Secanggih apapun suatu zaman dan kebijaksanaan kolektif tidak bisa menyurutkan atau menekan optimisme moral. Di mana pun ada manusia, di situlah penderitaan tidak bisa kita sangkal. Karena ketidakmungkinan penyangkalan itu, kita seringkali diberi tahu bahwa masih ada kemungkinan untuk menghindari penderitaan, yaitu dengan menerimanya. Masalahnya, seluruh mesin budaya kita dari psikologi populer hingga obat pereda sakit dirancang seolah-olah penderitaan adalah suatu kesalahan. Penderitaan datang karena kita tidak cukup kuat, tidak cukup waras, dan tidak cukup mampu untuk memulihkan diri sendiri. Maka hidup yang berhasil dipahami sebagai hidup yang terbebas dari luka. Padahal, ada sisi lain yang sering terlewat. Bagaimana jika kekuatan yang paling manusiawi justru muncul ketika kita sedang tidak baik-baik saja, yaitu saat kita hancur dan tetap berusaha bertahan? Sebab saat dalam kehancuran itulah kita dipaksa mempertanyakan ulang siapa kita sebenarnya, bukan siapa yang sering ingin kita tampilkan di hadapan dunia.
Penderitaan memaksa kita menghentikan segala gerak yang palsu, kemudian mencoba melihat dunia dengan sudut pandang yang baru. Dari reruntuhan itulah, terkadang kita memiliki kesadaran untuk mencoba menata ulang kembali makna hidup. Dan dari situlah kita menyadari bahwa penderitaan bukan lagi sebuah beban, tetapi sarana membuat fondasi yang baru. Kerap kali kita sulit bertumbuh tanpa terlebih dahulu menderita, seperti halnya tubuh yang meregenerasi jaringan baru setelah mengalami luka. Terkadang jiwa manusia baru menemukan keberaniannya setelah melewati rasa sakit yang hampir membunuhnya. Namun, di sini kita perlu berhati-hati: bagaimana jika tidak semua penderitaan mendatangkan pencerahan? Ia hanya membusuk dalam sunyi dan menelanjangi kita dalam diam tanpa memberi apa pun jawaban mengapa itu bisa terjadi.
Untuk memahami mengapa penderitaan begitu sulit diterima, kita bisa melihat akarnya. Menurut Sidharta Gautama, seorang filsuf spiritualis; mengatakan bahwa akar dari penderitaan adalah nafsu, yaitu keinginan, keterikatan, dan sesuatu yang melekat pada hal-hal yang tidak kekal. Kita menjadikannya sandaran identitas dan bagian dari makna hidup. Kita ingin mencintai tanpa kehilangan, sukses tanpa gagal, ingin hidup tanpa mati. Kita ingin semua berjalan sesuai dengan keinginan kita, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Semua berubah, semua rapuh. Dan itu semua bukan berarti hidup itu buruk. Tapi itu semua karena kita sulit menerima bahwa hidup memang tidak stabil, tidak pasti, dan tidak pernah menjadi milik kita.
Manusia memang memiliki tabiat tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki. Bahkan saat ia mendapatkan sesuatu, tak lama kemudian ia akan menginginkan sesuatu lain yang baru. Seperti yang dikatakan Schopenhauer dalam bukunya Die Welt als Wille und Vorstellung bahwa “segala kehendak muncul dari kekurangan, dan ketidakpuasan terhadap keadaan diri sendiri; oleh karena itu, ia adalah penderitaan selama belum terpenuhi. Namun tidak ada kepuasan yang bersifat abadi; sebaliknya, setiap kepuasan hanyalah titik awal dari kehendak baru. Maka, tidak ada tujuan yang tercapai yang bisa memuaskan untuk jangka waktu yang lama, dan tidak ada kebahagiaan yang bersifat kekal.”
Dari situlah, penderitaan bisa dipahami bukan hanya sebagai beban, tetapi juga sebagai sinyal. Jika kita renungi dan pahami, sebenarnya rasa sakit dalam tubuh adalah sinyal dari eksistensi itu sendiri; ia sedang memberi tahu bahwa ada sesuatu yang keliru. Bayangkan jika ada jiwa yang terus-menerus merasakan kebahagiaan. Ia tidak akan menyadari bahwa tubuhnya sedang terluka, terbakar, bahkan hancur dari dalam. Dalam dunia medis, ini dikategorikan sebagai kelainan yang cukup serius, karena tubuh tanpa rasa sakit adalah tubuh tanpa peringatan. Rasa nyeri dan luka yang ada dalam tubuh memberi tanda bahwa kita masih hidup dan masih bisa berubah. Jadi, seberapa pun sakit rasa penderitaan, ia adalah bentuk kepekaan dan membantu kita untuk membuka mata bahwa hidup memang tidak selamanya baik-baik saja. Penderitaan biasanya muncul sebab sesuatu yang biasa kita andalkan tiba-tiba hilang: hilangnya seseorang yang kita cintai, gelar, atau impian yang kita rencanakan dari awal. Tapi kenyataannya kita hanya sendirian, kita yang kosong, dan kita yang jujur akan perasaan bahwa kita memang tidak sempurna.
Itulah sebabnya, selama penderitaan dianggap sebagai sesuatu yang tidak wajar dan seharusnya dihilangkan, manusia akan selalu hidup dalam kegagalan jika ia tidak mampu mengatasinya. Di zaman yang semakin canggih, toleransi terhadap rasa sakit pada penderitaan tidak membuatnya semakin menurun, justru membuatnya semakin sulit diredam. Karena rasa bosan dan kesepian begitu cepat dialihkan dengan hiburan instan, penderitaan tidak lagi diproses sebagai bagian dari dinamika hidup, melainkan sebagai kesalahan sistem yang harus cepat diperbaiki. Akhirnya tubuh dan jiwa kesulitan untuk memproses dan bertahan karena ia tidak pernah dibiarkan berlatih untuk itu. Kepribadian yang terus-menerus dijauhkan dari sakit akan mudah rapuh.
Lalu bagaimana cara menghadapi segala sakit ini? Akankah kita bisa membentuk diri lagi, setelah rasanya segala penderitaan merenggut seluruh jiwa? Banyak orang bilang, keadaan yang terjadi setelah penderitaan adalah proses pencarian suatu hikmah atau makna. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu, karena makna bukanlah sesuatu yang serampangan dan bisa dengan mudah kita temukan di jalanan. Ia adalah sesuatu yang harus dibangun dan diciptakan sendiri di tengah-tengah reruntuhan yang belum tentu mau ditata kembali.
Viktor Frankl adalah seorang psikiater yang mengalami neraka kekejaman dari kamp konsentrasi Nazi di Jerman. Frankl percaya bahwa manusia bisa bertahan hidup dalam situasi paling ekstrem jika ia memiliki makna untuk dihidupi. Frankl juga beranggapan bahwa manusia bisa menjalani kehidupan di tempat paling gelap jika saja ada satu hal yang ia tuju. Pencarian makna bisa menjadi gerakan pemulihan sekaligus menjadi tempat pelarian. Manusia selalu tergesa-gesa mencari makna dari sebab munculnya penderitaan, seolah hidup adalah cerita bermoral yang selalu memiliki hikmah di ujungnya. Tapi, bagaimana jika tidak? Bagaimana jika luka ini tidak sedang mengarah ke mana-mana, tidak sedang membentuk siapa-siapa, dan tidak sedang menyampaikan pesan ke siapa pun? Dari situlah kita bertanya: bisakah kita berjalan hanya dengan mengandalkan kesetiaan terhadap hidup itu sendiri? Dan pada saat-saat seperti itulah penderitaan bukan lagi terasa seperti musuh. Tapi ia terasa seperti satu-satunya teman yang menemani dalam keadaan yang paling jujur sekalipun.
Pada akhirnya, seperti kata Nietzsche, ini adalah hubungan yang disebut amor fati, yaitu ketika kita mencintai takdir, seluruh hidup, termasuk luka-lukanya. Jadi, bisakah kita mencintai hidup ini seluruhnya, bukan karena penderitaan sekedar memberi makna atau menyucikan, tetapi karena semata-mata inilah hidup? Dan hidup tidak menawarkan versi yang lain.
Ikuti kegiatan kami lewat instagram, @ppimaroko
Simak artikel terbaru kami,