Dan bagaimana jika ia kembali dengan seuntai maaf?

Terik matahari di pagi hari menyingsing kuat, angin yang berhembus kencang dari arah timur membawa debu yang menabrak dinding-dinding kota Makkah. Rumah-rumah dipenuhi tangis; sebagian orang tidak kembali ke rumahnya setelah peperangan Badar. Rumah-rumah dipenuhi rasa dendam, amarah terdengar di ruang-ruang kosong kota Makkah. Kekalahan perang melawan Rasulullah ﷺ menyisakan rasa sakit yang harus dibayar dengan nyawa.



Kaum Quraisy bersiap untuk membalas kekalahan sebelumnya. Pedang-pedang pasukan diasah tajam, kuda-kuda dipersiapkan untuk berperang. Gendang-gendang ditabuh mengiringi syair yang didendangkan untuk membakar semangat balas dendam. Bahkan para pengecut pun bangkit membawa pedang dan menunggangi kuda; rasa malu mengalahkan rasa takut mereka.

Kaum Quraisy berkumpul dan bergerak menuju Madinah dengan perlengkapan lengkap, membawa amarah yg berkobar, derap kaki kuda terdengar keras, debu berterbangan mengiringi perjalanan menuju medan perang.

Hindun binti Utbah berlari menuju budak hitam di pinggir kota Makkah dengan suara serak sisa tangisan dari waktu yang lama dan mata merah penuh dendam, mengingat ayah tercintanya terbunuh di tangan Hamzah bin Abdul Muththalib di perang Badar. Hindun menjanjikan kemerdekaan untuk Wahsyi jika berhasil membunuh Hamzah dengan tangannya.

 Wahsyi seperti menemukan cahaya di kegelapan yg tak berujung. berlari kencang menuju rumahnya, mengambil tombak yg siap menjemput kematian Hamzah, lalu bergabung ke tengah pasukan menuju peperangan yg akan menjadi jalan kemerdekaannya.

Kabar Keberangkatan pasukan Quraisy terdengar hingga kota Madinah. Rasulullah ﷺ berkhotbah membakar semangat jihad para sahabat. Para Sahabat bangkit dengan penuh semangat; tidak ada yang mereka takuti kecuali Allah. Di antara mereka dan surga, hanyalah kematian yg sudah berada di depan mata.

Rasulullah ﷺ, Abu Bakar dan Umar keluar menuju kaum Muhajirin dan Anshor dengan mengenakan zirah perang lengkap dengan pedang, siap menghadapi kaum Quraisy. Tujuh ratus pasukan berada dibawah komando Rasulullah ﷺ untuk menghadapi tiga ribu pasukan Quraisy.

Rasulullah ﷺ menyusun strategi perang dengan matang, memerintahkan para pemanah untuk tidak meninggalkan tempatnya, baik dalam keadaan kalah atau menang. Seluruh pasukan dengan strategi matang siap menuju medan peperangan.

Dua pasukan besar bertemu di pelataran gunung Uhud. suara pedang terdengar riuh seperti alunan petikan gitar yg dimainkan, kuda-kuda saling bertabrakan, tanah-tanah basah dengan darah yg terkucur, kepulan debu berterbangan menghiasi medan perang. Pasukan Rasulullah ﷺ berhasil memukul mundur Quraisy. Harta rampasan berhasil direbut, wanita dan pasukan musuh berhasil ditawan. Namun, para pemanah tergiur dengan kemenangan pasukan dan limpahan harta dibawah. Mereka meninggalkan tempatnya menuju harta rampasan untuk mendapatkan bagiannya, Melupakan perintah dan titah Rasulullah ﷺ.

Quraisy yg mundur, memutar arah menuju bagian belakang gunung Uhud yg sudah kosong dari pasukan pemanah. Khalid bin Walid memanfaatkan kelalaian pasukan Rasulullah ﷺ untuk menyerang balik dan mendesak mereka untuk mundur. pasukan Rasulullah ﷺ kehilangan kendali. Rasulullah ﷺ terluka; wajahnya meneteskan darah. Beliau menadah tetesan darah itu dengan tangannya sambil berkata:”Ya Allah, ampunilah kaumku. sungguh, mereka melakukannya karena ketidaktahuan”.

Wahsyi memanfaatkan keadaan ini untuk mencari Hamzah. matanya tertuju pada satu sosok di tengah medan perang. Ia Menggenggam erat tombak dan menghunuskannnya ke dada Hamzah. darah bercucur deras, dan Hamzah menghembuskan napas terakhirnya, pasukan Rasulullah berhasil dipukul mundur.

Setelah perang usai, Rasulullah mencari Hamzah dan menemukannya tersungkur berlumuran darah. Dadanya terbelah dan tercabik-cabik oleh pisau sebagai pembalasan dendam Hindun binti Utbah. Air mata Rasulullah ﷺ tak terbendung; paman yg menjadi tameng dan pendukungnya dihabisi dengan kejam.

Kaum Quraisy bersukaria karena berhasil membalaskan dendam yg selama ini mengakar di dalam dada. Wahsyi pun bersukaria memakai jubah kemerdekaan. Ia meletakkan tombak yg berhasil menembus dada Hamzah, lalu memajangnya seperti piala kemenangan.

Tahun-tahun berlalu, berbagai peperangan dilalui Rasulullah ﷺ, Islam tersebar hingga penjuru jazirah Arab, kematian Hamzah masih membekas hebat di hati Rasulullah ﷺ. setiap mengingat Hamzah, air matanya tak kuasa terbendung. Dari banyaknya kehilangan, kematian Hamzah adalah kehilangan yang paling menyakitkan.

Pada tahun 8 hijriah, Kaum Quraisy melanggar perjanjian Hudaibiyah yang melarang mereka berperang selama perjanjian berlaku. Kaum Quraisy membantu kabilah Bani Bakr dalam peperangan melawan Bani Khuza’ah yang berada dibawah perlindungan Rasulullah ﷺ. Ketika kabar ini sampai ke Madinah, Rasulullah ﷺ mempersiapkan pasukan besar untuk penaklukan kota Makkah.

Rasulullah ﷺ berangkat dengan pasukan yg sangat besar menuju kota Makkah. Tenda-tenda dipasang di tengah area Mur al-Zahran, api unggun dinyalakan sebagai penghangat, dan kegelapan di tanah Haram menyelimuti pasukan muslimin.

Abu Sufyan datang menuju tenda Rasulullah ﷺ dengan dada gemetar hebat, muka tertunduk lesu, meminta ampunan dan belas kasih kepada Rasulullah ﷺ, ia berkata dengan mengutip ungkapan Al-Quran:

تَٱللَّهِ لَقَدْ ءَاثَرَكَ ٱللَّهُ عَلَيْنَا وَإِن كُنَّا لَخَٰطِـِٔينَ

“Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)”. (QS. Yusuf: 91)

Rasulullah ﷺ menjawab dengan senyuman:

لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ ٱلْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang”. (QS. Yusuf: 92)

Pasukan kaum Muslimin memasuki Kota Makkah di pagi hari. penduduk kota Makkah gemetar bersembunyi di rumah-rumah mereka; sebagian yang lain melarikan diri. Wahsyi berlari menuju tempat yang tidak mungkin ditemukan oleh kaum muslimin.

Dosa besarnya karena membunuh Hamzah akan terbalaskan di hari ini. Mereka berkata, “hari ini adalah hari Malhamah (Pembantaian)!” namun, Rasulullah ﷺ menepisnya dengan berkata, “Tidak, Hari ini adalah hari Marhamah (penuh kasih)”.

Rasulullah ﷺ memanggil seluruh penduduk yg bersembunyi untuk berkumpul. kemudian beliau berkhotbah, membaca hamdalah dan memuji Allah SWT, lalu berkata:



“Wahai kaum Quraisy, menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap kalian (setelah apa yang kalian lakukan kepadaku)?” Mereka menjawab, “Engkau adalah saudara yang mulia, putra dari saudara yang mulia.” Beliau pun berkata:



إِذْهَبُوا فأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ

“Pergilah, kalian semua bebas!”



Wahsyi yang melarikan diri tergugah untuk beriman dan memohon maaf kepada Rasulullah ﷺ. Dengan wajah tertutup sehelai kain, Wahsyi menghadap Rasulullah ﷺ. Ketika helai kain itu terbuka, Rasulullah ﷺ bertanya, “Apakah engkau Wahsyi?”

“Ya.” jawab Wahsyi.

Beliau bertanya untuk memastikan, “Benarkah engkau yang membunuh Hamzah?”

Wahsyi menjawab, “Peristiwa itu telah terjadi, dan beritanya tentu sudah sampai kepadamu.”

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:

أَمَا تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ عَنِّي وَجْهَكَ؟

“Bisakah engkau menjauhkan wajahmu dari pandanganku (selama aku hidup)?”

Kemudian Wahsyi tertunduk merenungi berbagai penyesalan dan pergi meninggalkan beliau.

Rasulullah ﷺ memiliki sisi manusiawi, seperti marah, kesal, senang, dan sedih. Ini bukanlah kekurangan bagi Rasulullah ﷺ, melainkan wujud kesempurnaannya. Ujian yang ditujukan pada manusia terlihat indah karena terjawab dengan kesabaran. Namun, ketika ujian ditujukan kepada batu, keindahan itu hilang karena tidak ada jawaban reaksi darinya.

Kita juga memiliki sisi manusiawi. Tidak semua kesalahan bisa engkau maafkan. Atau, mungkin kesalahan itu bisa engkau maafkan, namun itu adalah kata terakhir yang akan ia dengar darimu. Ini bukan wujud keegoisan, melainkan wujud sisi manusiawi kita yang memiliki batasan.Terkadang kata maaf akan menyisakan luka yang tidak mungkin sembuh secara utuh. Bahkan Rasulullah ﷺ yang hatinya sebening kaca memiliki batasannya. Ini bukan berarti Rasulullah ﷺ pendendam, melainkan ini adalah sisi kemanusiaannya.

Rasulullah ﷺ memaafkan Wahsyi, namun itu adalah kali terakhir Wahsyi bertatap muka dengan Rasulullah ﷺ.

Kadang kita perlu menghindari hal-hal yang bisa membangkitkan ingatan lama yang begitu menyakitkan. Membuat batasan adalah wujud pemaafan kita.

وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

“(Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan) dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Muzzammil: 10)‌

Ayat ini menggunakan redaksi nakirah (kata tak tentu) ‘Hajran Jamila’, yang berarti banyak cara untuk menghindar; seperti menutup akses untuk bertemu, berpindah ke tempat yang lain, tidak menanggapi, dan cara-cara berkelas yang lain untuk mewujudkan kesehatan emosi kita.

Hal ini bukan berarti kata maaf tidak akan pernah keluar dari mulut kita, melainkan ini adalah batasan normal dari sisi kemanusiaan kita. Di sisi lain, kita juga diperintahkan untuk memaafkan dengan cara yang berkelas.

فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

“…maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (QS. Al-Hijr: 85)‌

Ayat yang memerintahkan pemaafan ini menggunakan redaksi makrifah (kata tentu) ‘As-Safhal jamil’, yang berarti cara memaafkan hanya satu, yaitu mengampuni segala kesalahan. Juga berarti menunjukkan kesempurnaan, keluasan, dan makna yang telah dikenal: pemaafan yang utuh, tulus, tidak disertai celaan, tidak diikuti ungkitan, dan tidak menuntut balasan.

Mereka yang mampu melampaui batas kemanusiaannya adalah mereka yang menjelma menjadi manusia berhati malaikat. Tentu hal ini tidak mudah, karena balasannya juga begitu besar.

فَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)

Rasulullah ﷺ mengampuni segala kesalahan, bahkan setelah segala sesuatu yang dilakukan kaum Quraisy kepadanya. Rasa maafnya adalah kemukjizatan yang melampaui batas perasaan manusia biasa. Namun, Rasulullah ﷺ juga menunjukkan sisi kemanusiaan, sisi yang sangat halus dari manusia.

Lalu bagaimana dengan dirimu?

Setelah kesalahan yang ia buat dan sakit yang engkau rasakan, atau setelah kesetiaanmu yang begitu agung dan pengkhianatannya yang begitu besar…

Bagaimana jika ia kembali dengan seuntai maaf?

Ikuti kegiatan kami lewat instagram, @ppimaroko

Simak artikel terbaru kami,

Tag Post :
Minggu-an Menulis

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *