SABU-SABU: “Perempuan di Titik Nol”

Resensi Buku

Judul: Perempuan di Titik Nol

Pengarang: Nawal El Saadawi, diterjemahkan oleh Amir Sutaarga.

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2003

Jumlah Halaman: xiv + 156 halaman

Sinopsis

Buku ini bercerita tentang pengalaman Nawal El Saadawi tatkala meneliti kasus neurosis, terutama pada pasien perempuan, di Mesir pada tahun 1974. Penelitian itu dilakukan dengan melakukan wawancara pada narapidana penjara Qanatir salah satunya narapidana hukuman gantung bernama Firdaus. Kisah panjang Firdaus inilah yang lantas ditulis ulang sebagai sebuah novel.

Firdaus adalah seorang pelacur yang tumbuh dalam lingkungan patriarki semenjak ia kecil. Pada usia belia ia dilecehkan oleh teman laki-lakinya juga pamannya sendiri tanpa benar-benar ia sadari. Kendati demikian pamannya lah yang pada akhirnya membawanya ke Kairo untuk melanjutkan pendidikan menengah.

Di asrama sekolah menengah Firdaus menemukan ketertarikannya terhadap ilmu pengetahuan. Membaca sejarah peradaban dan tampaknya, ia menyadari bahwa orang-orang penting di buku-buku itu adalah laki-laki. Menemukan paradoks pertamanya disini. Ia lulus dengan peringkat kedua, yang amat memuaskan, dan kembali menumpang di rumah pamannya.

Kesulitannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas membawanya kepada pernikahan dengan duda tua yang kaya raya Syaikh Mahmoud. Pengalaman pernikahan yang penuh kekerasan dihadapinya tanpa persiapan berarti. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari rumah itu.

Di masa transisi ini, ia merangkak mencari sisa jati dirinya di antara berbagai kekerasan seksual yang terus-menerus menderanya. Hingga ia bertemu Sharifa dan memutuskan menjadi seorang pelacur. Pada fase ini Firdaus berhasil membangun kepercayaan dirinya sendiri; hidup lebih mapan; dan lebih dalam memahami kebenciannya terhadap laki-laki.

Perjalanan panjang Firdaus melakoni pekerjaan barunya ternyata tidak juga memuaskannya. Hal ini membawanya bekerja “secara terhormat” di bawah gedung industri selama beberapa tahun, menemui kenyataan serupa: Laki-laki tetap busuk dan ekonomi yang tidak menunjukkan kemajuan signifikan. Pada akhirnya ia tetap kembali menjadi pelacur.

Sayangnya pelacurannya yang kedua ini tidaklah berjalan mulus. Seorang germo berusaha menekan Firdaus. Kekerasan dan penyerangan dilancarkan, sehingga Firdaus terpaksa menyerang balik dan membunuh germo itu.

Komentar

Nawal El Saadawi berhasil menampilkan figur perempuan yang membara dan berani. Kokoh terhadap realita patriarki yang amat konservatif pada masa itu. Di lain pihak, tokoh laki-laki digambarkan dengan ambisi, hasrat, dan celah yang nyata. Dimana seorang pelacur mampu memahami hasrat terdalam, lintasan paradoksal dari laki-laki itu sendiri. Latar waktu dan budaya Mesir pada masa itu ditulis melalui diksi yang eksplikatif, memudahkan pembacaan dari lintas generasi. Penekanan emosi khas Arab begitu traumatis dan mengerikan. Menunjukkan sudut pandang yang realistis dari seorang Firdaus.

Kelebihan buku ini, sebagaimana telah diketahui, adalah bahwa buku ini mampu menjadi pijakan yang cukup kokoh dalam memahami ketidak-logisan budaya patriarki. Baik dari segi sosial, agama, maupun pendidikan. Nawal El Saadawi secara cerdas menjelaskan ketertindasan perempuan dengan natural dan jujur. Tidak berlebihan. E-book buku ini juga mudah ditemukan di laman pencarian.

Kekurangannya adalah buku ini mungkin saja dibaca tanpa memahami konteks dengan benar. Nawal El Saadawi tidak menetapkan waktu yang jelas sepanjang cerita. Sehingga berkemungkinan menyebabkan subjektivitas pembaca, yang berujung pada salah memetakan latar waktu cerita. Kesalahan ini akan membawa pembaca pada pemikiran ekstrem dalam menyikapi realitas patriarki, tanpa benar-benar memahami konteks dan latar yang dikehendaki.

Selain itu, novel ini bercerita mengenai seorang pelacur. Terdapat beberapa paragraf yang bisa jadi kurang nyaman dibaca. Pengalaman Firdaus menghadapi pelecehan seksual juga cukup traumatis. Sehingga hendaknya disikapi dengan bijaksana.

Akhirnya, terlepas dari kelebihan dan kekurangan novel ini, novel Perempuan di Titik Nol adalah pondasi yang baik untuk mendalami tema kesetaraan gender. Membangun kesadaran yang lebih adil dan bijaksana dalam menyikapi budaya kekinian.

Jangan lupa mampir ke koleksi buku- buku dan kitab-kitab di Perpustakaan PPI Maroko dan download langsung PDF nya : https://ppimaroko.or.id/perpustakaan/

Saksikan video-video keseruan event di youtube PPI Maroko : https://www.youtube.com/@PPIMarokoOfficial

Tag Post :

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer