Brainrot dan Dampaknya di Era Modern

Dewasa ini, perkembangan teknologi digital semakin pesat. Mudahnya mengakses sebuah informasi dalam hitungan detik adalah tanda bahwa dunia sudah berkembang jauh lebih cepat. Kini, hanya dengan menekan beberapa tombol di keyboard laptop atau ponsel, kita bisa mendapat informasi instan tanpa usaha yang signifikan, dunia seolah berada di genggaman kita. Namun fenomena tersebut tidak hanya berdampak positif bagi kehidupan manusia. Akses instan dan konsumsi media sosial yang berlebihan dapat memengaruhi cara individu berpikir dan memproses informasi.

Data menunjukkan fokus manusia menurun drastis akibat teknologi dan media sosial, dengan rentang perhatian rata-rata turun dari 12 detik pada tahun 2000 menjadi sekitar 8 detik pada tahun 2013–lebih pendek dari ikan mas, terutama dipengaruhi konten pendek TikTok, multitasking, kurang tidur, dan stres yang mengganggu fungsi kognitif dan berpikir kritis, terutama pada Generasi Z. Fenomena ini juga sering disebut dengan “Brainrot” atau pembusukan otak yang terjadi akibat mengonsumsi informasi & konten berdurasi pendek dan berlebih dalam satu waktu.

Semua orang mengakses internet secara aktif bisa jadi mengalami brainrot, tidak terkecuali anak-anak dan remaja. Untuk mengenali apakah seseorang mengalami brainrot, berikut tanda-tandanya: 

1. Lebih tertarik scrolling media sosial saat sedang bersama teman, keluarga, atau kolega

2. Sulit melepaskan diri dari gadget, bahkan saat bekerja.

3. Terlalu sering memeriksa notifikasi ponsel.

4. Terlalu banyak menerima informasi yang kurang penting.

5. Susah tidur atau mengalami insomnia.

6. Mata cepat lelah atau sakit kepala setiap selesai memainkan gadget.

Menurut para psikolog, paparan konten sempm ini dapat menyebabkan:

1. Menurunnya daya ingat

2. Kehilangan fokus dan konsentrasi

3. Penurunan kemampuan analisis

4.Tidak berkembangnya kemampuan berpikir kritis dan kompleks

5. Ketergantungan pada validasi sosial

Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat fokus manusia terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Salah satu faktor utamanya adalah penggunaan media sosial yang berlebihan, khususnya konsumsi konten berdurasi pendek. Hal ini membuat seseorang lebih mudah kehilangan fokus saat beraktivitas, sulit berpikir kritis, dan menumbuhkan ketergantungan terhadap media sosial.

Gloria Mark, Ph.D., seorang Profesor Informatika dari University of California mengungkapkan dampak penurunan daya fokus dengan apa yang disebut dengan ‘switch cost’. Pekerjaan yang seharusnya dapat dikerjakan dalam waktu singkat, menyita waktu yang lebih banyak akibat daya fokus yang rendah. Hal ini membutuhkan sumber daya mental yang lebih besar.

“Jadi, bayangkan jika Anda sedang menulis sebuah bab dan tiba-tiba Anda berhenti dan mengalihkannya ke sesuatu yang lain. Kemudian, Anda kembali lagi, itu akan memakan waktu untuk merekonstruksi kembali apa yang sedang Anda kerjakan” ungkap Gloria, dalam siniarnya bersama American Psychological Association (APA).

Mengonsumsi konten berdurasi pendek menyebabkan otak melepaskan dopamin, neurotransmiter yang sering disebut sebagai “hormon bahagia” karena berperan dalam sensasi reward dan kesenangan. Paparan dopamin instan ini membuat otak kita terbiasa mendapatkan kepuasan cepat dari stimulasi digital. Akibatnya, konsumsi konten yang berlebihan dapat memengaruhi kemampuan fokus dan konsentrasi saat kita mencoba melakukan tugas-tugas yang membutuhkan perhatian dan pemikiran mendalam. Fenomena ini menjadi salah satu indikator brainrot, di mana pola konsumsi informasi yang cepat dan repetitif membentuk kebiasaan kognitif yang cenderung dangkal.

Brainrot bukanlah kondisi permanen, melainkan dampak dari pola konsumsi digital yang tidak sehat. Kondisi ini bisa diatasi dengan menggeser kebiasaan pasif menjadi aktivitas yang lebih produktif. Berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan:

1. Membatasi Waktu Layar (Screen Time): Tetapkan batasan harian yang ketat untuk media sosial demi mencegah konsumsi konten tanpa henti doomscrolling.

2. Kurasi Konten yang Berkualitas: Alihkan fokus dari konten pendek yang minim substansi ke konten yang edukatif, inspiratif, atau memicu pemikiran kritis.

3. Aktivitas Fisik dan Sosial: Imbangi kehidupan digital dengan olahraga rutin dan interaksi tatap muka untuk mengembalikan kepekaan sensorik di dunia nyata.

4. Menjaga Higiene Tidur: Hindari paparan layar setidaknya satu jam sebelum tidur agar otak dapat beristirahat tanpa stimulasi dopamin yang berlebih.

5. Stimulasi Kognitif: Latih kembali daya fokus dengan aktivitas yang merangsang otak, seperti membaca buku, bermain strategi, atau mempelajari keterampilan baru.

Detoksifikasi Digital Berkala: Ambil jeda total dari perangkat elektronik (misalnya saat akhir pekan) untuk memulihkan kapasitas mental dan menjernihkan pikiran.

Brainrot adalah fenomena nyata yang dapat memengaruhi mental dan kognitif.  Dengan bijak menggunakan media sosial dan memilih tontonan yang baik, kita telah berupaya untuk menekan risiko terjadinya brainrot di era digital sekarang ini. Mari kita bangun masa depan di mana teknologi melayani kita, bukan malah  mengendalikan kita.

https://rsmmbogor.com/artikel-kesehatan
https://goodstats.id/article/gen-z-paling-rajin-konsumsi-media-daya-fokus-paling-rendah-yHpHz
https://www.halodoc.com/artikel/brain-rot-gejala-penyebab-dan-cara-mencegahnya
https://www.alodokter.com/brain-rot-lemah-otak-akibat-kecanduan-gadget

Oleh: Nasharuddin Al Maidin

Ikuti kegiatan kami lewat instagram, @ppimaroko

Tag Post :
Artikel,Minggu-an Menulis

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *