Ada satu hal yang cukup aneh dari kehidupan anak muda zaman sekarang. Mereka terlihatsibuk setiap hari, tetapi merasa dirinya diam di tempat, tak bergerak ke mana-mana. Sikucapangsikucapih. “Yang dikejar tidak dapat, yang dikandung berceceran.”
Bangun setiap pagi menatap daftar tugas kuliah yang begitu menumpuk. Ditambah kelas tambahan, tugas organisasi, target hafalan, serta notifikasi yang tiada henti. Belum lagi harus mengurus diri sendiri, mengingat kita sedang berada di perantauan yang jauh dari kata pulang. Semua itu seolah-olah tak memberi kita ruang untuk bernapas sejenak. Hari terasa penuh. Kalender begitu padat, apalagi pikiran.
Herannya, di penghujung minggu saat malam tiba, pernahkah kau bertanya pada dirimu sendiri, “Ke arah mana sebenarnya aku berjalan? Apakah aku benar-benar berkembang atau hanya berlari di tempat hingga kelelahan? Akan seperti apa akhir dari semua ini?”
Pertanyaan sederhana, tetapi cukup membuat mahasiswa Maroko duduk berjam-jam di kafe bersama secangkir kopi. Apalagi bagi kita, mahasiswa rantau yang hidupnya selalu berpindah dari satu kesibukan ke kesibukan lainnya, dari satu target ke target berikutnya. Rasanya, semakin sibuk seseorang, semakin keras pula pertanyaan itu bersuara di hati. Seolah-olah kita terus bergerak, tetapi tetap berada di tempat yang sama.
Inilah yang sering disebut sebagai produktivitas semu. Yakni, keadaan ketika seseorang terus aktif bergerak dan tampak sibuk tanpa adanya pertumbuhan nyata dalam dirinya. Kita merasa telah melangkah jauh, padahal faktanya jangankan berkembang, yang ada justru hanya berputar di lingkaran yang sama tanpa arah.
Ternyata, hal ini sudah dibahas sejak lama dalam Islam. Disebutkan dalam sebuah hadismasyhur dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA.
مَنِ استوى يوماهُ فهوَ مغبونٌ، ومَنْ كان آخرُ يوميهِ شرًا فهوَ
ملعونٌ
Salah satu kerugian terbesar umat Islam adalah ketika hari-harinya berlalu tanpa adanya peningkatan dalam hidupnya, terutama dalam hal ibadah. Umurnya terus bertambah, tetapi kualitas dirinya tetap berada di posisi yang sama.
Bukan hanya itu, Sayyidina Umar bin Khattab pun turut berkomentar mengenai fenomena ini. Yakni, ketika orang-orang sibuk mengevaluasi jadwal hariannya, tetapi tak pernah memperbaiki arah hidupnya. Sibuk berbenah, tetapi tidak pernah berbenih. Beliau berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah dirimu sebelum nantinya kamu yang akan dihisab.”
Kalimat sederhana ini cukup menggambarkan fenomena yang begitu dekat dengan kehidupan anak muda zaman sekarang; fenomena produktivitas semu.
Jujur saja, kita sering membuat list kegiatan dengan sangat rapi, lengkap dengan warna dan bentuk yang memanjakan mata. Padahal, pada akhirnya semua itu hanya menjadi dekorasi kamar yang jangankan disentuh, dilihat pun sangat jarang. Kita juga sering menonton video motivasi tentang disiplin, kebiasaan, manajemen hidup, tips sukses sejak muda, dan lain-lain. Ratusan video kita lewati, begitu pula ribuan detik kita habiskan. Berkali-kali pula kita menghadiri seminar pengembangan diri, tak bosan mencatat berbagai hal penting, seolah berada di ujung angin. Namun, ketikabulan-bulan berlalu, larut pula semangat itu bersama waktu.
Media sosial pun ikut andil. Semuanya menjadi begitu rumit. Hari ini, terlihat produktif jauh lebih mudah daripada benar-benar produktif.
Mengunggah secangkir kopi bersama buku agar tampak sibuk. Menulis kata-kata motivasi di story agar terlihat dewasa. Apa sebenarnya yang kita kejar? Benarkah hasil yang produktif, atau hanya mengejar label “produktif”?
Mahasiswa Maroko pun merasakan hal ini degan sangat nyata. Jadwal kuliah yang padat, tuntutan memahami bahasa setempat, tekanan organisasi, target yang kian bertambah, hingga kehidupan dalam perantauan, semuanya seakan sempurna membuat kita “terpaksa” terus bergerak. Sekian itu menciptakan ilusi yang mengatakan bahwa diam berarti tertinggal. Akhirnya, banyak orang sibuk bukan karena tujuan, melainkan karena takut tertinggal dari yang lain.
Kita melihat teman yang sudah aktif di forum ilmiah, yang lainnya sudah menghafal banyak matan di luar kepala. Belum lagi mereka yang telah mendapat jabatan tinggi di organisasi ataupun yang sudah mapan dengan usaha suksesnya. Lalu, tanpa sadar, kita ingin menjadi versi terbaik dari semua orang, tetapi justru membuang versi terbaik dari diri kita sendiri.
Dari sisi psikologi, salah satu penyebab terbesar dari produktivitas semu adalah kecanduan dopamin instan. Secara alami, otak kita menyukai sesuatu yang dapat memberi kepuasan cepat. video pendek, percakapan singkat di WhatsApp, aktivitas kecil, hingga checklist sederhana; semua itu memberi rasa puas secara instan. Inilah bukti bahwa kita lebih mudah memilih aktivitas yang terasa produktif daripada aktivitas yang benar-benar membangun.
Bahkan, mungkin ada sebagian dari kita yang membaca teks ini dengan cepat, seakan bisa menyerap seluruh isinya dalam waktu singkat. Padahal, mengetahui sesuatu secara singkat sangat berbeda dengan menjalankan sesuatu yang benar-benar dipahami makna dan tujuannya.
Faktanya, berapa banyak dari kita yang senang mengumpulkan pengetahuan, tetapi enggan menanggung beratnya perubahan. Bukankah Nabi Muhammad saw. pernah bersabda dalam hadis riwayat At-Tirmidzi:
لا تَزولُ قَدَمَا عَبْدٍ يومَ القيامةِ، حتَّى يُسأَلَ عن عُمُرِه؛ فيمَ أفناه؟ وعن عِلْمِه؛ فيم فعَلَ فيه؟
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, untuk apa dihabiskan, dan tentang ilmunya bagaimana diamalkan.”
Inilah penyakit generasi hari ini: tergila-gila pada ilmu yang tidak diamalkan, atau malah menyia-nyiakan diri dalam kesibukan yang tidak diketahui makna dan tujuannya. Persis seperti perkataan Al-Ghazali:
العِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ جُنُونٌ، وَالعَمَلُ بِغَيْرِ عِلْمٍ لاَ يَكُونُ
Pembaca yang budiman, malas bukanlah alasan terbesar di balik fenomena semu ini. Namun, Hal ini sering kali terjadi karena kita takut memulai sesuatu yang baru. Kita ingin hasil yang sempurna, langkah pertama yang rapi, dan proses yang sangat ideal. Kemudian, kita sibuk merancang, menimbang-nimbang, memikirkan, lalu akhirnya kembali ikut-ikutan pada sesuatu yang bahkan tidak kita ketahui arah tujuannya.
Padahal hidup jarang memberi kesempatan yang benar-benar sempurna. Terkadang, pertumbuhan justru di mulai dari sesuatu yang berantakan. Maka jangan sampai kita kehilangan arah dan berhadapan dengan masalah yang begitu dalam. Ibarat seseorang yang menekan gas mobil tanpa memastikan tujuan di peta. Cepat memang, tetapi semakin lama pedal gas ditekan, semakin jauh pula ia tersesat di akhir perjalanan. Coba tanyakan kepada diri masing-masing, “Apakah semua ini benar benar penting?”
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam salah satu kitabnya pernah berkata:
نفسك إن لم تشغلها بالحق شغلتك بالباطل
Artinya, “Jika jiwamu tidak disibukkan dengan kebenaran, maka ia akan disibukkan dengan kebatilan.” Begitulah hidup; jika tidak diarahkan dengan sadar, ia akan dipenuhi kesibukan yang sia-sia.
Solusi dari produktivitas semu bukanlah menambah motivasi. Kita tidak kekurangan motivasi; itu hanya menjadi hiburan emosional sementara, lalu kembali kosong setelahnya. Yang kita butuhkan sekarang adalah konsistensi. Sebab, pengetahuan tanpa praktik hanya akan menciptakan ilusi kemajuan.
Islam tidak mengajarkan kita untuk mencari ledakan semangat, tetapi justru menganjurkan keberlanjutan amal. Dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim disebutkan:
أَحَبُّ الأعمالِ إلى اللهِ أدْومُها و إن قَلَّ
Maka, solusi paling sederhana yang justru paling jarang dilakukan adalah memulai dari hal kecil yang nyata tujuan dan maknanya bagi diri. Bukan menunggu motivasi datang, melainkan mencari dan mempelajari sesuatu yang sesuai dengan tujuan. Bukan mencari sepuluh cara mengatur waktu, tetapi mengerjakan satu tugas tepat waktu. Bukan membuat target besar yang mengesankan, tetapi membangun kebiasaan kecil yang bertahan lama.
Pertumbuhan sejati tidak selalu dramatis dan tidak selalu bisa dipamerkan. Kadang, ia hadir dalam hal sederhana: memperbaiki jam tidur, membatasi scrolling, membaca buku, atau mengerjakan tugas alih-alih mencari distraksi yang tidak berguna. Mungkin itu tidak terlihat keren di media sosial, tetapi justru itulah yang diam-diam mengubah masa depan.
Bisa jadi, semua ini terjadi bukan karena kurangnya potensi diri, tetapi karena kita terlalu nyaman menjadi penonton hidup sendiri. Senang merencanakan, tetapi enggan melaksanakan. Senang mendengarkan, tetapi enggan mengubah kebiasaan.
Pada akhirnya, jika akhir-akhir ini kau merasa lelah tetapi tidak berkembang, mungkin masalahnya bukan pada kemampuanmu, melainkan karena kau terjebak dalam produktivitas semu. Kabar baiknya, itu bukan akhir. Kita masih bisa berubah. Bukan esok. Bukan saat semuanya sempurna. Tetapi hari ini. Detik ini. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Penulis : Ahmad Aiman Al Mazieni
Ikuti kegiatan kami lewat instagram, @ppimaroko
Simak artikel terbaru kami,
