MENYELAMATKAN MASA DEPAN EKOLOGI

Artikel Populer

Bumi kita telah diperkirakan telah eksis sejak 4,6 milyar tahun yang lalu. Sejak itu telah hidup berbagai organisme termasuk manusia modern (Homo Sapiens) yang diperkirakan oleh para ilmuwan telah ada sejak 150.000 tahun yang lalu. Berbagai evolusi dan revolusi telah meramaikan pentas dunia kita.


Tiga revolusi penting membentuk jalannya sejarah: Revolusi Kognitif mengawali sejarah sekitar 70.000 tahun yang lalu. Revolusi Agrikultur mempercepatnya sekitar 12.000 tahun yang lalu. Revolusi Saintifik, yang baru mulai berjalan 500 tahun yang lalu, kemungkinan akan mengakhiri sejarah dan memulai sesuatu yang benar-benar berbeda.


Revolusi Saintifik terjadi pada abad ke-16. Di dalamnya terdapat revolusi Industri. Banyak yang berpendapat bahwa revolusi Industri mulai berjalan pada abad ke-19. Namun sebenarnya, revolusi Industri berjalan sejak ditemukannya tiga penemuan besar di dunia. Pertama, api yang masih diperdebatkan awal mula penemuannya. Kedua, roda dan Tulisan yang keduanya ditemukan sekitar 5000 tahun yang lalu. Barulah kita meneruskan penemuan modern mesin uap, komputer, internet, dan lain-lain pada petengahan abad ke-19.Yang perlu dicatat, semakin industri atau teknologi berevolusi maka perubahan akan semakin cepat yang juga akan berdampak pada margin of error atau kerusakan. Manifestasi dari eror-eror tersebut dapat kita lihat dalam perang dunia ke-1 dan ke-2. Juga perubahan iklim yang nantinya kita baru sadar bahwa bumi kita sedang mengalami bencana krisis ekologi yang dahsyat.


Modernisme atau apa yang dklaim oleh Aufklarung sebagai abad Pencerahan justru berpartisipasi dalam kerusakan ekologi yang dahsyat melebihi sedikitnya kerusakan yang dilakukan zaman pada saat dipegang oleh agama-agama baik itu Islam, Kristen, Katolik, maupun agama-agama Paganisme sebelum masehi. Data mencatat, kita menghasilkan 1500 gigaton emisi karbon sejak penciptaan bumi sampai 2016. Dan setengah dari semua itu, dihasilkan oleh modernise atau abad pencerahan yang hanya berlangsung selama tiga abad.


Peran filsafat Barat sekuler juga sangat memengaruhi, terutama pada etika. Salah satu filosof etika yang hidup pada saat Eropa mengalami sekulerisme adalah Marquis de Sade (1740-1815). Menurutnya, ukuran baik atau buruk tergantung pada kenikmatan yang terasa dalam diri. Jika kita melakukan suatu tindakan yang membuat kita merasakan kenikmatan, maka tindakan itu baik. Walaupun tindakan itu bisa saja membahayakan atau menyakiti orang lain.

Marquis de Sade


Filsafat diatas merupakan doktrin yang dimulai pada apa yang disebut sebagai abad Pencerahan (the Age of Enlightement). Ia memengaruhi masyarakat modern untuk memenuhi kemauan manusia yang utamanya berorientasi pada kenikmatan manusia. Dalam hal ini termasuk juga eksploitasi alam semesta.
Maka dalam Islam, ayat al-Quran berbicara bahwa kerusakan yang ada di semesta ini karena kelakuanmu. Disini, Tuhan juga ingin pola pikir, pola pandang, dan pola rasa kita terhadap alam semesta seharusnya subjek-subjek bukan subjek-objek. Ini juga kritik oleh pos modernisme terhadap modernisme karena mereka menganggap semesta sebagai objek untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai subjek sehingga mereka mengeksploitasi alam dan memperkosa alam.


Pada akhirnya, dibutuhkan hati nurani dan kesadaran bahwa krisis ekologi benar-benar nyata. Salah satu remaja yang gencar menyuarakan dampak dari krisis ekologi yang parah berupa perubahan iklim adalah Greta Thunberg dengan pengikut Instagram sekitar 14 juta. Tapi ironisnya, banyak kalangan dari generasi Z yang tidak melihat isu ini sebagai isu penting.


Jika kita membandingkan dengan Kylie Jenner dengan pengikut Instagram sekitar 388 juta, kita melihat bahwa mereka memandang justru sosok yang lebih dianggap keren adalah sosok-sosok yang tidak memikirkan isu-isu jangka panjang, seperti perubahan iklim, kesenjangan sosial dan lain sebagainya.


Dimulai dari organisasi-organisasi kecil struktural atau bahkan individu-individu, marilah kita mulai membahas tentang isu-isu yang sifatnya jangka panjang umtuk melatih kita untuk berpikir bukan hanya jangka panjang tetapi juga berpikir strategis. Kita harus menyadari, kita harus menunjukkan hati nurani yang lebih untuk bukan hanya menyelamatkan tapi bisa memupuk masa depan agar lebih ramah lingkungan, lebih lestari, lebih keren.
Sefrou, 27 April 2023

Refrensi
Harari, Yufal Noah. (2017). Sapiens. PT. Pustaka Alvabet
Hidayat, ferry. (2016). Pengantar Teori Teori Filsafat. STBA Pertiwi Bekasi.

Youtube PPI Maroko

Perpustakaan PPI Maroko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *