Kita tahu bahwa semua orang pasti ingin sukses mencapai apa yang menjadi target dalam hidupnya. Namun, kenyataannya hanya sedikit yang benar-benar sampai pada tujuan tersebut. Mungkin dari sepuluh orang, hanya satu yang berhasil. Bukan karena yang lain tidak mampu, tetapi karena kebanyakan orang hanya sampai pada tahap “keinginan”. Jika hanya sebatas memiliki keinginan, tentu semua orang pun bisa. Tetapi tidak semuanya memiliki dorongan untuk bergerak lebih jauh dari itu.
Lalu, bagaimana cara kita mencapai apa yang kita tujukan? Di sinilah ambisi mengambil perannnya.
Ambisi adalah sebuah kata yang tidak asing di kalangan pelajar. Terutama di dunia yang kompetitif, pasti kita pernah menemukan orang yang berambisi, baik dalam persaingan maupun sekadar mencapai tujuan. Tentunya setiap orang akan berbeda dalam memaknai ambisi ini, entah itu positif maupun negatif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ambisi adalah keinginan atau hasrat yang kuat untuk mencapai sesuatu. Berbeda tentu antara orang yang mengejar cita-citanya dengan ambisi dan orang yang hanya ingin cita-citanya terwujud.
Orang yang memiliki ambisi ibarat seorang pelancong yang siap menempuh perjalanan panjang. Ambisi menjadi bahan bakar yang membara di dalam dirinya, mendorong setiap langkah. Bahkan ketika jalan terasa berat atau rintangan menghadang, ia akan menemukan cara-cara baru untuk terus melangkah karena semangat ambisi itu selalu menyalakan api dalam perjalanan hidupnya.
Bahan bakar yang dinamakan “ambisi” berperan seperti dopamin yang membuat seseorang merasakan energi untuk bekerja lebih totalitas. Menurut riset oleh Timothy A. Judge dan John D. Kammeyer‑Mueller dari University of Notre Dame dan University of Florida (Journal of Applied Psychology, 2012), menggunakan data tujuh dekade dari 717 individu berkecerdasan tinggi (Terman Life‑Cycle Study), mereka mengikuti dan meneliti individu dari masa kecil sekitar (1920-an) hingga usia 70 tahun. Dilihat pada rentang usia 20-50 tahun individu yang memiliki ambisi cenderung lebih tinggi pendidikannya, lebih bergengsi pekerjaannya, dan lebih besar pendapatannya.
Riset di atas menunjukkan bahwa ambisi memiliki dampak nyata. Lalu pertanyaannya, bagaimana seseorang dapat membangun ambisi itu? Ambisi bisa muncul dari motif yang jelas untuk mencapai suatu tujuan. Misalnya, kita bercita-cita menjadi pengajar karena di daerah tempat tinggal kita jumlah guru sangat sedikit dan penduduknya minim pendidikan. Maka rasa prihatin dapat memicu ambisi untuk membantu menyelesaikan masalah dengan belajar banyak ilmu pengetahuan yang nantinya digunakan untuk mengajar dan membimbing generasi muda. Dengan adanya motif sebuah pergerakan bisa menjadi lebih totalitas.
Kenapa demikian? Karena ada cinta di dalamnya, dan seseorang tentunya akan lebih berjuang untuk sesuatu yang dicintainya. Apalagi disini posisinya sedang merantau untuk mencari ilmu, maka seolah ada kewajiban di pundaknya.
Sekarang, jika kita melihat dari sisi pola hidup, orang yang berambisi rata-rata memiliki pola hidup yang tidak biasa di mata umum. Ingin menjadi hebat dalam suatu hal, maka ia akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk berlatih. Orang yang berambisi mampu mengatasi hambatan dalam dirinya; sekalipun rintangan besar menghadang, ia akan tetap menjalaninya. Baginya, rasa bosan dan malas hanyalah bagian dari proses yang harus diatasi secepat mungkin agar tidak menjadi hambatan dalam mencapai tujuan.
Pemikiran tentang ambisi juga telah menjadi perhatian para filsuf untuk memahami bagaimana manusia dapat melampaui batas dirinya. Salah satunya adalah Friedrich Nietzsche yang terkenal dengan gagasannya bahwa manusia ideal adalah Übermensch (manusia unggul). Baginya, ambisi sebagai tenaga pendorong untuk melampaui diri sendiri, menolak hidup yang biasa-biasa saja, dan menjadi versi terbaik dari diri.
Contoh kisah ambisi dapat dilihat dari CEO SpaceX, Elon Musk. Yang banyak inovasinnya menjadi sorotan dunia. Meskipun ia mendapat banyak kritik dan cacian karena pernah gagal tiga kali menerbangkan roket yang hampir membuat perusahaannya bangkrut, tidak menghentikannya. Justru kegagalan tersebut semakin memacu semangatnya lebih tinggi hingga akhirnya SpaceX berhasil menerbangkan roket pertamanya falcon 1. Kesuksesan roket pertama membuka jalan untuk proyek roket besar selanjutnya: Falcon 9, Dragon, dan Starship.
Dari ambisi Elon Musk, kita dapat melihat nilai positif bahwasanya sikap berani mengambil risiko dan tetap fokus pada tujuan dapat membawanya kepada sesuatu yang lebih baik. Orang seperti Elon Musk dengan ambisi yang tinggi tidak akan cukup pada satu pencapaian, tetapi akan terus menciptakan inovasi, seperti ambisi terbarunya untuk membangun kota di Mars. Saya meyakini bahwa kebanyakan orang sukses adalah mereka yang pernah memiliki ambisi besar dalam hidupnya, entah itu karena motif atau tujuan pribadi.
Bayangkan jika seseorang hidup dengan ambisi di dalam dirinya, maka dapat dipastikan ia berani mencoba hal baru. Untuk mencapai kesuksesan, terkadang harus ada jalan berbeda yang ditempuh harus ada risiko yang diterima. Orang dengan ambisi pasti berani mencoba, karena baginya, mencoba hal baru berarti membuka gerbang menuju kesuksesan.
Tidak hanya di dunia teknologi, dunia bisnis pun menunjukan bagaimana ambisi mendorong seseorang untuk menciptakan inovasi dan memenangkan persaingan. Di tengah “samudera merah” yang ramai digunakan banyak kalangan, orang yang berambisi akan mencari cara untuk tetap memenangkan pertarungan, yakni dengan menciptakan inovasi dan perbedaan. Dialah “samudera biru”, sang pemenang yang terus beradaptasi mencari inovasi.
Kenapa demikian? Karena terkadang kita menjumpai bahwa makna ambisi itu sendiri bukan untuk sekadar mencapai tujuan, tetapi untuk membedakan diri dari orang lain.
Dan inilah kehidupan, seperti perlombaan, ada yang kalah dan ada yang menang. Di sini manusia dituntut untuk bersaing meraih pencapaian serta hal-hal yang bersifat kebutuhan duniawi. Maka, ambisi disini diperlukan.
Apakah dalam agama kita terdapat anjuran untuk memiliki ambisi? Dalam Al-Qur’an terdapat isyarat yang mendukung hal tersebut, seperti firman Allah dalam Surat An-Najm ayat 39, “وأَن لّيس للْإنسان إلّا ما سعىٰ”. Menegaskan bahwasanya kerja keras adalah bagian dari sunnatullah yang harus diperjuangkan untuk meraih apapun, baik tujuan duniawi maupun ukhrowi. Kita sebagai muslim harus melihat bahwasanya ambisi ini bukan sesuatu yang selalu berkaitan dengan pencapaian materi saja, tetapi ambisi juga memiliki nilai spiritual yang tinggi. Dalam beribadah dan usaha menggapai ridha Allah, manusia pun harus berlomba memperbanyak amal kebaikan. Kurang pantas rasanya bila manusia menginginkan kehidupan yang baik di akhirat nanti, sementara selama hidup hanya berleha-leha, dan terlena oleh kenikmatan duniawi tanpa berambisi untuk mendapatkan ridha sang pencipta. Maka dalam konteks ini, ambisi juga dibutuhkan oleh setiap muslim.
Namun meskipun ambisi memiliki posisi penting dalam Islam dan menjadi dorongan bagi seorang muslim untuk terus berusaha, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap nilai kebaikan tetap membutuhkan kendali. Ambisi yang tidak ditempatkan pada porsinya dapat berubah arah, bahkan bertentangan dengan tujuan awalnya. Karena itu, diperlukan pemahaman yang utuh agar semangat berjuang tetap membawa seseorang kepada kemaslahatan, bukan sebaliknya.
Nah, apakah ambisi ini memiliki dampak buruk? Sebenarnya tidak ada salahnya menjadi seseorang yang ambisius. Namun ambisi yang tidak dikendalikan dapat berdampak buruk, seperti menimbulkan stres atau kerusakan demi tercapainya tujuan. Berikut cara agar ambisi tetap terarah:
Pertama, niatkan karena Allah dan untuk kemaslahatan. Di tengah kuatnya ambisi yang menguasai pikiran dan langkah, jangan lupa bahwa setiap usaha kembali pada niat yang benar. Jika tujuan kita dilandasi kebaikan dan kemaslahatan, maka setiap langkah dan usaha kita diberikan kemudahan dan keberkahan. Ambisi yang diarahkan untuk kebaikan jauh lebih baik daripada ambisi karena ego.
Kedua, menciptakan batasan yang jelas. Kita perlu mengetahui batasan antara berusaha keras dan memaksakan diri. Kelola ekspetasi agar tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah, tetapi sesuai kemampuan. Bangun disiplin, bukan obsesi. Ambisi yang sehat adalah ambisi yang berdisiplin. Sedangkan ambisi yang berbahaya adalah obsesi– yang jika tidak tercapai akan menimbulkan kekecewaan.
Ketiga, belajar menerima kegagalan. Salah satu dampak ambisi tidak sehat adalah ketidakmampuan menerima kegagalan, terlalu berharap, dan menganggap kegagalan sebagai aib. Padahal, hidup tidak ada yang mulus. Maka penting untuk menjaga ambisi tetap sehat dan terarah, dengan menjadikan kegagalan sebagai rem untuk evaluasi, bukan tembok yang membuat hancur. Kita boleh berikhtiar tetapi apapun hasilnya kita tetap bertawakal.
Keempat, menjaga keseimbangan hidup sehat dan beribadah. Penting untuk menyadari bahwa hidup bukan selalu tentang mencapai tujuan. Kita tetap manusia yang butuh istirahat dan ketenangan, jika ambisi terlalu keras, yang terjadi justru bisa tumbang di jalan. Karena orang yang ingin berhasil dalam jangka waktu yang panjang harus membiasakan merawat diri.
Saya kira ini penting untuk kita sebagai pelajar, yang sedang berada di fase banyak tantangan, fase untuk menentukan masa depan, konsep ini bisa membuat langkah kita lebih totalitas dan terarah. Pelajar yang punya ambisi pasti lebih tahan banting, tidak mudah tumbang karena satu kegagalan. Maka mehamami hal ini berarti memahami masa depan kita sendiri, dengan catatan tetap dalam beberapa batas yang sudah kita bahas diatas.
Jadi, tetaplah menjadi orang yang ambisius, karena ambisius bukan sikap yang selalu negatif selama kita bisa mengelola dan memberi batas. Ambisi sebagai modal penting dan dorongan kuat untuk berkembang jika diarahkan dengan tepat, baik mencapai target pribadi maupun tujuan lainnya.
Demikian tulisan ini datang dari sebuah pesan nasihat yang pernah disampaikan seorang guru kepada muridnya. Semoga bermanfaat.
Oleh : Muhammad Ghilba Badruddin Baariq
Casablanca, 23 November 2025
Ikuti kegiatan kami lewat instagram, @ppimaroko
Simak artikel terbaru kami,