Nyawa Logika: Ketika Akal Bukan Sekadar Mesin Hitung

Ada satu momen yang mungkin pernah kita alami duduk di sebuah forum diskusi, entah itu rapat organisasi, kajian, atau sekadar obrolan di cafe, lalu tiba-tiba ada satu argumen yang terdengar runtut, rapi, bahkan sulit dibantah tapi entah kenapa terasa hambar. Logikanya benar, tapi rasanya ada yang kurang. Di titik itulah kita sebenarnya sedang meraba sesuatu yang lebih dalam dari sekadar logika, kita sedang mencari nyawanya.

Logika yang Hidup, Logika yang Mati

Secara bahasa, logika berasal dari kata Yunani logos yang berarti kata, pikiran, atau akal budi. Sejak awal, logika memang lahir sebagai alat berpikir cara menyusun argumen agar sebuah kesimpulan benar-benar mengikuti dari premis-premisnya. Dalam pengertian teknis ini, logika bekerja seperti kerangka: kokoh, presisi, dan tidak kenal kompromi. Dua ditambah dua sama dengan empat, di mana pun, kapan pun, siapa pun yang menghitungnya.

Tapi kerangka saja tidak membuat sesuatu hidup. Tubuh manusia juga punya kerangka tulang yang kokoh, namun yang membuatnya bernyawa adalah detak jantung, aliran darah, dan niat di balik setiap geraknya. Begitu pula logika, Ia bisa disusun dengan sempurna secara struktur namun tetap terasa kosong bahkan bisa menyesatkan jika dipakai tanpa kejujuran, tanpa nurani, dan tanpa memahami konteks di baliknya.

Kita mengenal istilah sofisme: argumen yang secara bentuk terlihat logis, tapi sebenarnya dibangun untuk menipu, bukan untuk mencari kebenaran. Di sinilah letak bedanya logika yang bernyawa dan logika yang sekadar hidup di atas kertas. Logika yang bernyawa selalu berpihak pada kejujuran berpikir, bukan pada kemenangan berdebat.

Warisan Akal yang Panjang

Bagi kita yang menempuh pendidikan di Timur Tengah ataupun di Pondok pesantren/Madrasah , mantiq tentu bukan hal asing. Kitab Isaghuji karya Atsir al-Din al-Abhari maupun Kitab  As-Sullam al-Munawraq karya Syekh Abdurrahman al-Akhdari (wafat 1575 M). Jauh sebelum logika masuk sebagai mata kuliah modern di kampus-kampus Barat, ilmu ini sudah diwariskan turun-temurun dalam sanad keilmuan Islam dan ada jauh sebelum kitab-kitab matan yang biasa kita kaji itu disusun, Al-Farabi dan Ibnu Sina telah menerjemahkan serta mengembangkan logika Aristoteles ke dalam kerangka keilmuan Islam.

Hari ini, kita hidup di tengah arus banjir informasi. Satu isu bisa memunculkan ratusan opini dalam hitungan menit, masing-masing membawa “logikanya” sendiri. Sayangnya, tidak semua yang terdengar logis benar-benar berangkat dari niat mencari kebenaran. Banyak argumen yang disusun rapi hanya untuk menggiring opini, memancing emosi, atau sekadar mencari validasi di ruang gaung yang sudah sepihak sejak awal.

Di sinilah kita  sebagai pelajar, sebagai anak rantau, sebagai bagian dari komunitas yang setiap hari bertemu dengan keputusan besar dan kecil  perlu terus melatih logika yang hidup. Bukan logika yang hanya pintar menyusun kalimat, tapi logika yang jujur mengakui ketika ia salah, logika yang mau mendengar sebelum menyimpulkan, logika yang tetap punya empati saat berhadapan dengan pandangan yang berbeda.

Pada zaman persaingan seperti ini, berbicara logis bisa menjadi keunggulan tersendiri. Akan tetapi hal itu tidak akan terbentuk dalam waktu satu malam. Perlu latihan rutin dan membiasakan diri untuk memperhatikan ucapan diri sendiri. Menurut Oh Su Hyang (Dosen & Pakar komunikasi terkenal di korea selatan) Ada lima hal untuk berbicara logis. Dengan melakukan lima hal berikut, Kita dapat merasakan bahwa ucapan kita dipenuhi oleh logika yang kokoh :

1. Berikan Alasan yang Tepat Untuk Argumen Anda

Kita selalu diajarkan untuk mengutarakan alasan di balik pendapat kita saat menulis esai. Begitu pula dengan ucapan. Dalam percakapan sehari-hari, kita mungkin sering melupakannya. Hal ini karena kita tidak terbiasa menerapkan pola pikir logis dalam kegiatan sehari-hari. Perbedaan antara pendapat yang beralasan dan yang tidak beralasan bagaikan bumi dan langit. Kita ambil contoh seorang mahasiswa yang ingin jalan-jalan ke Eropa dan meminta izin kepada orangtuanya. Jika ia hanya mengulang-ulang pendapatnya, maka akan sulit untuk menggerakkan hati orang tuanya. Lain halnya ketika ia bisa menyampaikan alasannya. “Izinkan aku untuk pergi backpacking ke Eropa satu bulan saja. Apalagi di era global seperti ini, penting untuk memperluas pengetahuan dan nanti pun saat melamar kerja bisa dimasukkan sebagai salah satu pengalaman (alasan).” Jika sudah begini, orangtua mana yang akan melarang anaknya jalan-jalan ke Eropa? Terutama di dunia kerja, karyawan yang mampu menyampaikan alasannya dengan baik pasti akan disukai oleh atasan.

2. Hindari Lompatan Logika dan Melebih-lebihkan

Hanya karena sebagian orang Maroko suka makan milwi, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa seluruh orang Maroko itu doyan milwi. Kita harus ingat untuk tidak menggeneralisasi sesuatu hanya dari contoh yang kecil. Kita juga harus berhati-hati terhadap lompatan logika. Dalam pepatah Jepang ada ungkapan “jika angin berhembus, maka toko bak akan laris”. Saat angin berhembus, banyak debu beterbangan sehingga orang-orang akan pergi ke pemandian umum, tetapi karena kolam di pemandian umum sedikit, maka pesanan atas bak mandi akan menjadi banyak. Meskipun terdengar masuk akal, tetapi kita tahu bahwa hubungan antara angin bertiup dan toko bak laris ini sangatlah jauh.

3. Konsisten dalam Bersikap

Saat kondisi argumen kita lemah, kita akan jatuh ke dalam kontradiksi dan posisi yang membingungkan, sebab kita akan mengeluarkan argumen baru yang berbeda dengan apa yang sebelumnya kita ungkapkan. Oleh karena itu, kita harus memiliki sikap konsisten dengan pendapat kita dari awal hingga akhir.

4. Gunakan Kata-Kata Sederhana

Ada orang yang suka menggunakan bahasa Inggris, karakter Mandarin, atau istilah-istilah tinggi yang hanya diketahui dirinya sendiri seolah-olah ia yang paling tahu segalanya. Alih-alih membantu dalam menyampaikan pendapatnya, hal ini justru akan membuatnya menerima penolakan dari lawan bicara. Ingatlah bahwa ucapan yang sulit dimengerti adalah penghalang komunikasi.

5. Tetap Tenang

Kita dapat menemukan orang-orang yang sentimental saat berbicara dalam acara debat di televisi. Mereka sering kali melontarkan perkataan-perkataan yang tidak berhubungan dengan topik pembicaraan. Contohnya mencari kesalahan untuk menyerang secara personal. Hal ini muncul karena situasinya menjengkelkan. Ingatlah, kekesalan merupakan hal yang dilarang karena akan menciptakan pembicaraan yang tidak logis dan bersikap tenang sangat dibutuhkan dalam situasi seperti ini.

Logika yang bernyawa bukan logika yang membuat kita merasa paling pintar, melainkan logika yang membuat kita semakin rendah hati, karena semakin dalam kita berpikir, semakin kita sadar betapa luasnya hal yang belum kita ketahui.

Pada akhirnya, akal yang sehat bukan sekadar akal yang bisa menghitung dan menyusun argumen dengan rapi, tapi akal yang tetap punya hati saat digunakan. Karena selogis apapun sebuah pemikiran, jika tak lagi punya nurani, ia hanya akan menjadi kerangka kosong yang tampak hidup, tapi sebenarnya tak bernyawa.

Wallahu a’lam.

Referensi : 

Ikuti kegiatan kami lewat instagram, @ppimaroko

Simak artikel terbaru kami,

Tag Post :
Minggu-an Menulis

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *