Hidup yang kita jalani hari ini, kemarin, dan besok adalah milik Tuhan. Semuanya yang ada di dunia ini.
Barang yang kamu miliki sekarang, hewan kesayanganmu, keluarga, dan teman, semuanya milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Namun, bukan berarti kita tidak mensyukurinya, karena pada hakikatnya Everything Belongs to God, segalanya milik Tuhan. Kutipan ini mungkin sudah sering kita dengar, bahkan ketika kita merasa gagal ataupun berhasil, atau ketika kita kehilangan sesuatu yang berharga. Maka kutipan inilah yang sering kali terlintas di pikiran kita; bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan, pada hakikatnya adalah milik-Nya.
Contoh lain, ketika melihat orang yang mungkin lebih dari kita, terkadang kita lupa akan proses yang kita lalui, kita lupa sejauh apa proses yang kita jalani selama ini. Terkadang, yang orang lain lihat hanyalah hasil, tanpa melihat lika-liku proses kita. Tidakkah seharusnya kita mensyukuri sejauh apa proses yang telah kita jalani?
Proses panjang yang kau jalani setiap harinya, yang tidak akan orang pahami. Bagaimana dirimu jatuh dan bangkit melawan rintangan-rintangan yang hadir, yang sebelumnya tidak pernah kau lalui. Sedikit demi sedikit semua itu menjadi pelajaran terbesar untuk diri kita. Mungkin hasilnya belum seberapa, namun suatu saat yang akan merasakannya adalah dirimu sendiri. Orang lain tidak perlu tahu akan prosesmu. Nikmatilah proses dan hasilmu. At least, you tried your best.
Karena kembali lagi, semuanya milik Tuhan.
Ketika kita melihat orang yang sudah lebih jauh berada di atas, kita tidak tahu proses apa yang mereka lalui hingga tumbuh di titik itu.
Just focus on yourself, karena yang membawa diri kita hanyalah diri kita sendiri. Semangat juga tumbuh dari diri kita. Sebanyak apapun motivasi yang datang, jika kamu tidak berani untuk melawan arusnya, maka kamu akan tetap berada di posisi yang sama.
Saya pernah mendapat kutipan dari kakak kelas saya:
“Allah tidak menyuruh hamba-Nya untuk menjadi pintar, tetapi Allah menyuruh kita untuk belajar. Kenapa? Karena ketika orang menjadi pintar, ia bisa menjadi sombong seperti jin.”
Kutipan yang singkat, namun sangat bermakna.
Allah-lah yang memiliki segala ilmu di dunia ini dan menyuruh kita untuk menuntut ilmu, bukan untuk sombong, tetapi untuk memberi manfaat. Karena bukanlah ilmu jika tidak diamalkan.
Fokuslah dengan menuntut ilmu, karena menuntut ilmu itu wajib, sebagaimana hadis yang sering kali kita dengar:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.”
(HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al-Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913).
Saya berkuliah di Maroko, negeri yang sering disebut dengan negeri Maghrib, atau negeri matahari terbenam. Setiap kali saya berjalan di kampus, saya melewati keindahan masjid yang besar nan indah, juga suara laut yang selau ikut meromantisasi, dan menambah syahdu suasana. Dari hal-hal sederhana seperti itulah saya sadar, bahwa rasa syukur tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Terkadang, kita hanya perlu berhenti sejenak untuk menikmati apa yang ada di sekitar. Memberi ruang pada diri sendiri untuk melihat hal-hal sederhana juga bisa menjadi salah satu bentuk penghargaan diri sendiri.
Terkadang bersyukur sesederhana itu, atau bisa kita katakan sebagai self reward untuk menyenangkan diri kita. Terkadang kita juga butuh self reward untuk diri kita yang terlalu keras dalam berproses. Kita bisa menikmati alam sekitar, atau mungkin sesuatu yang sederhana yang membuatmu sedikit lega dan bersyukur. Bagiku, hanya dengan membeli seporsi es krim dan duduk di tepi pantai Casablanca, rasanya lebih tenang dan segar.

“Let’s do it! Do whatever you want.”
Ibarat kata, hidup ini cuma satu kali. Lakukan apa yang kalian suka, apa yang kalian inginkan, dengan batasan-batasan yang baik. Lakukan hal positif, karena kembali lagi, kita adalah milik Allah, dan Allah mempunyai peraturan-peraturan bagi hamba-Nya.
Meski hidup ini hanya satu kali, kita harus tahu sejauh apa batasan yang kita inginkan. Banyak hal positif di dunia ini yang menyenangkan, seperti travelling atau pergi ke tempat-tempat terdekat yang indah. Allah pernah menyarankan hamba-Nya untuk mengunjungi tempat-tempat di dunia ini, sebagaimana dalam firman-Nya pada Surah Al-Mulk ayat 15:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِۖ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu kembali setelah dibangkitkan.”
(QS. Al-Mulk [67]: 15).
Karena di muka bumi ini semuanya milik Tuhan. Allah telah menciptakan bumi seindah-indahnya. Begitu pula isi bumi ini adalah milik Allah, termasuk tumbuhan, hewan, dan manusia di muka bumi ini, termasuk orang-orang yang hadir dalam kehidupan kita.
Kalian pasti sering mendengar ungkapan people come and go. Setiap manusia yang datang dalam kehidupan kita, pada akhirnya akan pergi. Teman terdekat kita sekarang, keluarga kita, bahkan semua orang yang kita kenal, suatu hari pasti akan meninggalkan kita.
Namun, haruskah kita berlarut-larut memikirkan kepergian mereka ? Tidak.
Kehidupan ini akan terus mengalir bagai air sungai yang menemui batu-batu yang berbeda. Semua orang yang kamu kenal adalah milik Allah. Berbahagialah bersama mereka saat ini. Syukurilah orang-orang yang ada di sekitarmu. Berbuat baiklah, karena mereka dan diri kita sendiri adalah milik Allah dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.
Ikuti kegiatan kami lewat instagram, @ppimaroko
Simak artikel terbaru kami,
satu Respon