Mengeja Makna di Balik Silent Treatment: Menenangkan Diri atau Menghindari Masalah?

“Saying nothing sometimes says the most”
(Tidak mengatakan apa pun terkadang justru yang mengatakan paling banyak.)
–Emily Dickinson

Dalam hubungan, baik pertemanan maupun percintaan, diam sering dijadikan jalan keluar saat konflik muncul. Banyak orang menganggap diam sebagai cara paling aman untuk menghindari pertengkaran. Dikutip dari sebuah jurnal, 75% orang Amerika pernah menerima perlakuan diam dari orang yang mereka cintai, sedangkan 67% mengaku pernah memberikan perlakuan diam kepada orang yang mereka cintai (Faulkner dkk., 1997). Hal ini menunjukkan bahwa silent treatment merupakan fenomena yang cukup umum terjadi dalam hubungan dengan orang lain, bahkan di antara mereka yang dekat secara emosional.

Namun, para psikolog justru melihat silent treatment sebagai tanda adanya kesulitan dalam mengelola emosi dan komunikasi. Menurut Salsabila Nur Hasna (2025) dalam Character: Jurnal Penelitian Psikologi, perilaku silent treatment dijelaskan sebagai bentuk komunikasi nonverbal yang bersifat pasif-agresif, di mana seseorang memilih untuk tidak merespons atau mengabaikan individu lain sebagai upaya menghindari konflik maupun sebagai bentuk hukuman emosional.
Mengutip dari artikel The Silent Treatment: Why not speaking is also communication (Thrya Albdulraheem) yang diterbitkan oleh Universitas Islam Indonesia; dalam kajian semiotika, segala sesuatu yang dapat menyampaikan makna disebut tanda(sign). Artinya, bukan hanya kata kata atau simbol visual yang bisa dianggap tanda, tetapi juga hal-hal yang tampak “tidak berkata apa-apa” –seperti diam. Keheningan sendiri bisa menjadi penanda (signifier) dari berbagai perasaan tersembunyi. Dalam kata lain, diam bukan berarti kosong dari makna; justru ia bisa berbicara banyak tanpa satu kata pun terucap.

“Silence can exist without speech, but speech cannot exist without silence.”
–Max Picard (1952)

Silent treatment, meskipun sering terlihat sebagai bentuk penghindaran, sebenarnya menyimpan perasaan yang jauh lebih kompleks–seperti kekecewaan, kemarahan, atau rasa terluka yang tidak bisa atau tidak ingin diungkapkan secara langsung.
Salah satu pemicu yang paling umum adalah rasa marah. Ketika seseorang merasa disakiti, dikhianati, atau tidak dihargai, mereka bisa kesulitan menyalurkan amarahnya secara verbal. Akibatnya, mereka memilih untuk menarik diri dan menggunakan diam sebagai bentuk “hukuman” halus untuk menyampaikan ketidakpuasan. Dari sisi pelaku, perilaku ini sering dianggap sebagai cara aman untuk menghindari konfrontasi yang bisa memperburuk situasi. Mereka meyakini bahwa diam dapat mencegah pertengkaran atau kata-kata yang mungkin menyakitkan. Namun, menurut penelitian yang sama, sikap ini justru memperpanjang ketegangan dan menghambat penyelesaian masalah karena komunikasi yang terputus hanya menambah jarak emosional di antara kedua pihak.

Sementara itu, dari sisi penerima, silent treatment bisa terasa membingungkan dan menyakitkan. Tanpa penjelasan, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya salah dan sering kali menafsirkan diam sebagai bentuk penolakan. Hal ini dapat menurunkan rasa percaya diri, menimbulkan kecemasan, bahkan perasaan tidak berharga.
Dalam konteks ini, diam yang dimaksudkan untuk “menenangkan” justru bisa berubah menjadi senjata yang melukai secara emosional, terutama jika tidak diikuti dengan niat untuk memulihkan komunikasi yang sehat.

Meski silent treatment sering terjadi tanpa disadari, hal ini bisa dicegah dengan membangun kebiasaan komunikasi yang lebih terbuka. Salah satu langkah awalnya adalah menyadari emosi sendiri sebelum memilih untuk diam. Alih-alih menarik diri, seseorang bisa menyampaikan bahwa mereka membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan diri, seperti mengatakan, “aku butuh waktu untuk sendiri, nanti kita bahas lagi,ya.” Cara sederhana seperti ini membantu kedua pihak memahami situasi tanpa merasa diabaikan. Hal seperti ini menunjukkan kedewasaan emosional bahwa kita bisa menjaga batas dan perasaan sendiri tanpa harus menutup diri sepenuhnya dari orang lain.
 
Kesimpulannya, silent treatment dapat dipahami sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri yang muncul ketika seseorang mengalami kesulitan dalam mengelola emosi dan komunikasi. Meskipun sering dianggap sebagai cara untuk menenangkan diri, perilaku ini justru berpotensi menimbulkan jarak emosional dan ketegangan berkepanjangan. Oleh karena itu, kemampuan untuk mengenali dan mengekspresikan emosi secara asertif menjadi kunci dalam membangun hubungan yang sehat dan saling memahami.

Ikuti kegiatan kami lewat instagram, @ppimaroko

Simak artikel terbaru kami,

Tag Post :
Minggu-an Menulis

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *