(Spoiler – Pada akhir tulisan ini terdapat bait syair berbahar wafir yang secara istimewa dipersembahkan untuk kawan-kawan mahasiswa baru Maroko 2025 jalur Kemenag. Qasidah yang berjumlah 13 bait itu diberi judul: Nujumul Maghrib).
Safar dalam Mencari Ilmu
Pergi mengembara seakan menjadi Sunnatullah atau ketetapan Allah yang wajib dilalui para penuntut ilmu. Sejak dahulu para ulama rela berkorban berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun demi menuntut ilmu. Meninggalkan kampung halaman dan orang-orang tercinta seperti kedua orang tua, guru, atau keluarga. Imam Bukhari berkelana selama satu bulan demi mendengar satu hadis saja. Butuh tekad dan keberanian untuk bisa melakukannya.
Syekh Baqi bin Makhlad Al-Qurthubi berguru kepada Imam Ahmad bin Hanbal, yang di kemudian hari menjadi murid kebanggaan. Selama 34 tahun berjalan dari negerinya, Andalusia, menuju Mesir, Syam, Hijaz, dan Baghdad, hanya dengan kedua kakinya. “Beliau kuat dalam berjalan. Aku tidak pernah melihatnya berkendara.” ujar salah seorang muridnya.[i]
Qadarullah, saat ini kita berada di negeri Maroko yang bertetangga dengan negerinya, Andalusia (Spanyol).
Al-Farahidi, Bapak Ilmu Arudh
Selain meninggalkan kampung halaman, para ulama kita terdahulu juga menjadi pelopor ilmu yang penemuannya menjadi kebanggaan bagi orang setelahnya. Salah satunya Ilmu Arudh. Sebuah disiplin ilmu untuk mengetahui kebenaran suatu syair Arab dari segi wazannya. Peletak batu pertama disiplin ilmu ini ialah Imam Khalil bin Ahmad Al-Farahidi Rahimahullahu Ta’ala.
Beliau lahir pada tahun 100 H dan wafat pada tahun 175 H di kota Bashrah. Sastrawan yang cerdas, ahli dalam Ilmu nahwu dan sejarah, serta penemu syakl atau harakat. Juga menyusun sebuah karya fenomenal berupa kamus yang berjudul Kitab al-‘Ain. Dinamakan demikian karena beliau mengurutkan kosakata di dalamnya dengan urutan makharijul huruf dari yang paling jauh yaitu tenggorokan, ke yang paling dekat yaitu lidah atau bibir. Menurutnya, huruf ‘ain lah yang paling jauh makhrajnya.[ii] Di antara muridnya yang terkenal ialah Imam Sibawaih, sang ahli Nahwu.
Proses Panjang Perumusan Ilmu Arudh
Kembali lagi kepada Ilmu Arudh, bukan main pengorbanan Imam Al-Farahidi dalam menyusun dan mempelopori ilmu ini. Begitu sabarnya beliau ketika orang-orang di sekitarnya menganggap beliau gila, bahkan oleh putranya sendiri.[iii] Disebabkan beliau sering menyendiri di kamar untuk mengetuk meja dengan kayu atau sesuatu yang serupa, sambil mengucapkan wazan-wazan arudh فَاعِلُنْ مُسْتَفْعِلُنْ فَعُولُنْ demi mengetahui ketukan setiap syair Arab.
Saat putranya mendapati beliau berbuat demikian, si anak melaporkan warga sekitar bahwa sang ayah telah gila. Mengetahui ahwal tersebut, lahirlah ucapan beliau yang sangat masyhur untuk menjawab sangkaan mereka (ditulis dengan Bahar Kamil):
لَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا أَقُولُ عَذَرْتَنِي … أَوْ كُنْتَ تَعْلَمُ مَا تَقُولُ عَذَلْتُكَا
لٰكِنْ جَهِلْتَ مَقَالَتِي فَعَذَلْتَنِي … وَعَلِمْتُ أَنَّكَ جَاهِلٌ فَعَذَرْتُكَا
Andai kalian tahu apa yang kuperbuat, niscaya kalian memaklumiku.
Atau, kalau kalian sudah tahu tuduhanmu salah, niscaya aku mencelamu.
Namun sayangnya kalian tidak tahu perbuatanku, sehingga kau bebas mencelaku.
Dan karena aku tahu kalian tidak tahu, aku maafkan saja.
Beliau kumpulkan semua syair yang bisa dikumpulkan, mulai syair zaman jahiliyah sampai syair di zamannya. Masa perumusan yang tidak sebentar, satu persatu dikaji dan ditakthi’ sehingga beliau berhasil menyusun Ilmu Arudh, serta menyimpulkan bahwa semua syair Arab tidak terlepas dari 15 bahar (pola kunci syair). Dan di kemudian hari, muridnya yang bernama Al-Akhfasy menambahkan satu bahar lagi bernama Mutadarik sehingga genap 16 bahar.
Awal Mula Ilmu Arudh Ditemukan
Ada beberapa riwayat berbeda tentang bagaimana awal mula Imam Al-Farahidi memperoleh ilham berupa ide untuk merumuskan Ilmu Arudh ini.
Riwayat pertama menceritakan bahwa Imam Al-Farahidi sedang melaksanakan haji di Baitullah. Ketika itu beliau berdoa meminta kepada Allah Ta’ala agar mengaruniakan kepadanya suatu ilmu yang belum pernah ditemukan oleh siapa pun. Seusai kembali dari ibadah haji, Allah Ta’ala memberinya futuh untuk menemukan Ilmu Arudh. [iv]
Riwayat yang lain bercerita bahwa, suatu hari beliau sedang berjalan di salah satu jalan di kota Bashrah. Ketika melewati Suq al-Haddadin (tempat para pandai besi), tempaan besi yang mereka pukulkan terdengar indah dan memiliki irama tertentu dalam pukulannya. Akhirnya, beliau terinspirasi untuk menciptakan disiplin ilmu ini.
Riwayat yang lain lagi: Imam al-Akhfasy meriwayatkan dari Al-Hasan bin Yazid. Al-Hasan bercerita: Al-Khalil bertanya kepadaku tentang Ilmu Arudh, lalu aku balik bertanya, “Bukankah kamu tahu asalnya?” Beliau menjawab, “Tentu! Aku melewati kota Madinah untuk haji. Saat aku berada di satu gang Madinah, aku melihat seorang syekh di depan pintu sedang mengajari seorang anak laki-laki dan berkata kepadanya: Ucapkan:
نعم لا / نعم لا لا / نعم لا / نعم لا لا
نعم لا / نعم لا لا / نعم لا / نعم لا لا
Maka aku mendekatinya dan memberi salam, lalu bertanya, “Wahai syekh, apa yang kau bacakan kepada anak ini?” Dia menyebutkan bahwa ini adalah sesuatu yang diwariskan oleh anak-anak ini dari nenek moyang mereka, dan mereka menyebutnya Tan’im karena ada kata na’am di dalamnya. Lalu aku pergi haji. Dan ketika kembali ke Madinah, aku menguasainya.”[v]
Masih ada beberapa riwayat lain lagi. Namun kami cukupkan agar lebih ringkas.
Beberapa Bahar yang Masyhur Dipakai dalam Syair
Dari keenam belas bahar dalam Ilmu Arudh, setidaknya ada beberapa bahar yang paling sering digunakan dalam syair. Disertakan juga taf’ilat (kunci) dan contohnya, tanpa menyertakan zihafat dan ilal-nya::
1. Bahar Basith:
لَمْ يَحْتَلِمْ / قَطُّ طَـ / ـهَ مُطْلَقًا / أَبَدًا
مستفعلن / فاعلن / مستفعلن / فاعلن
وَمَا تَثَا / ءَبَ أَصْـ / ـلًا فِي مَدَى الزْ / زَمَنِ
مستفعلن / فاعلن / مستفعلن / فاعلن
2. Bahar Thawil:
كَلَامٌ / قَدِيمٌ لَا / يُمَلُّ / سَمَاعُهُ
فَعُولُنْ / مَفَاعِيلُنْ / فَعُولُنْ / مَفَاعِيلُنْ
تَنَزَّ / هَ عَنْ قَوْلٍ / وَفِعْلٍ / وَنِيَّةِ
فَعُولُنْ / مَفَاعِيلُنْ / فَعُولُنْ / مَفَاعِيلُنْ
3. Bahar Wafir:
صَلَاةُ اللَّـ / ـهِ مَا لَاحَتْ / كَوَاكِبْ
مُفَاعَلَتُنْ / مُفَاعَلَتُنْ / فَعُولُنْ
عَلَى احْمَدَ خَيْـ / ـرِ مَنْ رَكِبَ النْـ / ـنَجَائِبْ
مُفَاعَلَتُنْ / مُفَاعَلَتُنْ / فَعُولُنْ
4. Bahar Kamil:
يَا بَدْرَ تِمْـ / ـمٍ حَازَ كُلْـ / ـلَ كَمَالِ
مُتَفَاعِلُنْ / مُتَفَاعِلُنْ / مُتَفَاعِلُنْ
مَاذَا يُعَبْـ / ـبِرُ عَنْ عُلَا / كَ مَقَالِي
مُتَفَاعِلُنْ / مُتَفَاعِلُنْ / مُتَفَاعِلُنْ
5. Bahar Rajaz:
يَقُولُ رَا / جِي رَحْمَةِ الْـ / ـغَفُورِ
مُسْتَفْعِلُنْ / مُسْتَفْعِلُنْ / مُسْتَفْعِلُنْ
دَوْمًا سُلَيْـ / ـمَانُ هُوَ الْـ / ـجَمْزُورِي
مُسْتَفْعِلُنْ / مُسْتَفْعِلُنْ / مُسْتَفْعِلُنْ
6. Bahar Mutaqarib:
سَلَامٌ / سَلَامٌ / كَمِسْكِ الْـ / ـخِتَامْ
فَعُولُنْ / فَعُولُنْ / فَعُولُنْ / فَعُولُنْ
عَلَيْكُمْ / أُحَيْبَا / بَنَا يَا / كِرَامْ
فَعُولُنْ / فَعُولُنْ / فَعُولُنْ / فَعُولُنْ
7. Bahar Muhdats / Mutadarak / Khabab:
نَسَمَا / تُ هَوَا / كَ لَهَا / أَرَجُ
فَعِلُنْ / فَعِلُنْ / فَعِلُنْ / فَعِلُنْ
تَحْيَا / وَتَعِيـ / ـشُ بِهَا الْـ / ـمُهَجُ
فَعِلُنْ / فَعِلُنْ / فَعِلُنْ / فَعِلُنْ
Nujumul Maghrib
Sebagai penutup, saya sertakan syair ini yang ditulis hari Jumat, 24 Oktober 2025. Saya teringat guru saya, Syeikh Nizamuddin Aulia –Hafizhahullahu Ta’ala– seorang yang produktif dalam menulis dan mengajar. Beliau gemar menggubah syair untuk dihadiahkan kepada tamu ulama besar dari Timur Tengah yang berkunjung ke pondok kami. Juga dalam perjalanan safari da’wah pun beliau mampu menggubah sekitar 17 bait syair. Maka dari itu, Katabnaha min ajlit tadrib, la ‘ala sabilit tamakkun.
تَطَوَّرْ حَيْثُ لَاحَ لَنَا ٱلنُّجُومُ … بِمَغْرِبِنَا ٱلْحَبِيبِ بِهِ ٱلْحُلُومُ
هُيَامُ ٱلْعِلْمِ يَنْبُتُ فِي صُدُورٍ … وَإِرْثَ ٱلْمُصْطَفَى حَقًّا نَرُومُ
Berkembanglah bagai bintang-bintang yang muncul nan berseri
Di negeri Maghrib tercinta, ketenangan hati itu bersemayam
Gairah terhadap ilmu tumbuh dalam sanubari
Merindukan warisan Al-Mushthafa Shallallahu ‘alaihi wasallam
نُرَحِّبُ بِٱلرَّبِيعِ فَذَاكَ شَهْرٌ … لِمَوْلِدِ أَحْمَدٍ طَابَ ٱلْقُدُومُ
بِشَهْرِ وِلَادَةِ ٱلْهَادِي ٱغْتَرَبْنَا … بِتَرْحَالٍ، وَفِي ٱلْخَيْرِ ٱللُّزُومُ
Menyambut Rabiul Awwal, bulan kelahiran sang Ahmad
Kedatangannya begitu hangat
Di bulan kelahirannya kami memulai pengembaraan
Seraya berpegang teguh dalam kebaikan
رَحَلْنَا عَنْ طُفُولِيَّاتِ نَفْسٍ … إِلَى نُضْجِ ٱلْعُقُولِ بِهَا ٱلْعُلُومُ
بِيَوْمِ ٱلْجُمْعَةِ ٱلْغَرَّا، وَفِيهَا … فِرَاقُ أَحِبَّةٍ فِيهَا ٱلْغُمُومُ
Hari Jumat…
Meninggalkan mentari pagi yang asyik
Menuju senja keputusan nan pelik
Terbang bersama angin kesedihan
Para insan terkasih yang mesti ditinggalkan
إِذَا كَانَ ٱلْغُمُومُ لِأَجْلِ عِلْمٍ … وَآدَابٍ؛ فَذَا نِعْمَ ٱلْهُمُومُ
وَتَرْدَادِي أَسَامِيَكُمْ : لِقَلْبِي … دَوَاءٌ، أَنَّنِي لَكُمُ خَدُومُ
Bila kesedihan ini demi adab dan ilmu
Aku rela ia menjadi lembah pilu
Yang indah bagiku
Menyebut-nyebut nama tercinta
Adalah obat bagi mahligai rasa
Dan, aku menjadi pelayannya
وَأَرْبَعَةٌ يَلِيهِ ٱلْأَرْبَعُونَا) … مِنَ ٱلْأَصْحَابِ كَانَ لَهُمْ فُهُومُ)
فَبَعْضٌ فِي قُنَيْطِرَةٍ وَفَاسٍ … وَتِطْوَانٍ وَمَكْنَاسٍ قُدُومُ
وَآخَرُ فِي أَغَادِيرٍ، فَنَرْجُو … مِنَ الرَّحْمٰنِ رَحْمَتَهُ تَدُومُ
Empat puluh empat kawan
Tersebar di Kénitra, Fès, dan Tétouan
Lanjut Meknès, dan berakhir di Agadir
Ya Rahman, kami harap rahmat-Mu selalu mengalir
وَنَخْتِمُ بِٱلصَّلَاةِ مَعَ ٱلسَّلَامِ … عَلَى مَنْ كَانَ نُطْقُهُ لَا يَلُومُ
كَذَا آلٍ وَأَصْحَابٍ فَكَانُوا … دُعَاةً أَجْمَعِينَ فَهُمْ نُجُومُ
Menutup untaian ini dengan salam dan shalawat
Tercurah kepada Beliau, yang lisannya tidak pernah menghujat
Juga kepada Keluarga dan Sahabat
Mereka para Da’i serta bintang nan hebat

[i] Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah. (2017). Shafahat Min Shabril Ulama. Kairo: Darussalam, hal 55-60, khabar 23-24.
[ii] Syekh Shalahuddin Khalil bin Aibak Ash-Shafadi. (2000). Al-Wafi Bil Wafayat. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi, juz 13 hal 242.
[iii] Syaikh Abul Barakat Kamaluddin Abdurrahman Bin Muhammad Al-Anbari. (1998). Nuzhatul Alba Fi Thabaqatil Udaba. Kairo: Dar Al-Fikr Al-Arabi, hal 50.
Ada perbedaan versi di dalam kitab Al-Wafi Bil Wafayat (juz 13 hal 244) bahwa yang menganggapnya gila bukan putranya, melainkan saudara kandungnya.
[iv] Imam Abul Hasan Sa’id Bin Mas’adah Al-Akhfasy Al-Balkhi Al-Bashri. Kitab Al-Arudh Lil-Akhfasy – Tahqiq Sayyid Al-Bahrawi. Hal 13.
[v] Imam Abul Hasan Sa’id Bin Mas’adah Al-Akhfasy Al-Balkhi Al-Bashri. Kitab Al-Arudh Lil-Akhfasy – Tahqiq Sayyid Al-Bahrawi. Hal 14. Dengan redaksi: ‘Naam la naam la la, naam la naam naam’.
Oleh: Umar Abdul Aziz Al Huseini
Ikuti kegiatan kami lewat instagram @ppimaroko
Simak berita terbaru kami,