Serial Literatura #6: Membaca Jurnal Mastroianni Adam Tentang Ilusi Degradasi Moral
1) Melihat Fenomena
Sebagian masyarakat terlihat sering mengeluhkan adanya kemerosotan moral sekarang ini. Beberapa orang bahkan mendefinisikan zaman ini sebagai zaman edan, untuk menggambarkan kebobrokan dan degradasi moral yang terjadi. Hal ini tampak dari bagaimana para orang tua menggambarkan generasi sekarang yang—menurut mereka—menjadi semakin lembek dan semakin tidak berpendirian.
Dan jika kita perhatikan, kejahatan memang marak terjadi tempo hari ini. Peperangan, pembunuhan sampai pemerkosaan merupakan tajuk utama di media massa kita. Ditambah lagi berbagai dinamika perpolitikan yang mengandung nepotisme, korupsi besar-besaran, ditindasnya yang lemah juga membuat kondisi masyarakat menjadi semakin runyam.
2) Sebuah Ilusi
Akan tetapi apakah moral benar-benar mengalami degradasi? Apakah dunia sekarang ini memang sudah diisi oleh para manusia edan seperti yang dikatakan orang-orang? Bukankah moral manusia jika kita lihat malah menunjukkan peningkatan? Bukankah perbudakan sudah hilang? Dan HAM juga semakin diperhatikan?
Hal pertama yang harus diketahui di sini adalah, bahwa anggapan terjadinya kemerosotan moral merupakan sebuah fenomena umum yang terjadi di sebagian besar negara. Hal ini sebagaimana yang ditulis oleh Mastroianni Adam di jurnalnya yang berjudul “The Illusion of Moral Decline” (Ilusi Degradasi Moral). Ia melakukan survei dan pengumpulan data yang melibatkan ribuan responden dari kurang lebih 60 negara.
Kesimpulan awal dari data tersebut menunjukkan mayoritas responden memang merasakan adanya degradasi moral. Tapi kesimpulan selanjutnya, malah menunjukkan sebaliknya, bahwa anggapan tersebut hanyalah sebuah ilusi. Pertama, orang tua lebih merasakan penurunan moral dibanding anak muda. Hal ini menjelaskan adanya kedinamisan dan ambiguitas dari diksi moral itu sendiri, di mana tidak ada tolak ukur yang pasti untuk mendefinisikan moral.
Selanjutnya, data menunjukkan bahwa orang-orang memang mengakui adanya degradasi moral. Tapi, di saat bersamaan, mereka tidak mengakui degradasi tersebut terjadi di lingkungan pribadinya (seperti keluarga, teman, dsb). Kesimpulan lain juga menunjukkan bahwa, mereka yang memercayai adanya penurunan moral juga percaya bahwa penurunan tersebut dimulai sejak tahun kelahiran mereka.
Dari beberapa kesimpulan yang telah disebutkan, anggapan tentang penurunan moral—menurut Mastroianni Adam—hanyalah sebuah perasaan penuh tendensi yang tak berdasar. Dan fenomena degradasi moral merupakan fenomena yang harus ditelaah lebih lanjut.
3) Alasan
Mastroianni menawarkan beberapa alasan kenapa ilusi ini terjadi. Yang kembali harus ditekankan lagi bahwa, moral merupakan sesuatu yang dinamis dan selalu berubah. Hal inilah yang menyebabkan mengapa orang tua—yang tentunya lebih memegang kuat tradisi lama (conservatism)—lebih merasakan adanya kemerosotan moral.
Salah satu hal yang sangat memengaruhi ilusi ini adalah adanya ‘efek bias memori’ atau yang disebut ‘biased exposure and memory‘ (BEAM). Intinya efek psikologis ini membuat seseorang lebih mungkin mengingat secara emosional informasi-informasi positif dari masa lalu dibanding mengingat informasi negatif. Hal ini tentunya mengakibatkan adanya perbandingan yang tidak adil antara generasi dulu dan sekarang. Ditambah lagi masifnya penyorotan media massa pada hal negatif secara tidak proporsional, juga memiliki dampak emosional yang kuat pada anggapan masyarakat.
Ilusi ini tentu sangat berdampak pada psikis dan emosional masyarakat. Manusia akan lebih tidak memercayai sesamanya, pesimisme akan meningkat yang nantinya bakal menumbuhkan individualsme dan sikap apatis terhadap lingkungan.
4) Konklusi
Setiap zaman atau bahkan setiap tempat—walau sezaman—tentu memiliki moral dan kejahatannya tersendiri. Barangkali sesuatu dianggap aneh di satu tempat, tapi dianggap hal yang lumrah di tempat lain. Hal serupa juga bisa kita ibaratkan dalam konteks zaman.
Manusia memang edan, bahkan sejak zaman dulu pun manusia sudah edan. Kejahatan—begitu juga kebaikan—akan selalu ada, mengisi relung-relung sejarah setiap masa. Kita memang tidak boleh naif, tapi harus disadari bahwa realitas tidak menjadi semakin buruk seperti yang dibayangkan (setidaknya menurut Mastroianni Adam).
Bagaimana? masih setujukah dengan rencana Madara untuk membangkitkan mugen tsukoyomi?
Serial Literatura #6 oleh Naufal Zaky Farros
Berita: Acara Perpisahan Bapak Dubes Hasrul Azwar M.M.
Ikuti konten terbaru kami di Zawiyah Nusantara