Perang Salib sebagai Instrumen Legitimasi Kekuasaan Gereja Katolik pada Abad Pertengahan

Perang Salib atau yang kerap disapa The Crusades War merupakan peperangan panjang yang melibatkan bangsa yang bernotabene Kristen dengan bangsa Asia Barat yang bernotabene Islam. Perang Salib juga tidak seperti perang-perang yang terjadi sebelumnya, peritsiwa ini bisa dianggap sebagai salah satu catatan sejarah penting dalam dunia peradaban Islam, bagaimana tidak, perang ini tidak hanya berlangsung selama satu kali atau dua kali. Namun, peperangan ini terjadi sebanyak delapan kali. Bahkan, beberapa sejarawan menyebutkan bahwa perang tersebut terjadi lebih dari delapan kali. Peristiwa luar biasa ini tentu saja mengundang perhatian bagi setiap orang yang ingin mengetahui penyebab dan proses terjadinya, terutama bagi para pegiat sejarah. Oleh karena itu, apa faktor utama dari terjadinya Perang Salib tersebut?

Faktor Pendorong Terjadinya Perang Salib     

Agama menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam Perang Salib ini, hal tersebut dikarenakan banyak dari bangsa Eropa yang menganut agama kristen dan banyaknya bangsa Asia Barat yang menganut agama Islam. Mereka saling berperang untuk merebut tujuan kekuasaan atas Yerussalem yang dianggap sebagai kota suci pada saat itu. Oleh karena itu, perebutan Yerussalem pun bisa menjadi faktor pendorong dari pecahnya Perang Salib pada abad ke 11 M. Yerussalem sendiri merupakan sebuah kota yang terletak di dataran tinggi Pegunungan Yudea antara Laut Tengah dan Laut Mati. Yerussalem dianggap sebagai kota suci karena di sanalah menjadi perkumpulan tiga agama samawi yaitu Islam, kristen, dan Yahudi.

Dilansir dari Jurnal “Perang Salib dalam Bingkai Sejarah” karya Syamzan Syukur. Perang Salib dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berbeda. Diantaranya dari segi agama, salah satu faktor pecahnya perang tersebut adalah hilangnya kemerdekaan  umat Kristiani untuk beribadah ke Yerussalem. Kondisi ini merupakan   kebijakan   yang   dijalankan   pemerintahan  Bani  Saljuk  yang  menguasai  Yerussalem  pada  tahun  1076  M.  Padahal  boleh  dikatakan  bahwa  umat  Kristiani  sangat  fanatik  dan  beranggapan  bahwa  berziarah  ke  Makam  Nabi  Isa  di  Yerussalem merupakan amalan yang paling baik dan besar pahalanya. Sedangkan, jika ditinjau dari sisi politik, Perang Salib terjadi karena posisi-posisi  kunci  di  sekitar  Asia  kecil  telah  dikuasai  Bani  Saljuk. Bahkan,  dijadikan  sebagai  basis  kekuatan  dan  pertahanan.  Kondisi  ini  memposisikan kota Konstantinopel  terancam  akan  jatuh  ke tangan umat Islam (Bani Saljuk). Untuk menghindari jatuhnya kota Konstantinopel   ke   tangan   umat   Islam, Kaisar   Alexius   penguasa      Byzantium   (Konstantinopel)   tidak   memiliki   pilihan   lain   kecuali   meminta  dukungan  dan  bantuan  politik  Keuskupan  Agung  di  Roma. Faktor ekonomi pula yang memotivasi masyarakat Eropa kelas rendahan,   karena   mereka   seringkali   mendapat   tekanan,   dibebani   berbagai  pajak  serta  sejumlah  kewajiban  lainnya  dari  kerajaan  dan  gereja. Sehingga  ketika mereka dimobilisasi oleh pihak gereja  untuk turut  andil dalam  Perang  Salib  dengan  janji  akan  mendapat  kebebasan    dan  kesejahteraan   jika memenangkan  peperangan.  Di  samping  itu,  mereka  berharap  akan  mendapat keuntungan ekonomi di daerah-daerah yang ditaklukan dari tangan   Islam. Selain itu Teve Tibble & Aleksander Pluskowski dalam artikelnya “Spiritual Struggle or Military Tourism” menyatakan bahwa, meski agama menjadi pemicu, motif seperti perubahan iklim, migrasi, dan ambisi teritorial juga signifikan.

Pada awal abad ke 11, perbedaan agama dan budaya antara Timur dan Barat menjadi persoalan besar dalam dunia peradaban. Hal tersebut dikarenakan daerah timur mengizinkan tradisi Helesintik yang akan mengubah keadaan peradaban dan masyarakat pada saat itu tidak bisa lagi berbahasa latin. Sedangkan di daerah timur hanya ada sedikit orang yang bisa berbicara dan memahami bahasa Yunani. Disamping itu, daerah timur juga memandang daerah barat sebagai sekumpulan orang yang yang tidak berpendidikan dan tidak beradab. Pada abad ke 12 terjadi perluasan kekuasaan paus yang berpuncak pada paus Innocentius (1198-1216). Ia tak hanya mahir dalam mengurus pemerintahan gereja, tetapi ia juga mahir dalam mengatur politik internasional.

Klaim dan Fitnah terhadap umat Islam oleh Gereja Katolik

Klaim dan fitnah yang dilakukan oleh gereja Katolik juga menjadi salah satu faktor terjadinya Perang Salib, Hal tersebut dikarenakan bangsa Eropa yang menganut agama Kristen terus menuding umat Islam atas perilaku-perilaku buruk yang dilakukan oleh umat Islam. Yang mana mereka menganggap dirinya sebagai korban atas perilaku buruk yang dilakukan oleh umat Islam. Bahkan, menurut beberapa pakar sejarah pada  saat  Alp  Arslan melakukan ekspansi yang disebut dengan peristiwa Manzikart, pada tahun 464 H  (1071  M),  tentara  Alp  Arslan  yang  hanya  berkekuatan  15.000  prajurit, dalam  peristiwa  ini  berhasil  mengalahkan  tentara  Romawi  yang  berjumlah 200.000 orang, yang terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, Al-Akraj, Al-Hajr, Perancis dan   Armenia.  Peristiwa   besar   ini   menanamkan   benih   permusuhan   dan kebencian   orang-orang   Kristen   terhadap   umat   Islam,   yang   kemudian mencetuskan  Perang  Salib. Hal ini langsung disebutkan secara gamblang oleh Zaenal Abidin seorang mahasiswa fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar dalam jurnalnya “Perang Salib  (Tinjauan Kronologis dan Pengaruhnya terhadap Hubungan Islam dan Kristen)” .

Bahkan terlihat jelas dari khotbah Paus Urbanus yang mengungkap dan menggambarkan bagaimana umat Islam sebagai penghalang dalam merebut kembali tempat suci serta menuding mereka melakukan penindasan dan kekejaman. Hal ini diasumsikan berdasarkan dugaan mereka yang melihat adanya kekerasan dan kekejaman yang dilakukan oleh umat Islam terhadap bangsa Kristen saat ingin berkunjung dan berziarah ke Yerussalem. Konflik dan tudingan ini pun berakibat fatal dalam hubungan antara Islam dan Kristen. Pasalnya, Perang Salib sendiri meningkatkan ketegangan antara umat Islam dan Kristen. Yang menjalar pada rasa anti-Kristen muncul di kalangan umat Islam sebagai reaksi terhadap kebiadaban yang terjadi selama perang. Sementara di pihak Kristen, pandangan buruk terhadap Islam semakin tumbuh. Kedua belah pihak mulai memandang satu sama lain dengan sikap permusuhan dan keraguan. Umat Islam melihat Perang Salib sebagai bentuk agresi penjajahan oleh kekuatan Barat, sementara umat Kristen menganggapnya sebagai pertarungan suci melawan “musuh kafir”.

Tokoh Penting Islam dalam Melawan Serangan Tentara Salib

Tak dapat dipungkiri terdapat beberapa tokoh Islam yang berjuang melawan tentara salib pada beberapa periode Perang Salib. Mereka bersumbangsih melakukan segala yang terbaik demi mempertahankan Yerussalem dari kekuasaan muslim dan tidak membiarkan Yerussalem direbut oleh bangsa Kristen pada saat itu.

Imad ad-Din Zengi ialah salah satu pejuang pada saat Perang Salib. Ia adalah putra dari Aq Sunqur al-Hajib, gubernur Aleppo di bawah Malik Shah I. Ayahnya dibunuh oleh kelompok Hashasin saat sedang menunaikan salat di Masjid Jami’ Mosul pada tahun 1094. Ia memimpin pasukan muslim pada Perang Salib ketiga dan berhasil merebut Aleppo dan Edessa.  

Selain Imad ad-Din Zengi, Salahuddin Al Ayyubi atau yang kerap disapa Saladin juga merupakan salah satu tokoh penting yang memimpin kaum muslimin dalam ketika melawan tentara salib. Salahuddin Al Ayyubi berhasil merebut Yerusalem pada tahun 1187 setelah mengalahkan tentara salib di pertempuran Hattin. Hal itu membuat paus Gregorius VIII kembali menyerukan perang ketiga. Dan masih banyak beberapa tokoh muslim yang berjuang melawan tentara salib dalam setiap periode Perang Salib yang dilancarkan oleh kedua kubu yaitu Kristen dan Islam masa itu.

Perang Salib sebagai Alat Legitimasi Kekuasaan Gereja

Hal ini dimulai saat abad pertengahan yang mana gereja pada saat itu tak hanya berperan sebagai konstitusi keagamaan atau dalam kata lain gereja tak hanya mengurus permasalahan yang menyangkut dengan persoalan agama saja, namun cakupan tugas serta lingkungan gereja bisa lebih daripada itu yang merambat sampai ke permasalahan politik dan sosial di Eropa. Oleh sebab itu, Perang Salib menjadi salah satu instrumen yang digunakan oleh para paus untuk memperkuat otoritas mereka atas para raja dan umat Kristen, yang mana pada saat itu para paus gereja ingin diakui kekuasaanya melebihi pengakuan kekuasaan oleh rakyat kepada para raja. Hal ini juga terlihat dari seruan paus Urbanus pada tahun 1095 yang menyerukan  para umatnya untuk melancarkan Perang Salib pertama terhadap umat Islam yang telah merampas Yerussalem. Dalam pidatonya di Konsili Clermont, ia memanggil seluruh umat Kristen untuk berjuang merebut kembali Yerussalem dari tangan umat Islam. Secara tidak langsung, ia menegaskan bahwa dirinya pemimpin tertinggi dunia Kristen. Hal ini membuat cakupan gereja meluas kepada ranah politik. Disamping itu, masyarakat Eropa pun menerima hal tersebut karena mereka sedang ditimpa sistem feodalisme yang dilakukan oleh para raja Eropa saat itu. Sehingga bangsa Eropa dan umat Kristen menjadikannya sebagai figur sentral yang menyatukan umat Kristen di bawah satu panji iman.

Dari sinilah, para paus memanfaatkan kesempatan melalui semangat religius yang dimiliki oleh masyarakat untuk mengukuhkan posisi gereja dalam urusan duniawi. Mereka menggunakan isu-isu pengampunan dosa kepada para pejuang yang ikut serta dalam Perang Salib yang dikenal dengan kata Indulgensi. Isu ini juga menjadi alat yang sangat kuat dalam membakar semangat para pejuang dalam Perang Salib.

Perang Salib seringkali dijadikan alat politik untuk memperluas pengaruh gereja dan kekuasaan paus, bukan semata-mata demi iman. Legitimasi ini dipakai untuk memaksa umat berperang dan tunduk atas nama Tuhan, yang bisa dilihat sebagai manipulasi keagamaan. Hal ini menjadi cikal bakal dari penghalalan kekerasan atas nama agama. Ribuan orang tewas dalam Perang Salib, termasuk warga sipil yang tak bersalah atas nama misi suci. Legitimasi paus digunakan untuk mengabsahkan pembunuhan dan penjarahan, yang secara moral bertentangan dengan nilai kasih dalam ajaran Kristen. Hal ini juga dapat memunculkan Diskriminasi terhadap agama lain, yakni dengan hadirnya Perang Salib menimbulkan kebencian dan konflik antaragama. Khususnya antara umat Kristen dan Muslim, yang dampaknya terasa hingga berabad-abad kemudian. Legitimasi paus dipakai untuk membenarkan penindasan terhadap kelompok yang berbeda iman.

Legitimasi kekuasaan yang dijalankan oleh paus selama Perang Salib dari perspektif moral dan kemanusiaan. Penggunaannya juga menimbulkan banyak dampak negatif, seperti kekerasan, manipulasi keagamaan, dan konflik antaragama.

Oleh: Muhammad Farhan (Kandidat master, Dar El-Hadith El-Hassania, Rabat)

Simak artikel terbaru kami,









Tag Post :

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *