Kuda Troya Milik Kita

Kuda Troya Milik Kita: Belajar dari Sebuah Kuda Sejarah

Pada sebuah waktu yang sangat lama ke belakang, di zaman semua cerita-cerita milik manusia hanya dapat dihantarkan dari mulut ke mulut, cerita-cerita tersebut dibawa jauh melintasi waktu hingga sampai di telinga Homer sang penyair. Lantas, dia menuliskan beberapa dari cerita-cerita tersebut, membuat “kendaraan” yang pantas dan layak bagi cerita tersebut untuk berkelana sepanjang masa hingga akhirnya sampai ke tangan kita di masa sekarang. Salah satu dari cerita-cerita yang mengendarai kendaraan tersebut adalah Perang Troya yang diabadikan di dalam bukunya yang sangat fenomenal, Iliad.

Alkisah, terjadilah sebuah peperangan antara Bangsa Yunani dan Bangsa Troya, di mana Bangsa Yunani ingin menaklukkan Kota Troya yang dikelilingi oleh tembok pertahanan yang amat kokoh. Namun, 9 tahun berlalu, tembok Troya itu tidak menunjukkan tanda-tanda keruntuhan. Justru, malah orang-orang Yunani kehilangan pahlawan terbaiknya, Achilles.

Suatu saat, akhirnya orang-orang Yunani memiliki ide untuk membuat patung kuda yang amat besar. Lalu, setelah patung tersebut tuntas dibangun, mereka meninggalkan Troya. Lantas, orang-orang Troya dari dalam kota melihat bahwa diri mereka telah menang karena orang-orang Yunani telah menyerah. Mereka juga melihat Kuda Troya yang ditinggalkan oleh orang-orang Yunani. Dengan penuh kegembiraan, mereka memasukkan kuda itu ke dalam kota sebagai simbol atas kemenangan yang baru saja mereka capai.

Malam pun tiba, orang-orang Troya akhirnya bisa tertidur dengan lelap nan nyenyak setelah sekian lama berperang dengan Bangsa Yunani. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa di dalam kuda tersebut terselip beberapa orang Yunani untuk menyusup ke dalam kota, bertugas untuk membuka gerbang kota guna membiarkan orang-orang Yunani masuk dan meluluhlantakkan Kota Troya setelah hampir bertahan selama 10 tahun lamanya. Dan benar saja, akhirnya Troya jatuh di tangan orang-orang Yunani dalam satu malam saja, akibat kecerobohan mereka akan “virus” yang dengan sangat senang hati mereka masukkan sendiri ke dalam kota mereka, bodoh.

Rasanya saya pribadi dan kita semua sering menjadi orang Troya yang bodoh dan ceroboh; berbuat suatu hal tanpa berpikir dan memverifikasi terlebih dahulu. Masing-masing dari kita memiliki “Kuda Troya”, dan bodohnya dengan sengaja memasukkan dan menurutinya dengan rela dan senang hati. Pernah di satu waktu saya menuruti dan akhirnya dilimpahkan kepayahan demi menjemput “Kuda Troya” itu.

Malam itu, udara sedikit menusuk, gelap menyelimuti bumi Kalimantan yang kala itu menunjukkan angka jam 24.00, bulan pun tampaknya malu-malu untuk menampakkan cahayanya ke bumi kita ini. Di sebuah jalan yang sepi, sunyi, dan lumayan basah pasca dianugerahkan hujan oleh Sang Pencipta beberapa jam sebelumnya, di pinggir jalan tersebut tampak seseorang sedang mendorong kendaraan bermotornya, tampaknya dia kehabisan bahan bakar, sehingga terpaksa untuk mendorong kendaraannya. Wajah yang berharap jelas terukir di wajahnya, wajah yang berharap di depan sana ada warung yang menyediakan bahan bakar eceran untuk mengatasi kepayahan yang ia dapatkan. Namun, setelah langkah demi langkah yang ia lakukan, tak kunjung melihat warung di ujung jalan sana, hanya kegelapan dan rumah-rumah yang sedang beristirahat di sana. Begitulah kiranya kepayahan yang diderita oleh orang tersebut.

Orang yang menderita akan kepayahan tersebut adalah saya yang sejam sebelumnya keluar dari rumah saya dengan kendaraan bermotor, dengan ceroboh dan tanpa berpikir dahulu, menuruti “Kuda Troya” saya. Ya, kuda tersebut adalah nafsu akan nasi goreng pada malam hari; acap saja saya mengiyakannya dan segera mengambil kunci motor dan beberapa lembar uang, dengan ceroboh tidak mengecek terlebih dahulu kadar bahan bakar di motor kala itu sehingga di tengah perjalanan, motor saya perlahan melambat dan akhirnya mati. Tak ada yang bisa saya lakukan selain terus mendorong, dorong…… dorong…… dan dorong.

“Kenapa?” tiba-tiba suara itu muncul dari belakang. Ternyata terdapat dua orang pemuda yang sedang mengendarai motor. “Eh, ini, Bang, bensinnya habis,” begitulah kiranya jawaban saya kepada mereka kala itu. Dua orang tersebut langsung pergi melaju ke arah depan hingga tak lagi terlihat oleh mata ini, tanpa berpikir macam-macam, saya hanya meneruskan saja untuk mendorong dan terus mendorong. Setelah lama waktu berselang, muncul seberkas cahaya dari kejauhan depan sana. Ternyata cahaya itu adalah sorot lampu dari motor dua orang pemuda tadi. Mereka membawakan sebotol bahan bakar eceran dan segera memberikannya kepada saya. Alhamdulillah.

Brummm!!! Brummmm!!!

Suara motor saya mulai terdengar, menandakan mesin motor mulai menyala dan siap dipakai kembali. Tak seperti orang-orang Troya yang tidak mendapat bantuan dari siapa pun untuk keluar dari kepayahan yang mereka alami. Saya bersyukur ada dua pemuda yang menolong dan membantu saya keluar dari kepayahan yang menghampiri saya malam itu.

Itulah kita, demi menuruti nafsu kita, acap kali kita akhirnya menemukan diri kita dalam kepayahan dan kesusahan akibat diri kita yang secara suka rela dan senang hati menuruti “Kuda Troya” milik kita masing-masing. Banyak dari kita menghisap rokok tanpa peduli bagaimana kesehatan kita kedepannya. Banyak pula yang sibuk dengan urusan perempuan, dengan senang kita berpacaran tanpa memikirkan betapa banyak energi dan waktu kita yang habis untuk seorang yang belum tentu menjadi pasangan hidup kita di kemudian hari dan masih banyak lagi hal-hal yang sebenarnya adalah “Kuda Troya” yang sengaja kita masukkan dan turuti tanpa sadar bahwa itu adalah “Virus” yang akan meruntuhkan diri kita secara perlahan.

Tak heran Imam Syafi’i—ridhwanullah ‘alaihi—berkata,

فكر قبل أن تعزم

“Berpikirlah dahulu sebelum merencanakan sesuatu.”

Segala sesuatu memang harus kita pikirkan secara matang terlebih dahulu, jangan hanya berpikir dua atau tiga langkah ke depan, kita harus melatih diri kita melihat seribu langkah ke depan. Jangan sampai kita masuk lagi ke dalam perangkap “Kuda Troya” yang memang sangat menggoda itu. Renungkanlah!

Semoga Allah senantiasa menuntun kita agar terus berada di jalannya yang lurus, Amiiin.

Nantikan promo-promo menarik di PPI Shop

Dapatkan Info-info terkini dari PPI Maroko

Tag Post :
Minggu-an Menulis

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer