Cara Penduduk Souss Mempertahankan Ulama

Cara Penduduk Souss Mempertahankan Ulama dan Budaya Keilmuannya

Souss adalah wilayah sejarah, budaya, dan geografis Maroko yang merupakan wilayah administratif dari Souss-Massa, Guelmim-Oued Noun, selatan Draa-Tafialet, dan bekas wilayah Marrakech-Tensift-Al-Haouz. Wilayah ini terkenal dengan pohon argan (yang menjadi simbol Souss) serta ibu kota kelompok etnis Chleuhs (kelompok etnis Berber yang berbahasa Chleuhe, yaitu varian dari bahasa Berber).

Souss merupakan salah satu daerah yang memiliki peran besar dalam ranah keilmuan di Maroko. Banyak ulama yang lahir dari wilayah ini, mulai dari ulama zaman klasik hingga berlanjut sampai hari ini. Di antara ulama-ulama mereka adalah Syekh Muhammad bin Abdullah Al-Utsmani, Syekh Al-Mukhtar As-Susi, Syekh Sidi Al-Ahsan Al-Ba’qili, sampai Al-Faqih Al-Hajj Ibrahim Royis As-Susi, dan anak beliau Al-Faqih Al-Hajj Abdullah Royis Al-Susi hari ini.

Budaya keilmuan mereka masih terjaga dengan kokoh sampai hari. Kita melihat tidak semua wilayah ataupun bangsa yang mampu mempertahankannya, banyak dari daerah ataupun kaum yang dahulunya merupakan negeri tempat lahirnya ulama dengan budaya keilmuan yang kokoh, hari ini hanya tinggal nama dan sejarah saja. Lalu, bagaimana cara penduduk Souss ini dalam mempertahankan tongkat estafet ulamanya dengan budaya keilmuan mereka di tengah gempuran tantangan zaman yang semakin hari semakin mencekam?

Maroko dikenal dengan kekokohan keilmuannya, terutama para penduduk Souss yang masih konsisten dalam mempertahankan budaya keilmuan mereka. Dan yang lebih menakjubkan lagi, ternyata Ahlu Souss ini bukanlah bangsa Arab, mereka berasal dari bangsa Amazigh atau suku Berber. Namun, meskipun mereka bukan bangsa Arab, kepakaran mereka dalam bahasa Arab tidak diragukan lagi. Banyak para penyair dan sastrawan Arab lahir dari kalangan mereka. Bahkan hampir setiap dari mereka menguasai bahasa Arab terutama yang pernah belajar di Madrasah ‘Atiqah. Madrasah inilah yang menjadi salah satu kunci bertahannya keilmuan penduduk Souss.

Madrasah ‘Atiqah merupakan madrasah tradisional yang dipimpin oleh seorang faqih ataupun syaikh yang berfokus kepada Al-Qur’an dan ilmu-ilmu syariat yang dipelajari melalui kitab-kitab turats ulama-ulama klasik. Faqih atau syaikh inilah yang menjadi simbol dari setiap Madrasah ‘Atiqah dengan keluasan ilmu yang beliau miliki. Ada dua jenis konsentrasi di madrasah ini, yaitu kelas spesialisasi Al-Qur’an (kuttab) dan kelas spesialisasi ilmu-ilmu syariat (‘ilmi).

Untuk kuttab, setiap santri diwajibkan menghafal Al-Qur’an menggunakan lauh (sebilah papan dari kayu yang biasanya digunakan untuk menulis) setiap hari dars (belajar) mulai dari sebelum terbit matahari sampai waktu isya. Metode lauh ini sudah terbukti menghasilkan para penghafal Al-Qur’an yang mutqin hafalannya meskipun metode lauh ini tidak begitu dikenal di kalangan penuntut ilmu di timur. Setiap santri mendengarkan ayat yang dibacakan oleh gurunya, kemudian mereka menuliskan kembali apa yang mereka dengar di lauh. Setelah diperiksa dan dikoreksi, barulah mereka mulai menghafal ayat-ayat tersebut sehingga hafalan itu benar-benar lengket dalam ingatan mereka.

Untuk ‘ilmi, setiap santri diwajibkan menghafal matan-matan ilmiah sebelum mempelajarinya sehingga ketika memasuki kelas mereka sudah memiliki bekal untuk mempelajarinya dan tidak kosong begitu saja. Bagi santri yang ingin melanjutkan ke tingkat ‘ilmi maka diwajibkan untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur’an terlebih dahulu, sebab Al-Qur’an merupakan pondasi bagi ilmu-ilmu syariat.

Berbeda dengan madrasah-madrasah lain yang biasanya mengajarkan materi beberapa bab dari kitab, madrasah ini mengajarkan materi dari satu kitab secara utuh dari awal sampai akhir, mulai dari kitab dasar, seperti Matan Al-Jurumiyyah, Ibn ‘Asyir, Nazham Al-Baiquni, Jauharah Al-Maknun, dan kitab-kitab dasar lainnya sampai kepada kitab lanjutan, seperti Syarh Alfiyah Ibn Malik, Al-Mukhtashar Al-Khalil, Maqamat Al-Hariri, dan kitab-kitab lanjutan pada disiplin ilmu yang lain. Semuanya tersusun rapi dari awal hingga akhir.

Inilah yang menjadi kunci penerus tongkat estafet ulama di Souss. Selain itu, tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya ilmu agama sangat tinggi. Mereka selalu menyisihkan hasil dari penghasilan mereka untuk biaya pendidikan dan juga upah bagi para guru dan imam demi keberlangsungan proses belajar mengajar di MadrasahAtiqah. Mereka juga sangat menghormati dan menyayangi Faqih atau Syaikh madrasah, para guru, dan imam serta para santrinya. Seperti inilah para penduduk Souss mempertahankan tongkat estafet ulama dan menjaga budaya keilmuan mereka hingga bertahan sampai sekarang. Metode seperti ini sudah terbukti melahirkan ulama dari zaman ke zaman dan menjaga budaya keilmuannya tetap eksis melalui madrasah-madrasah sampai hari ini. Semoga kita juga bisa menerapkan sistem ini di negeri kita dan menyadarkan kembali masyarakat akan pentingnya ilmu agama serta melahirkan kembali ulama-ulama yang rabbaniyyin.

Nantikan promo-promo menarik di PPI Shop

Dapatkan Info-info terkini dari PPI Maroko

Tag Post :

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer