Workshop Angklung dan Manajemen Panggung

Event,Kabar Berita,Ke-PPI-an

Pada Hari Sabtu (16/9) KBRI berkolaborasi dengan Departemen Orseni mengadakan Pelatihan Angklung serta Manajemen Panggung bersama Saung Angklung Udjo dan Tim Kesenian Malaka. Pelatihan ini dihadiri oleh 20 peserta dari warga PPI Maroko dan bertempat di Aula Serbaguna KBRI Rabat, Maroko. Pukul 11.00 GMT+1 menjadi waktu dimulainya pelatihan ini dan 13.00 GMT+1 menjadi waktu berakhirnya.

Awal mulanya, Saung Angklung Udjo bersama Tim Kesenian Malaka berkunjung ke Rabat, Maroko guna mengisi acara Resepsi Diplomatik atau yang biasa disingkat RESDIP pada Senin (18/9) di Teater Mohammed V Rabat, Maroko. Dikarenakan adanya kekosongan jadwal mereka, KBRI Rabat beserta Departemen Orseni menggunakan kesempatan emas ini dengan mengadakan Pelatihan bersama mereka. Tak dapat dipungkiri, banyak insight-insight baru yang kami dapatkan dari pelatihan ini.

Pemaparan materi dari Saung Angklung Udjo menjadi pembuka pelatihan ini. Diawali dengan pengenalan crew serta tugas-tugas mereka oleh salah satu perwakilan dari Saung Angklung Udjo, yaitu Kang Satria. Beliau juga menyampaikan bahwa seni adalah sistem yang saling berkaitan untuk melengkapi kita sebagai manusia dan menyampaikan perasaan adalah salah satu tujuan seni.

Saung Angklung Udjo didirikan oleh Alm. Mang Udjo dan keluarganya pada tahun 1966 yang bertempat di Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Saat ini, ada 14 rumah produksi dan mayoritas karyawannya itu warga sekitar, sehingga Saung Angklung Udjo turut andil dalam membantu perekonomian warga. Bahkan baru-baru ini, Saung Angklung Udjo memproduksi 20.600 angklung dalam 6 bulan untuk menjadi inisiator pemecah rekor baru dalam pagelaran angklung terbesar di dunia pada Sabtu (5/8) di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Anak-anak yang bersekolah di sekitar Saung Angklung Udjo pun sering mampir ke lokasi sepulang sekolah, karena jaraknya yang lumayan dekat. Berawal dari ketertarikan, hingga mereka betah bermain dan berlatih angklung di Saung Angklung Udjo. Oleh karena itu, regenerasi Saung Angklung Udjo tidak pernah putus. Saat ini, terdapat 500 murid dari kalangan umur 2 tahun hingga dewasa. Anak-anak yang mengunjungi Saung Angklung Udjo itu metodenya bukan “Ayo latihan!” tapi “Ayo bermain!” Jadi, jangan kaget ada anak yang berumur 4 tahun sudah handal bermain angklung.

Kiat-kiat melestarikan budaya Indonesia khususnya angklung adalah berawal dari kepedulian kita dan kemauan kita dalam melestarikannya. Bukan hanya itu, tetapi juga mengikuti perkembangan zaman, agar kesenian angklung tidak tertinggal oleh zaman dan tidak ditinggalkan orang-orang. Jadi, kita harus bisa mengusahakan angklung untuk masuk dalam semua kalangan.

Materi pamungkas dalam Pelatihan ini disampaikan oleh Tim Kesenian Malaka. Seperti halnya Saung Angklung Udjo, Tim ini juga memulai penyampaian materi dengan pengenalan crew. Nama Malaka sendiri berasal dari Selat Malaka. Penamaan ini, dikarnakan tim yang bukan hanya terbentuk dari warga Batak Toba, namun juga berasal dari warga Melayu. Tim Kesenian Malaka yang berjumlah 10 orang ini adalah gabungan dari pemuda-pemudi Batak Toba dan Melayu yang melestarikan keseniannya.

Kegiatan selanjutnya adalah penampilan Tari Gondang Naposo (tari dalam ajang perjodohan khas Batak Toba) yang diiringi dengan live music. Penggunaan live music ini, supaya feel yang dibangun dalam tari tersebut lebih terasa. Namun, bisa saja tari ini diiringi dengan instrumen meskipun feel dalam tarinya menjadi lebih tidak terasa.

Pesan yang menutup pelatihan ini, “Jangan sampai melupakan tradisi kita! Namun, inovasi itu juga harus dikembangkan. Indonesia itu menunjukkan budayanya bukan senjatanya. Tanggung jawab kita melestarikan budaya itu.”

Dept. Orseni PPI Maroko 2023/2024

Sabtu, 16 September 2023

Nantikan promo-promo menarik di PPI Shop

Dapatkan Info-info terkini dari PPI Maroko

Tag Post :
Aktivitas,Berita
Share This :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *