Mengapa Manusia Selalu Mencari Makna Hidup? (Why Humans Are Always Seeking Meaning in Life)

Kabar Berita

Pencarian makna hidup adalah kebutuhan yang paling mendasar dalam diri manusia. Manusia dibekali fitrah yang mendorongnya untuk bertanya dari mana aku berasal? Untuk apa aku hidup? Dan ke mana aku akan kembali?

Kegelisahan ini bukan karena kelemahan, tetapi karena manusia memiliki akal, hati, dan kesadaran diri (self-awareness). Manusia tidak dapat merasa tenang sebelum menemukan makna yang mengikat seluruh pengalamannya.

Dalam Al-Qur’an Allah sudah menjelaskan tujuan utama penciptaan manusia. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56, Allah berfirman:

وما خلقت الجنّ والإنس إلا ليعبدون  

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Ayat ini menunjukkan bahwa makna hidup tertinggi bukan hanya sekadar bekerja, makan, dan menjalani rutinitas, tetapi mengenal Allah, tunduk kepada-Nya, dan menjadikan hidup sebagai ibadah. Tanpa tujuan ini, hati manusia tetap merasa kosong meskipun dikelilingi kesenangan dunia.

Selain itu, Allah menjelaskan bahwa hidup ini adalah ujian. Dalam QS. Al-Mulk Ayat 2, Allah berfirman:

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًاۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُور 

“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya. Dan Dialah yang Maha perkasa lagi Maha pengampun.”

Karena hidup adalah ujian, maka manusia terus mencari hikmah dan makna dari setiap kejadian: kebahagiaan, kesedihan, kesuksesan, dan kegagalan. Ketika diuji manusia merasa perlu memahami “mengapa” agar tidak tenggelam pada putus asa. Inilah alasan pencarian makna hidup tidak pernah berhenti. 

Pencarian ini juga bukan hanya soal filosofi, tetapi juga psikologi, budaya, sosial dan sejarah.

Secara psikologis manusia sendiri mendorong untuk mencari makna agar hidup terasa signifikan. Tanpa makna, manusia mudah merasa kosong atau gelisah (existential vacuum menurut Viktor Frankl)

Dari perspektif filosofis, pemikir seperti Friedrich Nietzsche mengatakan bahwa manusia perlu “menciptakan” maknanya sendiri karena alam semesta tidak memiliki tujuan bawaan.

Secara sosial, pencarian makna juga memengaruhi hubungan kita. Dalam masyarakat, kita melihatnya dalam gerakan sosial, agama, dan adat. Misalnya, aktivis lingkungan merasa hidup mereka bermakna karena melindungi bumi untuk generasi mendatang.

Pencarian makna juga muncul melalu karya, seni, dan pencapaian. Manusia merasa hidupnya berarti saat menciptakan sesuatu atau bermanfaat bagi orang lain.

Apakah semua orang selalu mencari makna? Tidak juga. Ada yang puas dengan hidup sederhana tanpa banyak pertanyaan. Mereka mungkin fokus pada kesenangan sehari-hari, seperti makan enak atau menonton film. Namun, tanpa disadari, mereka pun memiliki makna sederhana seperti menjaga keluarga. Yang penting, pencarian makna bukan tentang menemukan jawaban akhir, tetapi proses yang membuat hidup lebih kaya.

Akhirnya, mengapa manusia selalu mencari makna? Karena itu bagian dari hakikat kemanusiaan. Kita bukan mesin, kita punya emosi, imajinasi, dan keinginan untuk terhubung. Tanpa makna, hidup seperti buku tanpa cerita. Maka, mari kita terus bertanya, mengeksplorasi, dan menciptakan makna hidup kita sendiri. Bisa jadi, jawabannya ada dalam keseharian kita.

Manusia mencari makna hidup karena itu bagian dari fitrahnya untuk memahami diri, berhubungan dengan orang lain, dan memberi kontribusi pada dunia.Pencarian ini berbeda-beda: ada yang menemukannya melalui agama, filsafat, seni, atau hubungan sosial. Oleh karena itu penting bagi seseorang untuk menentukan tujuan hidup yang bermanfaat dan bermakna.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim)Hadis ini Menunjukkan pentingnya memahami makna hidup dan memanfaatkan waktu. Selagi masih muda, memanfaatkan waktu sangatlah penting. Jangan sampai kita terlena dengan dalih kita masih muda atau merasa masih memiliki banyak waktu. Terlebih pada zaman sekarang, banyak remaja yang hanya bersenang-senang tanpa memikirkan masa depannya. Ibnu Khaldun menyebutkan dalam Muqaddimah-nya:

الإنسان مدنيّ بالطبع، ولا يعيش إلا بمعنى يجمعه

“Manusia secara fitrah adalah makhluk sosial, dan ia tidak hidup kecuali dengan makna yang menguatkannya.”

Manusia membutuhkan makna agar hidupnya berjalan terarah dan tidak terjerumus ke jalan yang salah.

Karena itu, marilah kita mulai menata hidup dengan makna yang benar. Jangan biarkan hari-hari kita berlalu tanpa arah, atau terperangkap dalam kesibukan yang tidak mendekatkan kita pada tujuan akhir. Makna hidup tidak selalu ditemukan dalam hal-hal besar; ia sering hadir dalam langkah kecil yang kita ambil dengan niat yang tulus. Manfaatkan masa muda, kesehatan, waktu luang, dan kesempatan yang Allah berikan, sebelum semuanya berlalu.

Mari kita hidup dengan kesadaran bahwa setiap amal, sekecil apapun, dapat menguatkan jiwa kita dan membuat hidup lebih terarah, sebab manusia, sebagaimana dikatakan Ibnu Khaldun, tidak akan bertahan tanpa makna yang menegakkannya. Maka, jadikanlah hari ini awal dari perjalanan untuk menemukan, menguatkan, dan menjalani makna hidup yang Allah ridai. 

Ikuti kegiatan kami lewat instagram @ppimaroko

Simak artikel terbaru kami,

Tag Post :
Share This :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *