Pernahkah kalian overthinking terhadap hal yang sebenarnya sepele? Atau merasa takut mengatakan “tidak” kepada orang lain, padahal permintaannya sangat berat? Pernahkah kalian melakukan sesuatu demi validasi karena jarang mendapatkan pengakuan? Atau mungkin merasa gugup setiap kali mengambil keputusan, bukan karena tidak mampu, tapi karena dulu sering disalahkan?
Terkadang, reaksi itu muncul bukan karena diri kita yang terlalu sensitif, melainkan karena ada luka kecil di masa lalu yang tertahan dan belum sempat diselesaikan. Luka itu pada akhirnya tersimpan di alam bawah sadar dan memengaruhi pikiran, perasaan, serta perilaku seseorang. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal dengan istilah Unfinished Business.
Menurut Paramita dalam jurnal yang berjudul “Konseling Gestalt untuk Menyelesaikan Gejala Stres”, unfinished business adalah pengalaman emosional masa lalu yang belum terselesaikan, baik berupa kemarahan, kesedihan, rasa bersalah, kekecewaan, maupun konflik interpersonal yang masih tersimpan dalam diri dan memengaruhi perilaku serta kondisi psikologis seseorang saat ini. Pengalaman seperti ini sering muncul dalam relasi kekeluargaan, seperti dengan orang tua, pasangan, saudara, atau orang terdekat. Pengalaman emosional tersebut dapat muncul dalam bentuk emosi terpendam, ledakan amarah, penarikan diri, maupun sikap keras kepala.
Salah satu tanda yang cukup umum adalah munculnya kilas balik atau flashback, seperti tiba-tiba teringat hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu, termasuk momen, lokasi, orang, maupun waktu tertentu. Reaksi yang muncul bisa berupa rasa sedih, gelisah, marah, kecewa, menangis, bahkan mudah tersinggung. Kondisi ini terjadi karena sumber emosi tersebut bukan berasal dari situasi saat ini, melainkan dari pengalaman yang sudah terpendam sejak lama.
Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa disadari kita juga dapat memiliki pengalaman tersebut. Misalnya, kita mudah meminta maaf meskipun bukan kesalahan kita, sulit mempercayai orang lain karena pernah diremehkan, atau mudah tersinggung akibat sering mengalami penolakan maupun kritik kecil. Pola-pola seperti ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan respons lama yang terbentuk dari pengalaman emosional yang belum terselesaikan.
Bahkan, dampak unfinished business dapat membuat seseorang merasa kehilangan arah dalam membangun identitas diri. Terkadang, menjadi sulit membedakan mana suara diri sendiri dan mana suara masa lalu yang masih terbawa. Seseorang bisa sangat membutuhkan validasi, padahal validasi tersebut sejatinya bukan berasal dari lingkungan saat ini, melainkan dari lingkungan masa lalu yang belum pernah didapatkannya. Dalam hubungan interpersonal, dampaknya tampak semakin jelas, seperti sikap terlalu waspada, takut akan penolakan, dan mudah menghakimi orang lain.
Dalam konteks keluarga, unfinished business sering muncul dalam bentuk emosi atau konflik yang belum terselesaikan antar anggota keluarga, terutama antara orang tua dan anak. Anak kerap membawa luka lama, seperti rasa marah dan kecewa karena tidak didengarkan, kontrol yang berlebihan, atau beban ekspektasi yang tidak realistis. Kondisi inilah yang dapat menghambat komunikasi antara anak dan orang tua, memunculkan sikap keras kepala, serta membentuk pola karakter yang kurang sehat. Oleh karena itu, kita cenderung lebih mudah terbawa emosi ketika bersama orang tua dibandingkan saat bersama teman, bukan tanpa sebab, melainkan karena memori emosional tersebut masih bersifat sensitif.
Lalu, bagaimana cara menyembuhkan unfinished business? Salah satunya adalah dengan mencari pendampingan profesional melalui konsultasi dengan psikolog. Selain itu, dalam konseling Gestalt dikenal teknik empty chair, yaitu teknik berdialog menggunakan kursi kosong seolah-olah di kursi tersebut hadir seseorang yang berkaitan dengan pengalaman masa lalu, seperti orang tua atau saudara. Melalui teknik ini, kita dapat meluapkan segala emosi, seperti marah, kecewa, dan sedih, serta mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini terpendam. Secara bertahap, teknik ini membantu membangun kembali komunikasi yang lebih sehat belum sempat diungkapkan. Secara perlahan teknik ini akan memudahkan kita berinteraksi, menumbuhkan rasa lega, dan memungkinkan seseorang melihat situasi dari perspektif yang lebih jernih.
Pada akhirnya, unfinished business merupakan bagian dari proses manusia dalam memahami dirinya sendiri. Menyelesaikannya bukan berarti memperbaiki masa lalu, melainkan memahami akar dari pengalaman tersebut. Dengan komunikasi yang jujur dan terbuka, keberanian untuk saling mendengar, juga kemauan untuk membuka diri. Kita dapat memutus rantai luka yang diwariskan, sambil tetap memberi ruang bagi diri sendiri untuk bertumbuh dan berdamai. Sebab, unfinished business tidak selesai ketika kita menghindar, melainkan ketika dihadapi, dipahami, dan dilangkahi dengan hati yang lebih ringan.
Ikuti keguatan kami lewat instagram @ppimaroko
Simak artikel terbaru kami,