Ketahui apa yang kau katakan.
Tetapi jangan katakan semua yang kau ketahui.
–Tan Malaka
Nama lengkap tokoh ini adalah Tan Malaka, dengan nama kecilnya Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka. Ia lahir pada 2 Juni 1897 di Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat–sebuah kampung kecil di Minangkabau yang jauh dari hiruk pikuk kota, tetapi kaya akan tradisi dan pendidikan adat.
Dalam masyarakat Minangkabau, surau atau masjid bukan sekadar tempat beribadah. Di surau, banyak kegiatan yang dilakukan, seperti basilek (silat tradisional Minangkabau).
Surau juga menjadi tempat pertemuan-pertemuan penting untuk bermusyawarah. Ia berfungsi sebagai pusat pembentukan moral dan pendidikan. Banyak pemuda Minang tidak tidur di rumah orang tuanya, melainkan menjadikan surau sebagai tempat tinggal dan untuk belajar.
Lingkungan budaya inilah yang membentuk Tan Malaka sejak kecil. Kemudian, ia menempuh pendidikan formal Barat dan banyak membaca pemikiran dari luar. Namun, akar pemikiran Tan Malaka tidak pernah lepas dari tradisi surau: kritis, mandiri, dan tidak mudah tunduk.
Itulah sebabnya Tan Malaka tidak pernah menjadi intelektual yang nyaman di balik meja. Ia adalah pemikir yang turun ke jalan, berpindah-pindah, dan siap menanggung risiko dari gagasannya. Surau memberinya fondasi, dunia memberinya tantangan, dan Tan Malaka menjadikan keduanya sebagai jalan perjuangan.
Setelah di tempa oleh tradisi surau dan lingkungan Minangkabau yang kuat dalam nilai adat serta keilmuan, Tan Malaka melangkah ke dunia pendidikan formal yang lebih luas. Kecerdasannya membawanya keluar dari kampung, menuju sekolah-sekolah yang pada masa itu hanya dapat diakses oleh segelintir pribumi.
Ia menempuh pendidikan guru dan kemudian berangkat ke Belanda, belajar di Rijkskweekschool di Haarlem. Perjalanan ini menjadi awal perjumpaan besarnya dengan dunia modern–dunia pemikiran Barat, filsafat, politik, dan realitas kolonial yang telanjang. Di negeri penjajah itu, Tan Malaka melihat dengan jelas paradoks: bangsa yang berbicara tentang kebebasan dan kemajuan, tetapi menindas bangsa lain di tanah jajahan.
Pendidikan Barat memberinya alat: logika, metode berpikir sistematis, dan keberanian intelektual. Tan Malaka menyadari bahwa penjajahan bukan hanya persoalan senjata, melainkan juga struktur ekonomi, pendidikan, dan kesadaran. Dari sinilah tumbuh keyakinan bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan melalui pemikiran yang tajam dan tindakan yang berani.
Tan Malaka tidak bercita-cita menjadi guru yang tenang di kelas. Baginya, ilmu harus turun ke jalan, menyatu dengan masyarakat, dan mengubah keadaan. Pendidikan telah membuka matanya, tetapi penderitaan bangsanya membuat hatinya gelisah.
Kegelisahan inilah yang membuat semangat Tan Malaka terus berkobar dan memilih jalan perjuangan yang panjang dan sunyi.
Sekembalinya dari pendidikan dan pergaulan intelektual di Eropa, Tan Malaka tidak lagi melihat dunia dengan mata yang sama. Ilmu yang ia peroleh telah mengubah cara pandangnya, ia sadar bahwa ilmu tanpa tindakan hanyalah tontonan sejarah, bukan pelaku perubahan.
Tan malaka mulai terlibat aktif dalam dunia pergerakan. Ia mengajar, menulis, dan berorganisasi. Baginya, pendidikan adalah pintu masuk paling penting untuk membangkitkan kesadaran rakyat. Ia percaya bahwa kaum tertindas harus memahami sebab penindasan itu sendiri, bukan hanya merasakan akibatnya. Dari sinilah pemikirannya semakin tajam dan sikapnya semakin tegas.
Sebagai pemikir revolusioner, Tan Malaka tidak hanya bergerak di lapangan, tetapi juga meninggalkan warisan besar dalam bentuk tulisan. Karya-karyanya lahir dari pengasingan, pelarian, dan pergulatan batin–ditulis bukan demi ketenaran, melainkan sebagai bekal perjuangan generasi setelahnya.
1. Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika)
Inilah karya paling populer Tan Malaka. Dalam Madilog, ia berusaha membebaskan cara berpikir bangsa Indonesia dari takhayul, feodalisme, dan kebiasaan menerima sesuatu tanpa berpikir kritis. Buku ini bukan hanya sekadar teori filsafat, melainkan ajakan untuk berpikir rasional, ilmiah, dan sistematis, sesuai dengan realitas bangsa yang tertindas.
Madilog menunjukkan bahwa kemerdekaan sejati dimulai dari kemerdekaan akal.
2. Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia)
Karya ini ditulis jauh sebelum Indonesia merdeka. Tan Malaka dengan berani dan tegas menyatakan bahwa bentuk negara yang tepat bagi Indonesia adalah republik, bukan kerajaan dan bukan negara kompromi.
Tulisan ini memperlihatkan kejernihan visinya: bahwa kemerdekaan harus dirancang secara sadar, bukan sekadar reaksi terhadap penjajahan.
Dalam arus besar perjuangan kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka menempuh jalan yang tidak mudah. Ia berdiri di persimpangan sejarah dengan sikap tegas: kemerdekaan harus utuh, berdaulat, dan berdiri di atas kekuatan rakyat sendiri, bukan hasil kompromi yang tergesa-gesa.
Tan Malaka menyuarakan gagasan yang seringkali berseberangan dengan arus utama pergerakan. Ia mengkritik sikap setengah hati, mengingatkan bahaya ketergantungan pada kekuatan asing, dan menuntut keberanian mengambil risiko.
Di masa-masa genting menjelang dan sesudah proklamasi, Tan Malaka mendorong persatuan rakyat dan keteguhan prinsip. Pilihan sikap ini membuatnya kembali berada di pinggir. Ia disalahpahami, ia dicurigai di negaranya sendiri, kadang suara yang terlalu jujur terdengar mengganggu. Tan Malaka menerima konsekuensi itu. Ia tahu, berpihak kepada prinsip yang teguh berarti siap kehilangan perlindungan.
Namun sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang menang. Ia juga di bentuk oleh mereka yang menjaga kompas agar tidak menyimpang. Tan Malaka adalah salah satunya.
Pengasingan adalah fase terpanjang sekaligus paling membentuk dalam hidup Tan Malaka.
Ia bukan diasingkan di satu tempat, melainkan pengembara panjang lintas negeri, yang dijalani bukan karena pilihan nyaman, tetapi karena keyakinan yang tidak pernah tunduk.
Sejak awal keterlibatan dalam pergerakan, Tan Malaka dianggap berbahaya oleh pemikiran kolonial. Gagasannya tajam, tulisannya membangkitkan semangat dan keberaniannya menular. Akibatnya ia diawasi, dicurigai, ditangkap, dan akhirnya dipaksa keluar dari tanah air. Sejak saat itu hidupnya menjadi seorang pelarian–tanpa rumah tetap, tanpa perlindungan, dan tanpa jaminan keselamatan.
Ia hidup berpindah-pindah di berbagai negara Asia: Filipina, Thailand, Burma (Myanmar), hingga Tiongkok. Di setiap tempat, ia menggunakan nama samaran, bekerja seadanya, dan hidup dalam kekurangan. Tidak jarang ia sakit, kesepian, dan berada di bawah ancaman penangkapan. Namun dalam kondisi itulah pemikirannya semakin matang.
Yang paling menyakitkan dari pengasingan bukanlah kemiskinan, tetapi terpisah dari tanah air. Tan Malaka mencintai Indonesia, tapi tidak bisa pulang. Ia berjuang untuk bangsanya tapi ia tidak bisa berdiri di tengah-tengah bangsanya.
Pengasingan Tan Malaka adalah simbol kesetiaan pada prinsip. Ia kehilangan tanah, nama, dan keamanan, tetapi tidak pernah kehilangan arah. Justru dari titik terendahlah muncul gagasan demi gagasan yang kelak dipakai oleh generasi selanjutnya.
Akhir hidup Tan Malaka tidak dihiasi upacara, tidak pula dirayakan oleh kemenangan. Ia wafat dalam kesunyian, jauh dari pusat kekuasaan yang pernah ia kritik dengan keras.
Pada 1949, di Selopanggung, Kediri, Tan Malaka mengakhiri hidupnya–bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai pemikir yang teguh kepada prinsip hingga akhir.
Kematian Tan Malaka bukanlah akhir dari gagasannya. Justru di situlah warisannya bermula. Ia meninggalkan pemikiran tentang kemerdekaan berpikir. Ia mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada bangsa tidak selalu berbentuk pujian kadang datang dari kritik yang keras.
Bagi generasi muda, Tan Malaka adalah cerminan yang jujur. Jika hari ini kita merasa lelah berpikir, ingatlah: ada seseorang yang lelah berkelana agar kita berani bermimpi. Jika hari ini kita takut berbeda, ingatlah: ada seseorang yang memilih sendiri agar kebenaran tidak kehilangan suaranya.
Dan ketika kebenaran menuntut keberanian untuk berbeda,
Apakah kita siap menempuh jalan sunyi seperti yang ia pilih,
Atau cukup puas berdiri di barisan yang ramai tapi ragu?
Ikuti kegiatan kami lewat instagram @ppimaroko
Simak artikel terbaru kami,