Ternyata, Maroko Juga Punya “Wali Songo” Loh!
Inilah Kisah Singkat Sab’atu Rijal!
Penegakan Islam di Indonesia terjadi berkat usaha para ulama dan wali, terutama Wali Songo. Mereka menyebarkan Islam di Jawa dengan pengabdian penuh, sehingga jasanya sangat dihormati.
Menariknya, Maroko juga memiliki figur serupa. Negara mayoritas Muslim ini memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Islam.
Pada masa Nabi Muhammad SAW, Afrika Utara belum tersentuh Islam. Kawasan ini baru mengenal Islam pada akhir kepemimpinan Khulafaur Rasyidin hingga awal Dinasti Umayyah. Bangsa Arab menyebutnya Maghribi, yang meliputi Maroko, Tunisia, Aljazair, dan Libya.
Tahun 670 M, pasukan Umayyah di bawah Uqba ibn Nafi’ menaklukkan Maghribi. Islam pun berkembang pesat, menggantikan dominasi Kristen di Maroko. Setelah proses asimilasi yang panjang, masyarakat Maroko mengangkat Moulay Idris sebagai pemimpin pertama pada tahun 788 M, mendirikan Dinasti Idrisiyyah.
Dinasti ini menyebarkan Islam Sunni dan mengislamkan suku Berber dengan mendirikan kota-kota penting seperti Fez dan Marrakesh. Pasca-Idrisiyyah, muncullah para sufi yang dijuluki Tujuh Wali (Sab’atu Rijal), sebagai penerus spiritual perjuangan dinasti tersebut. Mereka berperan besar dalam penyebaran Islam dan pembentukan identitas spiritual Maroko.
Dalam konsep sosial dan religi, Muslim Maroko mirip dengan Indonesia. Keduanya menganut akidah Asy’ariyah dan mengikuti tradisi seperti tahlilan, ziarah kubur, dan haul. Adanya Sab’atu Rijal yang menyerupai Wali Songo juga menjadikan Maroko tujuan ziarah umat Muslim dari berbagai negara.
Kitab al-Harakah as-Shufiyah Bi Marakesh menguraikan peran tujuh wali ini sebagai pusat spiritual. Faktanya, terdapat hubungan genealogis antara Wali Songo dan Sab’atu Rijal. Metode dakwah mereka pun serupa: menggunakan pendekatan sosio-kultural, terjun langsung ke masyarakat, dan mengutamakan keteladanan (lisanul hal).
Adapun nama-nama yang termasuk bagian dari Sab’atu Rijal adalah:
- Sayyidi Syekh al-Qadhi Iyadh (544H)
Beliau memiliki nama asli yaitu Abu al-Fadl Iyadh bin Musa bin Iyadh al-Yahshubi as-Sabti al-Maliki. Lahir pada tahun 476H/1083M, di Kota Sabtah yang terletak di sepanjang Selat Gibraltar. Beliau tumbuh dan dididik di kota tersebut dalam asuhan keluarga arab yang terkenal dengan kemuliaan dan keilmuannya. Sejak muda, ia memilih untuk menghindari gemerlap dunia dan menghabiskan waktunya untuk meningkatkan spiritual ibadah kepada Allah serta memperdalam ilmu pengetahuannya.
Dengan kegigihannya dalam menuntut ilmu, beliau menguasai berbagai cabang ilmu seperti; bahasa, hadist, tafsir, nahwu, usul fiqh, fiqh, dan lain-lain. Beliau adalah guru dari al-Imam al-Qadhi ibn Rusyd, pengarang kitab Bidayatul Mujtahid. Selain sebagai ulama yang zuhud, wara’, faqih, beliau sangat cinta terhadap Rasulullah SAW, hal ini dibuktikan dengan salah satu karya beliau yaitu kitab as-Syifa Bi Ta’rifil Huquqil Musthafa, yaitu kitab yang berisi tentang cerita-cerita perjalanan nabi yang penuh ketulusan dan cinta yang kitab tersebut terus dikaji di seluruh penjuru dunia Islam, termasuk Indonesia.
Setelah perjuangan dan pengabdiannya dalam menyebarkan Islam, akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 544H di Kota Marrakesh, Maroko. Meskipun beliau sudah wafat, tapi jasa dan kitab-kitab beliau akan terus hidup dan bermanfaat di kalangan umat Islam. Dengan itu, masyarakat Maroko menetapkan bahwa Syekh Qadhi Iyadh termasuk dalam golongan Sab’atu Rijal.
- Sayyidi Abdurrahman as-Suhaili (581H)
Bernama lengkap Abul Qasim Abdullah bin Ahmad bin Asbagh bin Sa’dun bin Ridwan bin Fattuh. Lahir pada tahun 508H di Desa Suhail yang terletak di laut Mediterania. Dididik dan tumbuh di desa tersebut serta memperdalam keilmuannya dengan berguru kepada berbagai ulama, salah satunya adalah Imam at-Thorowah (528H). Dengan perjuangannya dalam menimba ilmu, beliau sangat mahir dalam berbagai cabang keilmuan seperti; bahasa dan sastra, qiraat, fiqh, usul fiqh, akidah, tafsir, hadist, dan sirah nabawiyyah.
Nasib berkata lain, pada umur ke-17 tahun Imam as-Suhaili kehilangan penglihatannya, namun cobaan ini tidak mempengaruhi kegigihannya dalam menuntut ilmu dan berkhidmah kepada agama Islam. Hal ini dibuktikan dengan adanya karya beliau setelah buta menimpanya, yaitu kitab Raud al-Unuf. Imam as-Suhaili hidup penuh dengan kesederhanaan, ketakwaan, dan kesungguhan dalam belajar serta merupakan ulama yang sangat zuhud dan penyabar. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau pernah berkata: “Kami hanya sibuk mencari ilmu seperti sibuknya orang mencari kekayaan dengan kerja kerasnya.” Wafat pada tanggal 26 Sya’ban 581H di Kota Marrakesh dan sampai sekarang makam beliau ramai dikunjungi oleh peziarah dari berbagai negara.
- Sayyidi Yusuf Ali as-Shanhajiy (593H)
Beliau adalah ulama keturunan Arab Yaman yang hidup pada dinasti Muwahidun. As-Shanhajiy adalah nisbah yang disematkan kepada beliau karena berasal dari Qabilah Shanhajah al-Hamiriyah, salah satu Suku Amazigh yang terkenal dengan kulitnya yang putih seperti susu dan wajahnya yang kemerah-merahan. Lahir di Kota Marrakesh, Maroko pada awal abad 6 Hijriyah dan tidak ada penetapan tanggal resmi untuk kelahiran beliau.
Saat masih muda, beliau mengidap penyakit yang parah yaitu penyakit kusta. Beliau dijauhi masyarakat bahkan keluarganya sendiri karena ketakutan akan penularan penyakit tersebut, sehingga memutuskan untuk mengasingkan diri di sebuah gua yang terletak di sebelah timur benteng Kota Marrakesh, tepatnya di area Bab Aghmat. Banyak orang pengidap penyakit kusta yang mengikuti jejak beliau untuk tinggal di sana, kemudian tempat tersebut dijuluki al-haroh al-Juzama, Kampung Kusta.
Beliau merupakan seorang yang sangat teguh dalam beribadah dan identik dengan kesabaran luar biasa dalam menerima segala cobaan, sehingga kerap disandingkan dengan kisah Nabi Ayyub AS. Reputasinya sebagai orang saleh yang memiliki keteguhan iman yang luar biasa menyebar luas, sehingga orang-orang mulai berdatangan ke guanya untuk meminta nasehat serta doa dari beliau. Beliau dimasukkan dalam golongan Sab’atu Rijal lewat jalur kesabaran dan ridha yang dimilikinya. Wafat pada tahun 593H di Kota Marrakesh dan sampai sekarang makamnya menjadi daftar kunjungan peziarah khususnya ziarah Tujuh Wali.
- Sayyidi Abul Abbas as-Sibtiy (601H)
Salah satu ulama terkenal dan terkemuka pada abad ke-6 H dari Maroko yang memiliki nama lengkap Abul Abbas Ahmad bin Ja’far al-Khazraji as-Sibtiy. Nama beliau sudah menggema dari barat sampai timur, dengan berbagai karomah yang menghiasi lika-liku perjalanan hidupnya. Beliau juga dikenal dengan pemikiran sufistiknya, yaitu madzhab sedekah. Dilahirkan di Kota Sebta dekat Negara Spanyol pada tahun 525 H dan diasuh oleh ibunya tanpa peran ayahnya dikarenakan sudah yatim sejak kecil.
Hidup di lingkungan yang sederhana dan bisa dibilang susah sehingga ibunya mengutus Ahmad kecil bekerja kepada tukang tenun untuk membantu perekonomian keluarganya. Namun, Ahmad sering bolos dari pekerjaannya dan kabur untuk menimba ilmu dan beristifadah kepada Imam Abi Abdillah al-Fakhor (586H), muridnya Imam Qodhi Iyadh. Dalam waktu 6 tahun, Ahmad sudah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an serta telah menguasai berbagai cabang keilmuan, terutama tafsir, sastra, dan gramatika arab.
Beliau terkenal dengan khalwatnya selama 40 tahun, mengajar dan berdakwah kepada masyarakat tanpa meminta bayaran, menghabiskan hidupnya untuk beribadah sehingga dikatakan dalam kitab at-Tasyuf fi Rijali Tasawuf bahwa beliau memiliki doa yang mustajab, karena sifatnya yang mulia.
Sang Ahmad wafat pada Hari Senin Jumadil Akhir 601H dan dikuburkan di komplek perkuburan Bab Taghzout. Kuburannya ramai dikunjungi sampai sekarang karena dianggap sebagai tempat yang mustajab. Di sekitar komplek banyak faqir miskin, sesepuh, dan tuna netra yang berada di situ.
- Sayyidi Sulaiman al-Jazuly (870H)
Nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli al-Simlali al-Hasani. Dilahirkan pada tahun 807H di daerah Jazula, suatu suku dari ras Berber di Kota Sous, selatan Marrakesh. Beliau mengabdikan hidupnya untuk belajar dan berdakwah sehingga termasuk dari salah satu sufi terkemuka dan berpengaruh yang hidup pada masa dinasti Marini. Dari ketujuh waliyullah anggota Sab’atu Rijal, dapat dikatakan bahwa Imam Jazuli adalah yang paling populer di kalangan masyarakat Indonesia dengan berbagai karya fenomenal beliau, seperti kitab Dalailul Khairat, Hizb al-Falah, Aqidah al-Jazuli, Hizb Subhana ad-Daim, Kitab An-Nush, at-Tam, al-Hizb al-Kabir.
- Sayyidi Abdul Aziz at-Tubba’(914H)
Imam at-Tubba’ memiliki nama lengkap Abdul Aziz bin Abdul Haq at-Tubba’ al-Harar. Lahir dan besar di Kota Marrakesh pada pertengahan abad ke-9H. Beliau adalah salah satu murid utama dari Imam Jazuli, sampai disebutkan bahwa Imam at-Tubba’ adalah penerus utama dari gurunya. Beliau dijuluki Syaikhul Alim sebagai representasi intelektualitas dan keilmuannya.
Beliau dikenal sebagai sufi pertama yang mengajak para pengikutnya untuk memperhatikan, memelihara, dan memanfaatkan tanah. Juga mendirikan zawiyah di Kota Marrakesh yang mayoritas pengikutnya adalah petani. Beliau wafat pada tahun 914H di Kota Marrakesh. Karena karomahnya, beliau dimasukkan ke dalam golongan Sab’atu Rijal.
- Sayyidi Abdillah al-Ghazwaniy (935H)
Imam Ghazwani bernama lengkap Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad Ajjal al-Ghazwani. Al-Ghazwani adalah nisbah yang disematkan kepada beliau karena berasal dari suku Ghazwan. Beliau merupakan ulama penutup dari ketujuh wali keramat Kota Marrakesh yang berjuluk Syaikhul Masyaikh. Beliau sebagai salah satu murid dari Imam at-Tubba’ yang terkenal dengan kesufiannya sekaligus insinyur andal. Keikhlasannya dalam berkhidmah kepada gurunya membuatnya mendapat banyak keberkahan, sehingga banyak murid yang berdatangan untuk berguru kepadanya. Beliau memiliki banyak karya kitab salah satunya adalah An-Nuqat al-Azaliyah fi ad-Dzat al-Muhammadiyah. Wafat pada tahun 935H dan dikebumikan di Distrik Al-Qashur, Marrakesh.
Pada akhir tulisan ini, dapat ditarik kesimpulan yaitu Sebuah benang merah spiritual ternyata membentang dari tanah Jawa hingga Maroko. Kisah Sab’atu Rijal bukan sekadar sejarah, melainkan bukti bahwa dakwah yang penuh cinta, keteladanan hidup, dan penghormatan pada budaya lokal akan selalu meninggalkan jejak yang abadi di hati manusia. Mereka, seperti Wali Songo, mengajarkan bahwa islamisasi bukan tentang menggusur, tetapi merangkul; bukan dengan pedang, tetapi dengan ilmu dan teladan yang menyentuh kalbu. Warisan mereka hidup dalam setiap ziarah, setiap tahlil, dan setiap tradisi yang mengikat kita dalam satu ikatan ukhuwah tanpa batas mengingatkan bahwa cahaya hidayah menyebar melalui tangan-tangan sabar yang ikhlas, di mana pun mereka berpijak.
Ikuti kegiatan kami lewat instagram @ppimaroko
Simak artikel terbaru kami,