Maghreb: Sebuah Perkenalan Hangat

“!إذا كنت في المغرب فلا تستغرب”

Jika Jepang dikenal khalayak umum sebagai negeri matahari terbit, maka di belahan bumi lain, Afrika Utara, Maroko dijuluki sebagai negeri matahari terbenam. Dalam kacamata geografis, Maroko terletak di Afrika Utara, berbatasan langsung dengan Aljazair di sebelah timur, Samudra Atlantik di bagian barat, Spanyol dan Laut Mediterania di ujung utara, dan Mauritania di bagian Selatan.

Al-Maghreb” (المغرب), native speaker Arab akrab menyebut Maroko, memiliki beberapa bahasa yang diakui secara resmi oleh pemerintah Kerajaan Maroko, pertama, bahasa Arab; kedua, bahasa Prancis; dan ketiga bahasa Amazigh. Kendati demikian, dalam percakapan sehari-hari masyarakat Maroko masif menggunakan bahasa Arab-Darija dalam berbagai lini kehidupan mereka. Dengan Rabat sebagai ibu kota negara, Maroko memiliki dirham sebagai mata uang resmi. Berbeda dengan kebanyakan negara Afrika pada umumnya, negara yang sepak bolanya dijuluki Singa Atlas ini memiliki 4 musim dalam setahun; musim panas, musim gugur, musim dingin, dan musim semi—dengan frekuensi waktu 3 bulan untuk tiap musim.

Sebagaimana Madilog hadir dalam wujud kunci untuk membuka dan menyingkap gaya berpikir Tan, maka ‘3 poin’ di bawah ini hadir dalam memahami seluk-beluk pendidikan tinggi di Maroko—sekali lagi, 3 poin penting:

1. Ta’lim ‘Ali, adalah institusi pendidikan tinggi di bawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset Kerajaan Maroko. Sebagaimana universitas pada umumnya, institusi Ta’lim ‘Ali menyediakan beberapa program rumpun ilmu sosial-humaniora, sains dan teknologi, bisnis, dan masih banyak lagi. Akan tetapi awardee beasiswa Kerajaan Maroko jalur Kemenag telah ditentukan dari awal untuk program studi islam.

2. Ta’lim ‘Atiq, merupakan institusi yang berfokus kepada pengajaran ilmu keislaman, yang mana institusi ini berdiri di bawah naungan Kementerian Wakaf dan Urusan Keislaman Kerajaan Maroko.

3. Jami’ah al-Qarawiyyin, universitas tertua di dunia yang diakui oleh UNESCO, berdiri di bawah naungan Kementerian Wakaf dan Urusan Keislaman Kerajaan Maroko. Universitas al-Qarawiyyin juga menaungi 5 institusi cabang (al-Muassasat at-Tabi’ah) yang tersebar di beberapa kota di Maroko, antara lain: Institut Dar El Hadith El Hassania, Institut Ilmu Qira’at dan Studi al-Qur’an Muhammad VI, Madrasah al-Ulum al-Islamiyyah, Jami’ al-Qarawiyyin, dan Institut Kaderisasi Imam atau Ulama Muhammad VI.

Menyadur salah satu lirik lagu Roma Irama, “Banyak jalan menuju Roma,” begitu juga jalur belajar di Maroko yang terdapat lebih dari satu jalan. Mulai dari beasiswa Kerajaan Maroko melalui Kementerian Agama RI, beasiswa Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), beasiswa Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah), juga jalur MoU (Kerja Sama Antar Instansi). Jalur-jalur di atas merupakan program yang diperuntukkan untuk strata 1 (S1) dengan beberapa klasifikasi seperti kemampuan bahasa Arab—kalam, mufrodat, qawa’id, dan fahm al-maqru’, kemampuan bahasa Inggris, hafalan al-Quran, kemampuan baca kitab kuning, dan beberapa syarat lainnya.

Dan pada akhirnya, empat jalur di atas telah menyunting kekasihnya masing-masing—dimohon untuk pembaca yang budiman agar mengingat dan memahami terlebih dahulu 3 poin penting yang telah lalu. Jalur Kemenag telah berkawin dengan institusi Ta’lim ‘Ali, lalu jalur PBNU meminang institusi Ta’lim ‘Atiq, dan jalur PP Muhammadiyyah menggandeng salah satu institusi cabang (al-Muassasat at-Tabi’ah). Maksud dari kata ‘berkawin’, ‘meminang’, dan ‘menggandeng’ di sini bahwa awardee tiap jalur beasiswa tersebut akan melanjutkan studi di institusi-institusi pendidikan sesuai dengan yang telah tertera di atas—mulai dari Ta’lim ‘Ali, Ta’lim ‘Atiq, ataupun Jami’ah al-Qarawiyyin.

Tidak bisa dipungkiri, konsistensi belajar merupakan salah satu senjata paling ampuh dalam menerobos ilalang-ilalang ketidaktahuan dan keraguan. ‘Keseimbangan’. Rasa ingin tahu dan praksis belajar merupakan dua hal yang lain sama sekali. Keduanya harus berjalan beriringan, bersamaan, dan berdekatan. Keduanya sangat membenci ketimpangan satu sama lain, layaknya si komunis yang membenci si kapitalis totok, tidak boleh ada ketimpangan dan ketidakseimbangan, seperti si miskin dan si kaya dalam satu komune. Maka demikian, PPI Maroko dengan Mizyan (bimbel persiapan tes masuk Maroko) turut hadir dalam membantu mewujudkan keseimbangan antara rasa ingin tahu dan praksis.

Ikuti kegiatan kami lewat instagram, @ppimaroko dan @mizyan.ma

Simak artikel terbaru kami,

Tag Post :
Berita

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *