Jika membaca tidak langsung membuat seseorang sukses, mengapa hal itu tetap menjadi fondasi yang penting?
“Bangsa yang kuat adalah bangsa yang warganya gemar membaca dan mau belajar sepanjang hidup.”– Anies Baswedan
Jika kalian melihat seseorang yang membaca di negara ini, yup, dia adalah makhluk langka. Faktanya, UNESCO menyebutkan indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya berada pada angka 0,001 atau dari 1.000 orang Indonesia hanya 1 orang yang rajin membaca. Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo) dalam laman resminya juga pernah merilis hasil riset bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu. Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat membaca. Angka ini menunjukkan betapa minimnya literasi di Indonesia dibandingkan negara-negara lain. Hal ini dibuktikan pula oleh budaya masyarakat Indonesia yang pada umumnya “nanya dulu sebelum baca, bukan baca dulu baru nanya.”
Jika kita melihat negara-negara maju seperti Singapura (peringkat ke-36 World’s Most Literate Nations) dan Finlandia (peringkat pertama World’s Most Literate Nations), terlihat jelas bahwa kemajuan sebuah negara itu dapat dilihat dari tinggi rendahnya tingkat literasi di kancah internasional.
Untuk itu, mari kita bahas apa saja penyebab minimnya literasi. Dikutip dari buku World Literacy karya John W. Miller, terdapat 4 dimensi yang memengaruhi minat baca suatu masyarakat:
1. Proficienccy (kemahiran atau kemampuan memahami teks bacaan)
2. Access (ketersediaan fasilitas untuk mendapatkan sumber literasi)1
- Data jumlah perpustakaan Indonesia tahun 2018:
a. 113.541 perpustakaan sekolah (68,98%)
b. 42.460 perpustakaan umum (25,79%)
c. 8.806 perpustakaan lainnya (5,23%)
Total: 164.610 perpustakaan ↩︎
3. Alternatives (ketersediaan sumber literasi alternatif berbasis teknologi)
4. Culture (norma atau budaya masyarakat terhadap kegiatan membaca)
Di sini aku ingin menekankan poin keempat, yaitu budaya. Terkadang orang yang membaca buku justru dikomentari, “emang buku bisa apa?” atau orang yang membagikan ilmu dianggap “sok alim.” Maka dari itu, hentikan normalisasi semacam ini karena dapat menurunkan mental seseorang dan memperpanjang budaya minimnya literasi di Indonesia. Akhirnya, kondisi ini melahirkan generasi yang merosot.
Lalu, apa saja manfaat membaca buku?
1. Membantu memahami materi pelajaran
2. Buku pelajaran dan literatur pendukung dapat memperjelas konsep yang sulit dipahami.
3. Memperbaiki tata bahasa
4. Seseorang dapat berbicara dengan baik jika ia dapat menulis dengan benar, dan kemampuan itu berawal dari membaca.
5. Memudahkan interaksi dan diskusi
6. Seseorang yang dapat mengikuti berbagai topik biasanya memiliki wawasan literasi yang luas.
7. Membuat waktu luang lebih produktif
Membaca adalah kegiatan yang lebih bermanfaat dibandingkan scroll media sosial dan dapat mengurangi penggunaan gadget secara berlebihan.
Manfaat ini tidak bisa dipungkiri kebenarannya. Banyak tokoh besar yang tidak bisa jauh dari buku, di antaranya:
1. Bill gates: 50 buku dalam setahun
2. Mark Zuckerberg:1 buku baru tiap 2 minggu
3. Muhammad hatta: koleksi 30.000 buku
4. Warren buffet: menghabiskan 80% waktunya dalam sehari untuk membaca
5. Anthony robbins: 700 buku dalam satu tahun
Dalam pembahasan inti “bagaimana cara menumbuhkan minat baca?”, terdapat dua cara:
1. Mencari masalah (memikirkan sesuatu yang belum diketahui)
Solusinya adalah mencari mentor yang sesuai dengan kebutuhan, jika tidak menemukannya, maka jalan terbaik adalah mencari jawabannya melalui buku, karena buku menawarkan banyak hal yang kita cari–termasuk solusi dari berbagai persoalan.
2. Mulailah dari buku yang kita sukai
Ketika kita mulai dari hal yang kita sukai, entah itu sejarah, novel, biografi, dan sebagainya, otak akan melepaskan dopamin yang memicu perasaan senang. Efeknya membaca terasa ringan dan tidak membosankan. Sederhananya: Suka dulu →Mulai terbiasa→Mulai penasaran→Naik ke genre lain yang lebih berat.
Kesimpulannya, literasi adalah fondasi utama bagi kemajuan bangsa. Dengan membaca, kita dapat memperluas wawasan, memudahkan interaksi sosial, dan meningkatkan kualitas hidup. Meskipun membaca tidak secara langusng membuat seseorang sukses, kebiasaan inilah yang membuka pintu menuju kehidupan yang lebih baik.
Ikuti kegiatan kami lewat instagram @ppimaroko
Simak artikel terbaru kami,