Pernah dengar cerita tentang seniman yang memotong telinganya sendiri? Seniman yang mengalami depresi tapi dia malah menumpahkan kegelisahannya dengan melukis?
Vincent William Van Gogh, atau yang biasa disebut Van Gogh. Pelukis Starry Night−mungkin lukisannya tidak terkenal seperti Monalisa karya Leonardo da Vinci atau tidak sefamiliar lukisan Raden Saleh. Lukisannya sederhana, hanya langit malam yang bertabur bintang dengan warna biru gelap dengan aksen warna yang tegas, dan sedikit pemandangan desa kecil. Tapi siapa sangka, ternyata lukisan itu adalah ungkapan dari sakit di kejiwannya.
Van Gogh adalah pelukis yang lahir di Belanda, pada 30 Maret 1853. Dia memiliki satu adik bernama Theodorus Van Gogh. Dan dia adalah salah satu orang yang sangat menyayangi Van Gogh.
Selama hidupnya dia telah menghasilkan 870 lukisan, dan 43 potret diri. Dia juga menulis 650 surat untuk adiknya, Theo. Theo membalasnya dengan 41 surat. Adiknyalah yang memberikan pemasukan untuk Van Gogh di akhir hidupnya. Dia juga sangat mendukung kakaknya dalam karir di bidang seni.
Berawal ketika dia bekerja di Firma Goupil & Cie di Den Haag pada tahun 1869. Lalu dipindahkan ke London pada 1873, kemudian diberhentikan di firma ini pada tahun 1876.
Setelah dipecat, dia tertarik di bidang religius, dia menjadi pendeta yang mengajar di sekolah asrama bagi orang-orang yang kurang mampu. Di tahun 1877 dia mulai bosan, di tahun ini Van Gogh mulai tertarik dengan seni, dia mulai menggambar sketsa dan bentang alam.
Pada tahun 1882 dia bertemu sepupunya, Anton Mauve (Pelukis terkemuka saat itu). Mauve memberikan dorongan ke Van Gogh untuk semangat melukis dan membantu membangun studio pertama untuknya. Theo juga membantu dengan mengirim perlengkapan melukis dan cat minyak. Saat itu cat minyak mahal, dan Van Gogh menggunkannya dengan baik. Dalam surat-suratnya, Van Gogh menunjukkan ketertarikannya pada eksplorasi cat minyak.
Seiring berjalannya waktu, kemampuan Van Gogh meningkat dan lukisannya semakin bagus. April 1885 ia melahirkan karya kanvas pertamanya, The Potato Eaters. Dia mulai bereksperimen dengan warna terang.
1886- Van Gogh pindah ke Paris, hidup dengan adiknya, Theo. Ia mengunjungi banyak galeri dan mempelajari gaya lukisan impresionism. Dia masih melukis dan melukis. Sayangnya tidak mudah baginya untuk membuat karyanya terpajang di sebuah pameran. Di suatu pameran seni modern yang berisikan lukisan-lukisannya dan lukisan teman-temannya seperti Paul Gauguin, Henri de Touluse, dll. Beberapa karya terjual, tapi tidak dengan karyanya.
1888- ia pindah ke Arles, selatan Prancis. Lukisannya di periode ini tidak terhitung banyaknya. Bisa dibilang ini masa yang produktif di karirnya. Dia tertarik dengan cahaya matahari di Prancis selatan, dia menggunakan warna palet yang terang dan mencolok. Salah satu karyanya yang terkenal di masa ini adalah Terrace Café at Night dan The Sunflower. Di tahun ini pula, dia berkeinginan untuk membuat sebuah komunitas melukis dengan Paul Gauguin dan Emile Bernard. Gauguin datang ke Arles, dia dan Van Gogh saling mempengaruhi satu sama lain, warna terang di lukisan Van Gogh digunakan oleh Gauguin dan Gauguin mendukung eksperimen-eksperimen Van Gogh.
Sayangnya, di beberapa hal mereka berdua berbeda pendapat sampai berselisih hebat. Gauguin menganggap bahwa imajinasi bisa datang darimana saja, entah di dalam ruangan atau luar ruangan. Tapi van Gogh berimajinasi ketika ia melihat alam, dan saat itu memang dia banyak melukis tentang alam luar. Dan sebelum Gauguin meninggalkan Van Gogh dia sempat berkata ke Van Gogh bahwa telinganya itu tidak pernah berguna, karena ia tidak pernah mendengarkan ucapan Gauguin, Dan Gauguin masih bersikeras bahwa orang yang tak bisa berimajinasi dalam kondisi apapun ia bukan pelukis. Setelah Gauguin meninggalkan Van Gogh, Van Gogh memotong telinganya. Di sini mulai jelas kalau Van Gogh itu overthinker, sampai dia menuruti Gauguin bahwa telinganya memang tidak berguna, maka itu dia memotongnya. Setelah kejadian iu pun kesehatan fisiknya memburuk, dia terserang demam dan kurang gizi, dokter juga mengklaim bahwa ia terkena depresi.
1889- dia dirawat di rumah sakit jiwa Saint Remy. Ia diperbolehkan melukis di sana. Dia masih merasa bersalah dan tidak mendengarkan Gauguin, dia juga merasa bersalah karena selalu merepoti adiknya. Di tahun itu, adiknya mengirimi surat ke kakaknya bahwa ia akan menikah. Van Gogh semakin merasa bersalah lagi karena ia tidak bisa menghadiri momen spesial adiknya. Dia divonis mengidap epilepsi dan skizofrenia. Dan kabar baiknya dia masih diperbolehkan melukis di rumah sakit.
Layaknya mentalnya, palet warna yang digunakan di tahun ini meredup. Tapi dia tetap melukis, konon dikatakan bahwa dia melukis setidaknya ada satu lukisan di setiap harinya. Setelah terbukti cukup sehat, serangan mental pernah menyerangnya, hingga suatu saat dia memakan cat minyaknya. Terdengar kasihan memang, tapi fakta menariknya dia tetap setia untuk melukis, apapun yang terjadi padanya. Sakit fisik saja, atau sakit mental saja sudah melelahkan bukan. Tapi Van Gogh yang divonis mengidap keduanya, dia tetap melukis.
Hingga pada 27 Juli, ketika ia melukis di sebuah padang, dia terkana serangan mentalnya lagi, kemudian ia menembak dirinya sendiri dengan pistol. Lukisan Starry Night yang kita kenal sekarang, adalah lukisannya di akhir hidup Van Gogh, dia melukis ini karena terinspirasi dari pemandangan di jendela kamar rumah sakit jiwa. Dan setelah diteliti oleh para seniman, desa kecil yang ada di bawah langit ternyata bukan pemandangan aslinya, itu adalah ingatan van gogh terhadap desanya di Belanda. Di salah satu suratnya Van Gogh bilang: “Why, I ask myself, shouldn’t the shinning dots of the sky be as accessible as the black dots on the map of France. It often seems to me that the night is more alive and more richly colored than the day. Looking at the stars always makes me dream, as simply as I dream about the black dots representating towns and villages on a map”.
Begitulah Van Gogh, dia merepresentasikan imajinasinya ke lukisan. Dan di hidupnya yang singkat, mungkin yang ia sayangi hanya adiknya dan melukis. Di awal karirnya, ia sering berpindah kerja, dari pegawai ke pendeta. Dia juga sering berpindah tempat tinggal. Tapi jiwanya terhadap melukis tidak pernah pindah. Sakit fisik, mental, overthinking, dirawat di rumah sakit jiwa ia tetap melukis.
Mungkin jika Van Gogh memiliki selamanya ia tetap melukis. Nosstress di liriknya mengatakan: Karena semua yang kau cinta akan pergi, maka tunjukkan cintamu sebelum terlambat. Cinta Van Gogh ke melukis tidak akan pergi, tapi dia yang pergi lebih dulu. Dan dia berhasil menunjukkan cintanya sebelum dia pergi. Van Gogh pikir dia punya banyak waktu.
Ikuti kegiatan kami lewat instagram @ppimaroko
Simak artikel terbaru kami,