Bencana Banjir: Ketika Alam Bicara dan Al-Qur’an Menjawab

Banjir bukan sekadar air yang meluap.

Beberapa waktu terakhir, saudara-saudara kita di berbagai wilayah Sumatera kembali diuji dengan bencana banjir. Air meluap ke pemukiman, merendam rumah, memutus akses jalan, bahkan merenggut mata pencaharian serta kenyamanan hidup masyarakat. Bagi sebagian orang, banjir mungkin dianggap sebagai peristiwa rutin tahunan. Namun, jika kita jujur dan merenung lebih dalam, banjir bukan sekadar air yang meluap, melainkan sebuah pesan yang patut kita dengarkan bersama.

Banjir tidak terjadi begitu saja. Ia bukan tamu yang datang tanpa sebab. Di balik genangan air, terdapat rangkaian peristiwa alam dan perilaku manusia yang saling berkaitan. Di sinilah pentingnya kita memahami bencana banjir tidak hanya dari sisi fisik dan teknis, tetapi juga dari sisi makna dan hikmah.
Secara ilmiah, banjir terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung dalam durasi tertentu. Padahal, hujan sejatinya adalah rahmat. Air hujan diturunkan Allah untuk menghidupkan bumi, menyuburkan tanaman, dan menopang kehidupan. Lalu, mengapa hujan yang seharusnya membawa berkah justru berubah menjadi bencana?

Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa beberapa wilayah di Sumatera mengalami curah hujan ekstrem akibat pengaruh dinamika atmosfer dan bibit siklon tropis. Hujan deras ini meningkatkan volume air secara cepat, sehingga sungai dan drainase tidak mampu menampungnya. Akan tetapi, para ahli sepakat bahwa hujan saja tidak cukup menjelaskan besarnya dampak banjir yang terjadi.

Pakar geospasial dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Heri Andreas, mengungkapkan bahwa kerusakan lingkungan memiliki peran besar dalam memperparah banjir. Penebangan hutan, alih fungsi lahan secara masif, pembangunan tanpa perencanaan lingkungan, serta menyempitnya daerah resapan air membuat air hujan tidak lagi terserap ke dalam tanah. Akibatnya, air langsung mengalir di permukaan dan menuju sungai dalam waktu singkat. Sungai pun meluap, dan banjir tak terelakkan.

Jika kita perhatikan, penjelasan ilmiah ini sejatinya sejalan dengan apa yang telah lama disampaikan oleh Al-Qur’an. Jauh sebelum manusia mengenal istilah ekosistem, daya dukung lingkungan, atau pembangunan berkelanjutan, Al-Qur’an telah mengingatkan manusia agar tidak merusak keseimbangan alam.

Al-Qur’an dan Alam: Hubungan yang Tak Terpisahkan

Dalam pandangan Islam, alam bukan sekadar objek yang boleh dieksploitasi sesuka hati. Alam adalah ciptaan Allah yang diamanahkan kepada manusia. Manusia diberi peran sebagai khalifah fil ardh, yakni pemimpin dan pengelola bumi. Artinya, manusia memiliki peran yang sangat penting untuk menjaga dan bertanggung jawab.

Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”(QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini terasa sangat relevan dengan kondisi saat ini. Kerusakan di darat dan di laut bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari akumulasi perilaku manusia. Dalam salah satu redaksi kitab tafsir mu’ashoroh Al Muyassar dijelaskan bahwa kerusakan muncul di darat dan laut–seperti hujan, kurangnya hujan, serta munculnya penyakit dan wabah–terjadi akibat dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia. Hal ini merupakan bentuk peringatan agar meanusia bertobat dan kembali kepada Allah.
 Dalam kacamata Sains, ketika hutan ditebang tanpa kendali, sungai dijadikan tempat pembuangan limbah, dan lahan hijau diubah menjadi beton tanpa memperhatikan keseimbangan alam, maka sesungguhnya manusia sedang menyiapkan panggung bagi datangnya bencana.

Banjir, dalam konteks ini, bukan hanya fenomena alam, melainkan juga refleksi dari hubungan manusia dengan lingkungannya. Al-Qur’an tidak memandang bencana semata-mata sebagai hukuman, tetapi juga sebagai peringatan agar manusia mau kembali, merenung, dan memperbaiki diri.

Belajar dari Kisah Kaum Terdahulu.

Al-Qur’an juga mengisahkan peristiwa banjir besar yang menimpa umat-umat terdahulu. Salah satu kisah yang relevan adalah banjir besar yang menimpa kaum Saba’.

Kaum Saba’ dikenal sebagai masyarakat yang hidup makmur. Mereka memiliki kebun-kebun yang subur dan sistem pengairan yang maju. Namun, kemakmuran tersebut membuat mereka lupa bersyukur dan enggan menaati perintah Allah. Akibatnya, bendungan mereka runtuh dan banjir besar pun melanda.
Allah Swt. berfirman:

“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi pohon-pohon yang berbuah pahit…”(QS. Saba’: 16)
Kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin bagi manusia sepanjang zaman. Ketika manusia berpaling dari nilai-nilai kebaikan, mengabaikan amanah, dan merusak keseimbangan alam, kemakmuran bisa berubah menjadi malapetaka.

Antara Takdir dan Ikhtiar.

Sering kali, ketika bencana terjadi, muncul ungkapan, “Ini sudah takdir.” Pernyataan ini benar, tetapi belum utuh. Dalam Islam, takdir tidak meniadakan ikhtiar. Justru manusia diperintahkan untuk berusaha, mencegah kerusakan, dan meminimalkan risiko.
Banjir mungkin bagian dari takdir Allah, tetapi penyebab dan dampaknya sangat dipengaruhi oleh perbuatan manusia. saluran air tersumbat sampah, hutan yang gundul, serta tata kota yang tidak teratur merupakan contoh kontribusi manusia dalam memperbesar risiko bencana.

Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar. Setelah berusaha menjaga lingkungan, barulah manusia bertawakal kepada Allah. Sebaliknya, menyerahkan segalanya pada takdir tanpa usaha hanyalah bentuk kelalaian yang dibungkus dengan dalih religius.

Ilmu Pengetahuan dan Wahyu: Dua Jalan yang Bertemu.

Ilmu pengetahuan modern memberikan manusia sarana untuk memahami penyebab banjir dan cara menguranginya. Teknologi pemetaan, sistem peringatan dini, pengelolaan daerah aliran sungai, serta perencanaan tata ruang yang baik adalah bentuk ikhtiar manusia dalam menghadapi bencana.

Namun, ilmu pengetahuan saja tidak cukup tanpa kesadaran moral. Di sinilah peran wahyu menjadi penting. Al-Qur’an mengajarkan nilai tanggung jawab, keadilan, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.

Ketika ilmu dan wahyu berjalan beriringan, penanganan bencana tidak hanya bersifat reaktif, melainkan juga preventif, yaitu mencegah sebelum bencana datang.

Belajar dari Bencana: Membangun Kesadaran dan Ketangguhan.

Banjir yang melanda Sumatera seharusnya menjadi momentum pembelajaran bersama. Bencana mengajarkan bahwa manusia saling terhubung, baik satu sama lain maupun dengan alam. Kerusakan di satu wilayah dapat berdampak luas bagi kehidupan banyak orang.

Meningkatkan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan, menjaga sungai, melestarikan hutan, dan mendukung kebijakan yang ramah lingkungan adalah langkah-langkah kecil yang berdampak besar.
Selain itu, ketangguhan masyarakat juga perlu dibangun melalui edukasi kebencanaan, kesiapsiagaan menghadapi banjir, serta penguatan solidaritas sosial. Dalam Islam, membantu korban bencana adalah bagian dari amal saleh dan wujud nyata kepedulian sosial.

Mendengar Pesan di Balik Genangan.

Banjir bukan hanya tentang air yang meluap, melainkan tentang pesan yang ingin disampaikan. Alam seolah berbicara, dan Al-Qur’an telah lama memberikan jawabannya. Kerusakan lingkungan, keserakahan, dan kelalaian manusia memiliki konsekuensi yang nyata.

Semoga bencana ini tidak hanya meninggalkan luka dan kerugian, tetapi juga melahirkan kesadaran baru: bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah, bahwa ilmu dan iman harus berjalan beriringan, dan bahwa manusia memiliki tanggung jawab besar sebagai penjaga bumi.

Dengan demikian, kita tidak hanya berdoa agar banjir segera surut, tetapi juga berkomitmen agar bencana serupa tidak terus berulang di masa depan.

Ikuti kegiatan kami lewat instagram @ppimaroko

Simak artikel terbaru kami,

Tag Post :

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *