Sahur dan Puasa Perspektif Teori Struktural Psikoanalisis Freudian

Puasa adalah ibadah wajib setahun sekali bagi umat Islam di seluruh dunia yang dilaksanakan pada bulan Ramadan setiap tahunnya sesuai penanggalan Hijriah. Puasa adalah kegiatan menahan diri dari melakukan hal-hal pembatalnya, seperti makan, minum, dan berhubungan badan dari terbit fajar sampai waktu magrib.

Sudah maklum diketahui puasa adalah hal penting bagi muslimin di seluruh dunia lintas tempat dan zaman. Ulama, ilmuwan, cerdik pandai, dan cendikiawan muslim, sudah menulis ratusan ribu halaman—mungkin jutaan—bahasan tentang puasa dari berbagai perspektif keagamaan; fikih, akhlak, ayat-ayat yang berkaitan dengannya, dan lain-lain. Para ulama dan ilmuwan memang sudah banyak membahas mengenai puasa, tapi tentu bukan berarti pembahasan tentang ibadah spesial ini akan berhenti dan selesai. Maka dalam tulisan ini mari kita lihat puasa dari perspektif teori struktural psikoanalisis Freudian.

Psikoanalisis Freudian adalah sebuah mazhab psikologi yang dicetuskan oleh Sigmund Freud. Ia adalah seorang ahli psikologi asal Austria yang dikenal sebagai pendiri aliran atau mazhab psikoanalisis. Psikoanalisis adalah aliran dalam psikologi yang menekankan bahwa sebagian besar proses mental dalam kepribadian manusia terjadi di luar kesadaran kita. Dalam kata lain, sebagian besar dari tindakan kita adalah hasil dari apa yang terjadi dalam alam bawah sadar.

Freud memperkenalkan sebuah teori untuk menjelaskan kepribadian manusia yang disebut dengan teori struktural (structural theory). Dalam teorinya ini, Freud mengemukakan gagasan bahwa kepribadian terdiri dari tiga bagian: id, ego, dan supergo.

Id adalah bagian dari struktur kepribadian yang terletak di bawah level kesadaran dan didorong oleh prinsip kesenangan (pleasure principle) yang berusaha memenuhi kebutuhan dasar tanpa memedulikan moralitas dan konsekuensi. Singkatnya, id adalah bentuk keinginan naluriah dan instingual. Sebagai contoh, seseorang yang kehausan, lalu menemukan air, akan langsung meminumnya tanpa pertimbangan air itu bersih atau tidak dan apakah dia berhak meminumnya atau tidak.

Superego adalah bagian dari kepribadian yang memegang peranan menjaga moral dan nilai yang dimiliki oleh seseorang sebagai pertimbangan dalam melakukan sesuatu. Sebagai contoh, seseorang siswa yang menolak untuk curang dalam tes karena merasa itu tindakan yang tidak sesuai dengan nilai yang dipegangnya.

Terakhir, ego adalah jembatan antara id dengan superego yang berjalan berdasarkan prinsip realitas (reality principle), yang mengakui kebutuhan dan dorongan yang diberikan oleh id, tapi juga mempertimbangkan nilai dan konsekuensi realistis dari tindakan yang dimunculkan superego. Sebagai contoh adalah seorang yang memilih untuk menabung saat ingin membeli barang mewah daripada berhutang. Ego menjadi jembatan antara keinginan membeli barang mewah untuk aktualisasi diri (id), dengan nilai berhutang adalah hal dan keputusan buruk (superego).

Puasa dari tinjauan teori struktural ini bisa kita lihat sebagai sebuah perbuatan yang dihasilkan oleh tiga bagian kepribadian ini. Dalam definisi puasa sebagai penahanan diri dari pembatalnya, seperti makan, minum, dan berhubungan badan yang jelas merupakan hasrat naluriah dan instingual yang hanya berlandaskan pleasure principle id, kita dapat melihat bentuk kerja dari superego untuk menahan id dari berperilaku tanpa nilai dan moral agama Islam yang mewajibkan menahan diri dari semua itu. Namun, bukan berarti dengan berpuasa kita mengabaikan kebutuhan biologis dan hasrat naluriah, di sinilah ego bekerja.

Dalam puasa kita mengenal konsep yang disebut dengan sahur, yaitu makan pagi yang dilakukan sebelum terbit fajar untuk penguatan tubuh sebelum berpuasa. Sahur di sini bisa dilihat sama dengan contoh yang disebutkan sebelumnya bahwa ia adalah jembatan antara id dan superego. Id yang memunculkan hasrat naluriah dan instingual dari kepribadian yang ingin makan dan minum. Superego yang memegang nilai dan moral dari agama Islam bahwa harus menahan diri dari makan dan minum.

Dari sini bisa kita lihat bahwa puasa dalam Islam sesuai dengan teori struktural. Perintah untuk menahan keinginan naluriah dan instingual id demi nilai dan moral superego, dalam Islam, diberikan jalan tengah dengan sebuah kegiatan bernama sahur yang sesuai dengan konsep ego dalam teori struktural psikoanalisis Freudian. Sahur bekerja dengan reality principle yang mengakomodasi keinginan naluriah dengan pertimbangan konsekuensi moral.

Nantikan promo-promo menarik di PPI Shop

Dapatkan Info-info terkini dari PPI Maroko

Tag Post :
Minggu-an Menulis

Bagikan Artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer